Abcdefg

Abcdefg
Inara Baron


__ADS_3

^^^pada akhirnya orang yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu nya, bahkan setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya tidak akan merasa bahagia dengan hidupnya. Dinding itu begitu tebal dan tinggi, sulit untuk ditembus. Pembenci akan tetap menjadi pembenci jika tidak bisa berdamai dengan dirinya dan masa lalunya^^^


...•••...


"Pagi" dia menyapaku dengan suara ceria. melangkahkan kakinya dengan ringan, tas selempang dengan rambut terurai menambah kesan riangnya


Aku tersenyum manis melihat penampilannya hari ini


"Pagi juga. Mau langsung berangkat?" Pertanyaanku dijawab denngan anggukan


Kami menaiki bis kota. Dengan tujuan pondok indah, Jakarta Selatan. Kami duduk berdampingan di dalam Bus.


"Srekk" Carina tertidur di bahu kananku. Ini baru berangkat, tapi sepertinya dia tidur sedikit malam tadi.


Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa berkecamuk dalam dadaku sekaligus berusaha tetap menstabilkan raut wajahku. Aku menahan senyun dengan dagu sedkit diangkat dan urat leher tercetak jelas


Jika kalian pernah menonton film dengan genre aksi dimana ketua geng sekolah menantang geng sekolah lainnya, seperti itulah raut wajahku sekarang. orang orang di dalam bis melirik lirik iri kepadaku


Apa mereka mengira kami sepasang kekasih yang sedang menjalin cinta monyet? aku mendengus kasar, mengerti arti tatapan mereka. Mungkin besok besok aku dan gadis cantik disampingku bisa menjadi pasangan


Aku terkekeh geli kepada pikiranku sendiri. Kami baru 1 minggu bertemu dan bisa bisanya aku sudah berpikiran seperti itu.


Jidatku melipat. Memikirkan apa yang akan kukatakan disaat bertemu kakekku. Apa aku harus menceritakan kisahku selama ini? apa yang sudah kuperbuat? atau aib Ayahku?


Aku memijit dahiku. Bagaimana jika Kakek mendidik Ayah seperti itu juga? dan menganggap sifat ayah itu biasa saja dan menganggap aku sudah mencoreng nama keluarga Baron?


kuhela nafas sebentar. Itu mungkin saja. Tapi aku sudah mengunpulkan keberanian. jadi tidak ada salahnya mencoba. Terserah apa yang menantiku nanti jika Kakek memberitahu tentang ku kepada Ayah. Mungkin nanti nanti aku bisa memikirkan jalan keluarnya


...***...


Aku turun dari bis diikuti oleh Carina dibelakangku. Kami berdua berjalan memasuki Jalan kecil sebelum bertemu dengan rumah megah tingkat 3. Aku menatap bangunan dengan nuansa Abu abu itu. Gerbang yang tinggi menambah kesan megahnya rumah itu


Beso besi itu berderit saat aku membuka gerbangnya. Pemandangan pertama yang kulihat ada kolam kecil dengan patung ikan di tengahnya. Suasana yabg familiar bagiku. Disaat seperti ini aku malah sedikit bimbang

__ADS_1


"Kamu gak papa?" Carina menepuk bahuku pelan dari belakang. Aku tersenyum kecut sembari mengangguk


Aku berjalan sedikit menuju pintu masuk rumah megah itu. Pintu yang terukir motif motif yabg tak kutahu apa itu menambah kesan megah rumah itu. Kepencet tombol disamping pintu masuk itu. Tiga kali tekan ada suara dari dalam. Suara yang akrab di telingaku.


"Krek..." Pintu masuk itu terbuka dan tampak sesosok wajah yang tak pernah kujumpai sejak 5 tahun. Garis wajahnya tegas persis seperti Ayahku dan aku.


"Fabian?" dia mengerenyut heran melihat sosokku dihadapannya. sebelum melanjutkan ucapannya


"Masuklah, kau kini datang bersama pacarmu?"


Aku menggeleng cepat


"Dia temanku kek, sekaligus rekan kerjaku"


"Kamu masih SMA, apa Ayah mu itu menyuruhmu bekerja heh? kalau kami menyebut gadis disamping mu itu orang yang kau suka atau kekasihmu aku lebih percaya itu" dia terkekeh sambil duduk di kursi tamu


Aku tertegun sebentar sebelum menjawab ucapannya


"Aku serius kek! mungkin nanti nanti kakek akan atau penjelesannya" Aku menggeleng pelan dan sosok didepanku hanya manggut manggut


"Siapa nama gadis ini?" Aku hendak mengangkat suara sebelum kakek menatapku menyuruhku diam. Itu bukan pertanyaan untukku


"Saya Carina.."


"Panggil saja saya Kakek seperti Fabian" Kakek cepat cepat menyambung ucapan Carina. Dia manggung manggut sebelum menoleh ke arahku lagi


"Ku dengar kamu pergi keluar negeri untuk bersekolah sampai kamu resmi jadi Direktur baru" Dia termenenung sebentar


"Memang benar, media berita sekarang tidak bisa dipercaya sepenuhnya, apa kamu kabur?" Aku mengangguk sebagai balasan pertanyaanya


"Bagaimana caranya kau bisa kabur? Ayahmu itu pasti akan menemukanmu dengan mudah, ditambah kau sepertinya kabur tidak jauh dari rumah. bahkan kurasa masih di provinsi yang sama"


Aku tersenyum simpul. Sepertinya aku harus menjelaskan semuanya. Aku menjelaskannya secara rinci. sekali kali Carima menambahkan bagian dari ceritaku. Kakek mengehla nafas setelah mendengar penjelasan lengkap dari ku

__ADS_1


"Kakek, aku ingin bertanya apa kakek membesarkan Ayah seperti Ayah membesarkanku?" Jujur aku sedikit takut menanyakan ini kepadanya


"Tidak, Sudah 5 tahun kita tidak bertemu. Saat kau masih berumur 10 tahunan, Ayahmu itu berkata dia membesarkan kau dengan sangat amat baik. Dia berkata bahwa dia memberikan kasih sayang dan perhatiannya. Aku lega mendengarnya. Lega karna kau dibesarkan dengan baik dan sekaligus lega karna saat itu kupikir dia telah berubah"


Kakek meneguk kopi hitam itu. Berubah? apa maksudnya? Kakek terdiam sebentar sementara aku menunggu kelanjutan ceritanya


"Aku memiliki 2 anak. Satu perempuan, kakak Ayahmu dan satu lagi Ayahmu itu. Sejak kecil dia membenci kakaknya karna dengan asalan kakaknya itu lebih pintar dari nya. Anak perempuanku itu baik budinya, rupawan wajahnya, dan otaknya juga berisi. Dan ayahmu itu tidak menyukai itu." Kakek menggeleng pelan dan menarik nafas panjang


"Dia mengklaim berkali kali bahwa dia yang akan menjadi derektur selanjutnya. Tidak satu dua kali dia menyakiti kakak perempuannya. Sejak kecil dia sudah membenci kakaknya. Beranjak remaja dia sudah mulai berani bertindak kasar. Tidak jarang aku memarahinya tapi tidak sampai melukai fisiknya. Bagiku, wibawa seorang Ayah sudah hilang jika bertindak dengan kekerasan kepada anaknya. Dan Ayahmu sudah hilang akan hal itu"


"Kakaknya tidak bergeming sedikitpun. Bahkan dia tidak membenci Ayahmu. Saat banyak orang yang mencaci ayahmu dibelakang, dia lah yang menjadi temeng bagi Ayahmu. Hingga suatu saat dia pulang dengan tubuh penuh luka sehabis berantam dengan 3 oranag musuh adeknya."


Aku menahan nafas mendengarnya. Segitu baiknya kah kakak ayahku? Carina di sebelahku menatap kakek dengan antusias


"3 orang itu berniat menyerang Ayahmu. Entah apa alasannya. Dia berhasil mengalahkannya. Tentu saja, karna dia adalah sabuk hitam pencak silat dan menyabet medali emas tingkat nasional" Kakek terlihat bangga sekaligus miris


"Dia berhasil mengalahkannya tapi dia harus menerima cedera di pergelangan tangannya. dan dikualifikasi dari perlomabaan pencak silat internasional"


"Namun apa kau tau Fabian? Ayahmu malah terlihat senang dan tidak merasa bersalah. Dia berkata itu salahnya sendiri karna ikut campur dalam urusannya"


Saru hal yang kutangkap dari cerita Kakek saat ini adalah ' Ayah sudah lacknat sejak kecil'


"Kakakmu menolak tawaran Derektur dan memutuskan menikah dengan pria yang dicintainya. Dia mendirikan perusaahaan di luar negeri bersama suaminya. Suaminya tidak kaya. Dia hanya seorang pegawai dengan gaji hanya berkisar 7 juta perbualan. Mereka mendirikan perusahaan sendiri. Anakku itu memulai dari 0 kembali. 10 tahun kemudian disaat kamu berumur 12 tahun dan disaat ibumu meninggal, perusahaannya itu telah menggurita di dunia"


"Tidak ada pengusaha yang tidak mengenal perusahaannya. Itu menjadi perusahaan termuka dibumi ini. Neron Group. Itu nama perusahaan yang tantemu punya. Apa kalian mengenalnya?" Aku menelan ludah. tentu kami mengenalnya! Salah satu perusahaan raksasa dimuka bumi ini ternyata milik tanteku


"pada akhirnya Ayahmu tidak bisa berdamai dengan masa lalu nya. Bahkan setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Seberapa banyakpun orang yang memberi masukan kepadanya itu semua akan ditolak mentah mentah. Dinding itu begitu tebal dan tinggi, sulit untuk ditembus. Pembenci akan tetap menjadi pembenci jika tidak bisa berdamai dengan dirinya dan masa lalunya"


Aku dan Carina terdiam mendengar ucapan kakek. Kami tidak bisa membantahnya, bahkan celah sedikitpun tidak ada untuk menyangkalnya


"Nama anak perempuankudan kakak ayahmu sekaligus tantemu itu adalah Inara Baron"


__ADS_1


**HALOOOOOO......


Aku balik, gimana menurut kalian chapter ini??? tolong kritik saran dan pendapat kalian di komentar ya**.


__ADS_2