
*3 tahun yang lalu*
Malam itu tidak ada bintang maupun bulan, malam yang suram bagi 2 anak kecil kini sedang memeluk boneka
“ Fabian kemarilah nak, ada sesuatu yang membuat ibumu ini sangat penasaran, kenapa kau menyukai malam? Tidak ada yang menyukai malam. Malam itu gelap dan tidak secantik senja dan tidak juga seelegan matahari terbit, lalu mengapa kamu menyukai malam?” Wanita dengn nada bicara yang lembut itu menanyakan pertanyaan untuk putra semata wayangnya.
Dan jauh ditempat lain seorang wanita dengan wajah yang lembut menanyakan hal yang sama kepada putri tunggalnya
“Carina, mengapa kamu selalu menatap langit malam dengan tatapan mata seperti menatap sesuatu yang amat sangat berharga?”
Kedua anak yang dengan wajah lugu itu mengatakan hal yang sama dengan tatapan mata yang berbinar
"Karna malam itu manusia tidak berbohong lagi atas perasaan mereke ibunda, bulan akan menjadi teman yang menemani nnya untuk bersedih, dan bintang akan menjadi teman yang akan menghiburnya”
Itu bukan kalimat yang bisa diucapkan anak 13 tahunan, entah dari mana mereka mendapatkan jawaban yang luar biasa itu. Ibunda dari anak tersebut tersenyum
“ Ada bintang yang hilang dari langit, cari lah dan temukan dia. Di akan menjadi bintang yang akan menghiburmu dan menjadi tempat letak bahu mu bersandar jika kamu bersedih”
Entah kebetulan atau takdir yang membuat ibu dan anak tersebut mengatakan hal sama, tak ada yang peduli akan hal itu.
Wanita yang sekarang berada diatas tempat tidur itu mengecup dahi putranya untuk terakhir kali sebelum mata nya tertutup selamanya.
Ditempat lain wanita yang mengatakan hal yang sama ditemukan tidak bernyawa pagi hari di kamarnha, pergi setelah mengelus kepala anaknya dengan senyuman di wajah untuk terakhir kalinya
Malam itu sangat suram, gerimis pun mulai turun, menambah kesuraman pada 2 anak lugu itu
Temukanlah bintang yang hilang itu
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Tuan… anda mau kemana?” Bibi tergesa gesa berlari ke arahku. Raut wajahnya terlihat ingin menghentikanku
Aku sedang berjongkok mengikat tali sepatu, mendongak keatas melihat wajah pembantu yang memperlakukan aku seperti anaknua
“Bi, aku cuman sebentar kok, tiba tiba pengen keluar malam. tenang aja, aku dah dapat izin dari Ayah" Aku menepuk bahu bibi meyakinkannya
Aku memasang aerphone di telinga, mulai mendengarkan lagu. Aku mulai berjalan menyusuri jalan besar di Jakarta. Ini sudah malam, tapi padatnya kota besar itu tidak mengenal malam atau siang
Banyak yang kutemui malam ini, pemuda dengan mulut mengeluarkan asap rokok. Ibu dan anak nya yang makan di kaki lima. Pasangan yang baru jadian yang memasang wajah malu malu dan pria baruh baya yang pulang dari kantornya
aku melihat ke atas, ahh…hari ini tak ada bintang, kemana juga pergi bulan?
Aku lanjut menyususuri jalan perkotaan yang padat itu, belum terbesit niat untuk pulang ke rumah. hari ini tertanggal 25 Februari, ini hari ulang tahunku. Aku menghembuskan nafas berat. Ku naikkan 1 volume lagi dan lanjut mengikuti kemanapun kaki ku melangkah, tak tahu arah
Kaki ku terhenti, didepanku ada seorang gadis yang matanya sedang menatap langit dengan tatapan menatap sesuatu yang berharga. Disampingnya ada seorang anak kecil yang menarik narik belakang bajunya. Kulihat dia seperti tersentak, berbalik menatap wajah anak kecil itu
Di jarak seperti ini aku tidak bisa mendengar suara mereka, dia mengelus kepal anak kecil itu. Aku terenyuh melihat Ia menatap anak kecil itu dengan tatapan hangat, siapapun bisa merasakan itu. Terbesit rasa iri ku melihat anak kecil itu
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
“Kakak!!! Kakk!! KAK CARINAAA!!!!"
Aku tersentak mendengar namaku disebut. Aku menoleh ke samping
“kakak ngapain? Kakak sakit?” bella menatapku dengan raut wajah cemas
Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya
“Tidak…maaf tdi kakak melamun, masuklah kedalam rumah dulu, nanti aku menyusul. Ada yang ingin kulakukan. Cepatlah diluar dingin!” Aku menyuruhnya masuk terlebih dahulu.
Dia menatapku sebentar dengan raut cemas sebelum memutuskan mengangguk dan masuk ke rumah
"Hahh.."
"Malam telah tiba,apakah aku sudah boleh menangis? "
Aku menengadahkan kepalaku keatas. Tidak ada bintang yang selalu menemani ku menamaniku menangis di langit. Aku memutuskan tidak menangis malam ini.
Aku melihat sekitar, mencari tempat yang bisa kududki. Disamping kananku aku melihat ada ayunan kosong. Sedikit berlari aku menghampirinya seakan takut akan ada orang yang mengambilnya terlebih dahulu
“Yes” Mulut ku refleks mengucapkan kata itu setelah berhasil duduk diatasnya. Aku tersenyum tapi otakku tidak bisa menahan pikiran yang tiba tiba datang ke otakku. 3 menit aku terhanyut atas pikiran ku sendiri, tersentak saat ada nyamuk menggigit telapak tanganku. Auww.... aku menggaruk tanganku yang gatal
Didepanku ada seorang pria yang menatap ke arahku. Tetapi dengan tatapan kosong. Matanya seperti tidak hidup.
“Ah, iya terima kasih” dia tersenyum cangung dan duduk disampingku.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami setelah itu. Aku dan pria itu sama sama terhanyut dalam lamunan kami masing masing
"Bintangnya hilang” Dua kata itu keluar dari mulutnya yang aku yakin itu tidak sengaja
Aku menoleh ke arahnya, memastikan apa yang diucapkan pria itu
“Bintangnya hilang?”
“Ah maaf… aku tanpa sengaja mengatakan itu” pria di sampingku itu gelagapan ketika aku menatapnya. Dia menggaruk kepalanya sebentar, menoleh ke arah yang lain. Apakah dia jarang komunikasi dengan teman perempuannya?
Aku tersenyum menanggapinya
“Tidak apa apa.” Kutatap sejenak langit hitam diatas, kulanjututkan kalimatku
“Tidak ada bintang malam ini, ujung bulan juga tidak terlihat” Aku memutuskan bersuara, mengawali pembicaraan
Dia hanya mengangguk. Kembali fokus menatap langit dengan tatapan kosonh
“Apa anda ingin menangis?” kuluncurkan juga pertanyaan itu. Aku yakin saat ini dia menganggapku aneh. Aku tidak peduli, aku hanya sangat penasaran dengan hal itu
__ADS_1
“Apa maksud mu?” kepalanya sedikit miring untuk melihat wajahku. Aku teriam beberapa saat melihat wajahnya. Aku akui dia sangat tampan! Aku menarik nafasku, melankutkan kalimat selanjutnya
“Mata anda seolah mengatakan hal itu. Anda menatap sesuatu dengan tatapan kosong. Seolah di umur anda sekrang anda telah melewati banyak rintangan"
Dia terdiam mendengar jawabanku, memasukkan tangannya di saku jaketnya
“Itu tidak salah sama sekali. Aku ingin sekali kabur dari hidupku ini, keluar dari zona ku sekarang. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Hari ini birthday ku sekaligus bertepatan dengan hari ibu ku meninggal” Dia tersenyum pahit. Tidak tanpak matanya akan menangis setelah mengucapkan hal yang menyakitkan
“Apa benar anda “tidak bisa” keluar dari zona anda sekrang? Bukan karna “tidak berusaha”? itu dua hal yang berbeda.” dari ujung mataku kulihat jidatnya mengkerut.
“Pikirkanlah baik baik, apa benar anda tidak bisa atau tidak berusaha? Kupikir selama ini anda telah banyak melewati rintangan, tapi apa aja yang sudah anda lakukan untuk keluar dari situ? Pasrah terhdap kenyataan dan membiarkan waktu berjalan begitu saja bukanlah jawaban. Jika itu terasa menyesakkan silahkan menangis, tidak ada yang melarang, lalu jika matahari besok masih terbit itu akan kembali baik baik saja” Aku tersenyum menyemangati usai menyelesaikan kalimat panjang itu.
Bebrapa detik kemudian aku tidak mwndapatkan jawaban. Aku menoleh ke samping, terkejut melihat matanya meneteskan air mata
“tidak apa apa, semua pasti baik baik saja” kupakaikan dia kacamata hitam dari kantong bajuku dan kulepas topiku. Berdiri ku dihadpannya dan kupasangkan itu dikepalanya.
“Tidak ada yang melihat, menangislah malam ini. Tidak apa apa, semua akan baik baik saja” Aku berbisik pelan di dekat telinganya. Aku berlari kencang kearah toko kue, kubeli kue kecil dan berlari cepat menuju tempat pria itu.
"siapa namamu dan berapa umur mu?” harusnya dari awal kutanya namnaya
“Fabian, Fabian baron 16 tahun hari ini” dia menjawab pelan
“Happy birthday Fabian Baron”
dia kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulutku, refleks menengadahkan wajahnya ke atas, tatapan kami bertemu satu sama lain. Aku menelan ludah, hatiku berdegup kencang melihatnya
“Hari kamu ulang tahun. Kamu yang mengatakan itu tadi” Aku mengubah penggunaan kata 'anda' ke 'kamu' aku tertawa kecil melihat wajah kebingungannya
“tiuplah lilinnya, angin malam hari ini lumayan kencang”
Kulihat mulutnya bengong dan wajahnya sangat kebingungan, sebentar, dia sepertinya berhasil mencernanya dan meniup lilinnya
“kita seumuran. Sayangnya aku desember tanggal 29, ini makanlah. Maaf aku memberimu kue kecil” aku mengatakan itu tidak sambil menatap wajahnya, tanganku fokus membuka plastik yang membungkus kue itu
“ini pertama kali nya ada yang merayakan sejak umur 12” dia tersenyum. Kali ini aku tidak mengetahui apakah ini senyum bahagia atau senyum kesedihan
Aku bercakap cakap dengan dia selama 7 menitan dan pamit pulang
“Berjuanglah, kamu kuat dan kamu bisa” itu kata terakhirku sebelum pergi meninggalkannya
"SEBENTAR!" Aku kaget tiba tiba dia menarik tanganku
"Siapa namamu?" Dia menatapku dengan wajah serius. Apakah menanyakan hal itu perlu dengan wajah serius seperti itu?
"Althia, Althia Bellatrix"
Aku melepaskan tangannya dan berjalan pulang
__ADS_1
"Althia bellatrix" Pria itu bergumam menyebut namaku