Abcdefg

Abcdefg
Cafe dan langkah awal


__ADS_3

"Bella, balik yuk? Kita udah jauh banget dari rumah" Aku menyodorkan botol minum ke arah dia


"Iya kak, aku juga pengen mandi. Udah 2 hari kagak mandi. hehehehe" Bella nyengir lebar menampakkan gigi susunya


"Jorok ih....skuy pulang" aku menyodorkan tanganku, mengandeng dia pulang


"Kakak gimana, Sehabis ini bakal kerja apa lagi? Bella bisa bantu gak?" Dia sepertinya berharap aku akan membalas dengan kata iya


"kakak belum tau dek, sulit memikirkan usaha sendiri yang sesuai dengan keseharian kita" Aku berdecak kesal karna belum bisa menemukan hal yang pas untukku.


"Bella kenapa pengen banget ikut kerja? kenapa gak belajar aja? itu dah nyenengin kakak banget loh?" Aku heran kenapa dia selalu ngotot meminta aku mengizinkan dia bekerja dengan ku


"Bella belajar juga kok kak! tapi kakak kan kerja sendiri, gak ada yang bantuin, Setidaknya bella bisa bantu dikit dikit, ringanin beban kakak" Dia mengerucut sebal


"ahahahha, mau giaman lagi? kamu kan masih kecil, masih segini" Aku mengejek nya dan dan mecontohkan tinggi badannya yang hanya se sikuku


Dia berdecak sebal. Dahi nya mengekerut dan bibirnya terangkat sedikit ke atas. Aku tertawa dan mencubit pipinya


"Ayolah kakk....!! Sehabis ini ada libur kenaikan kelas kok! Bella gak perlu belajar, trus juga bisa bantu kakak!" Dia menatapku penuh harap


"Coba kakak pikir kan ya"


ia melompat senang mendengar itu. Sepertinya tidak masalah memberinya pekerjaan kecil


"Menurut bella, Usaha apa yang cocok dengan kita?" Aku bertanya sambil berjalan dengan tangan terayun mengenggam tanganya


"Kakak coba buka kayak toko cafe"


"Toko cafe?" aku tertawa geli mendengarnya


"Kalau nyebutnya 'Cafe' aja gak usah tambah kata 'Toko' belakangnya" Dia mengangguk paham


"Cafe yaa...." Aku bergumam, itu sepertinya ide bagus


"Ayok lebih bergegas bell, matahari udah mulai naik" Aku mengajaknya untuk berlari kecil


"Emmh"


Kini jam sudah menunjukkan jam 10 lebih. Aku terlebih dahulu menyuruh bella membersihkan badannya. Ini sudah 1 minggu setelah kepulangan boss Reka dan aku belum menemukan pekerjaan gang pas untukku. Cafe yaa.....


Aku membersihkan badan dan menyiapkan makan siang sekaligus makan malam kami


ini pukul 11.13 siang, aku duduk di meja belajarku dan mengambil laptop di laci belajar. Aku menyalakannya dan sadar bahwa baterai nya habis. Aku menunggu sebentar sebelum mulai menulis rencana kedepannya


Sepertinya Cafe bukan ide buruk.


_________________________________________


"Fabian, bersiaplah! 15 menit lagi kita akan pergi" suara yang dingin itu benar benar sudah menempel di telingaku. Ku lihat dia sudah berpakain rapi


Aku mengangguk dan masuk kekamar untuk bersiap siap. Aku sudah mem packing pakaian ku di koper dan barang barang yang sangat kubutuhkan. Kututup koper dan kuangakt ke dekat jendela


Aku melirik foto ibu,

__ADS_1


"Ibu, anak ibu yang pecundang ini sudah mengambil langkah, diap bertempur!" sebentar, lalu kumasukkan ke dalam koper. Ku tutup koper dan ku jatuhkan koper lewat jendela kamarku. Seorang pria yang telah kubayar menangkap koperku. Aku menyuruh dia mengantar sampai ke tempat alamat yang kuberikan.


Aku keluar dari kamar dengan style formal. Aku berjalan ke arah Ayah yang sudah menunggu di kursi dekat pintu.


"Ayah aku telah siap"


Ayah  meletakkan korannya di meja sampingnya. Dia berdiri menatapku lekat


“Bersikaplah dengan baik hari ini!” Di membenarkan dasiku dan menepuk pundakku.


Seorang pelayan menghampiri kami dan berkata


“Tuan semuanya sudah siap”


“Baiklah mari kita berangkat”


Aku tersenyum lebar malam ini. Maaf ayah, untuk malam dan selanjutnya aku tidak lagi menurutimu. Pembelajaran kita sudah cukup sampai disini. Aku keluar dari rumah menuju mobil. Ini menegangkan sekaligus menyenangkan.


5 Menit  kemudian kami sampai di tempat yang telah ditentukan. Sopir membuka pintu mobil mempersilahkan kami turun dengan hormat. Aku turun dari mobil dan merapikan jasku sebelum berjalan


Kami memasuki restoran bintang lima. tampak seorang pria tua berdiri diikuti putri disampingnya yang berpakaian sexy. Mereka menyambut kedatangan kami dengan hangat. Pria itu lebih tua dari Ayah tapi memperlaukukan dengan sopan.


Itu sudah pasti bukan! Kekuasaan Ayah lebih tinggi dari orang ini. Ku lihat anak perempuan disamping pria tua itu, dia menyadarinya dan menatapku dengan tersenyum genit


Aku tak memberi repon apapun dengan sikapnya.


“Mari duduk" Ayah menggeser kursinya dan menyuh kami duduk


“Hellow, Aku liona” Dia menjulurkan tangannya dengan Suaranya dibuat sedemikian rupa yang malah membuatku jijik. Bahkan di perrtemuan pertama kami dia sudah melancarkan aksinya


“Hai. Saya fabian” Aku menjawab dengan suara tegas sembari menerima uluran tanganny. Sengaja muhindari pemakaian kata tidak formal


“Wahh… lihatlah mereka, sepertinya kita harus pergi membeiarkan mereka berbincang berdua” Ayah gadis itu berkata sambil tertawa.


“Hahahah, mari pak” Ayah pergi mengikuti Tuan Dermot. Punggung mereka pergi semakin menjauh. Aku menatap gadis didepanku ini, tidak lebih cantik dari Carina. Aku bersikap cuek, tidak tertarik kepada wanita didepanku ini


Aku merasa ada sesuatu yang menjalar di kakiku. Ku lihat kebawah meja, lihatlah gadis ini sudah mulai menggodaku. Dia menggesek gesekan kakinya ke kakiku. Aku mengangkat satu alisku ke menatapnya.


Gadis bernama liona ini mecondongkan wajahnya lebih dekat ke arahku. Tangannya mengelus punggung tanganku. Ia tak lupa menghiasi wajahnya dengan senyuman genit. Mengedip ngedipkan matanya untuk menggodaku.


Ini sudah 3 menit apa dia tidak lelah menggodaku? Aku memutuskan mengambil alih. Aku tersenyum manis kepadanya. Sukses membuat dia menelan ludahnya dan berhenti menggodaku sesaat.


“Berhentilah menggodaku! Aku sama sekali tidak tertarik dengan mu” Aku tersenyum santai menanggapi godaannya


Dia menatapku marah, serasa direndahkan olehku. Dia menyudahi kegiatan genitnya dan aku bersyukur akan itu, tanganku geli di elus elusnya. Ku lepas kancing jasku. Sikapku membuat dia semakin marah dan merasa direndahkan


“Sudahi acting mu! Aku tahu perusahaan kalian bersengkokol dengan perusahaan Violet. Anak dari boss nya adalah teman dekatku. Kalian mengira aku bodoh, maaf tapi aku tidak sebodoh itu” Aku memulai serangan pertama


“BAGAIMAN...” Sepertinya dia sangat kaget sampai berdiri


“Syuttt” aku meletakkan telunjukku di bibiku.


“Jangan kaget dahulu, ini masih awal. Aku akan memberikan sajian akhirnya”

__ADS_1


Dia kembali duduk dengan tatapan geram


“ Katakan kepada sengkokolan mu itu Aku mengucapkan terima kasih bisa berteman dengan kalian. Aku dekat dengan 5 orang temanku yang selalu menempel denganku. Itu selalu membuat ku jijik" Aku menggeleng gelengkan kepalaku, menghayati setiap kalimat yang kuucapkan


" Aku berhasil menahannya. Tidak apa, berkat kalian aku bisa mendapatkan informasi berharga tentang perusahaan keluarga kalian.”


Aku mengeluarkan hp dari saku jasku. Ini panggilan group tersambung dengan ke 5 temanku itu.


“Jangan marah, ini cukup adil bukan? Aku memberi kalian uang dan kalian memberiku informasi. Aku sudah menyebar luaskan informasi perusahaan kalian"


Kulirik jam tangan di gangan kiriku


"Ini pukul 9 malam sudah waktunya bagi wartawan menerbitkan artikel mereka.”


“aku memberikan informasinya kepada 100 awak media. Hanya hitungan menit, media lain aku menyebar luaskannya. Kemarin hari ulang tahunku dan aku memberi kalian hadiah. Hufft... aku bahkan memberi hadiah saat ulang tahunku"


"hai, kasih tau kepadaku. Bagaimana rasanya kalah di permainan yang kalian buat sendiri" kudekatkan hpnya ke mulutku


“FABI....Tut tutt....!!!” Aku menutup teleponku. kuambil memorinya dan kusimpan. Aku meninggalkan hpku disini


“”Sepertinya sudah cukup untuk malam ini nona” Aku berdiri dan mengancingi jasku. Di menggigit bibinya melotot kepadaku


“BRENGSEK KAU FABIAN”


Aku tidak memperdulikan nya, ini langkah awal yang kupilih. Ayok pergi ke tingkat selanjutnya.


Aku berjalan ke arah pelayan restoran, menanyai meja ayah. Dia memberi tauku dan kuucapkan terima kasih. Aku berjalan ke ara yang ditunjuk


“Ayah” Kupanggil dia


“Kenapa kamu ada disini? dia menatapku heran


“Aku membatalkan perjodohannya” aku bersikap terlalu santai untuk mengatakn hal yang penting


“APA KAMU BILANG”  dia berdiri kaget dan begitu juga dengan tuan dermot


Ayah melayangkan tangannya ke arahku, aku menagkapnya dengam mudah. Kucengkram lengannya.


“Terima kasih mendidikku dengan kekerasan membuatku tumbuh kuat. Sayangnya didikan Ayah akan berakhir disini. aku tidak membiarkan Ayah memukuliku lagi.” Aku menatapnya dingin


“Ini hidupku bukan hidupmu!” Kalimat itu sengaja kutekankan. ku hentakkan lengan ayah yang membuat dia terduduk di kuria


“ANAK SIALAN!! APA KAU BEGINI GARA GARA IBUMU!!!??BERANINYA KAU SEPERTI INI SEKARANG!!!” di menunjuk nunjukku dan berteriak melotot


“Jangan berteriak, Ayah sudah tua. Itu memalukan” aku menyepitkan mataku dan tanganku menutup telingaku seolah aku meringgis mendengar suaranya. 


Ku condongkan tubuhku ke arahnya, aku merapikan dasinya dengan senyuman tak luput dari wajah


“jangan kau sebut kata Ibu dari mulut kotormu itu pria tua brengsek” Ku katakan itu tepat disamping telinganya. Menepuk bahunya nya sekilas dan tersenyum kemenangan


Tubuhnya gemetaran dan pupil matanya bergetar. Aku menatap ayah gadis itu, dia buru buru mengalihkan pandangannya


“Sampai jumpa lagi A y a h”

__ADS_1


__ADS_2