
Matahari telah bergerak dari arah timur. Jarum jam sedikit demi sedikit berpindah tempat. Burung gereja yang hinggap di kabel kabel listrik bercicit meramaikan pagi hari
Terlihat sang empu terlelap dengan muka tidak terusik akan hal itu
“KAKAK BANGUN...!!!” Bella dengan raut muka masam jengah membangunkan ku dari jam enam pagi
"Emmhh" Aku melengguh sebentar. Tidur ku terasa terusik akibat teriakannya
Aku duduk dari tidurku dengan rambut acak acakkan. Mirip dengan rambut singa. Kusipitkan mataku, silau dengan cahaya matahari pagi. Sedikit mencerna, otakku akhirnya berhasil menangkap apa yang terjadi
“INI UDAH JAM BERAPA????” Aku menoleh kaget ke arah bella yang duduk disaampingku
“Tujuh lebih 30 menit" Dia juga mengisyaratkan angka 7 dengan tangannya
“Ayok bangun! Udah dari jam 6 dibangunin tapi kakak gak bangun bangun. Kamar mandi gih, Papi mami dah datang. Bella dah nyiapin sarapan" Dia beranjak turun dari ranjang dan keluar dari kamarku
Aku menatap punggungnya yang keluar dari kamarku. Rasanya dia semakin dewasa di umurnya yang masih 11 tahun. Apakah anak anak diumur segitu sudah bersikap seperti dia?
5 menit aku keluar dari kamar menemui papi dan mami.
"Pagi papi mamiiii...” Aku mencium telapak tangan 2 orang penyelamatku ini
“Pagi Carina. Tapi tumben kamu bangun jam segini?” Mami bertanya sambil merapikan rambutku yang masih seperti rambut singa
“Kemarin dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam kami diskusi mi. Gak istirahattttt! Fullll...” aku terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek dibelikan mainan
Mami Papi hanya tertawa kecil melihat tingkahku.
“Ah iya, apa kamu bisa menghubungi Nak fabian itu?” Mami bertanya, mentapku sambil membawa Bella ke pangkauannya
“oke mamiii.... Sebentar” Aku berlari kecil masuk kekamarku.
Mengambil smartphone, mencari namanya dan menekan tombol panggilan. Terdengar suara sahutan di seberang. Kami berbicara sekitar 5 menit sebelum dia bersiap ke rumahku
Aku mengahmpiri papi mami dan bella di ruangan depan. Bercakap cakap ringan sambil menunggu kedatangan Fabian. 15 menit kemudia Fabian datang dengan nafas yang tersenggal senggal
“Lari larian?” Mami bertanya
“Iya nte, maaf saya datangnya lambat" Fabian masih mengatur pernafasannya
Papi dan Mami tersenyum mendengar penuturannya “anak yang sopan" kalimat itu terbesit di hati mereka
“Duduklah! Ayok kita berbincang" Papi menyuruh Fabian untuk duduk bersama
“Makasih om"
Bella masih setia di pangkauan Mami. Dan kini aku, fabian, mami dan papi mulai berdiskusi
Sekitar 1 jam kami duduk berdiskusi, Keputusan pun sudah didapatkan. Mami dan papi setuju mengangkat Fabian menjadi anak angkat..
Tapi hanya sebatas itu. Fabian meminta agar mereka membiarkan fabian bekerja untuk kebutuhan harian. Dia hanya membutuhkan pengakuan.
“Saya ingin menganti nama saya om, saya tidak ingin lagi menggunakan nama keluarga Baron"
“Apa kamu akan mencari nama mu sendiri atau kami yang mencarikan nama mu?”
“Carina aja” Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum lembut
Aku yang saat itu lagi minum tersedak mendengar perkataannya.
“Aku?” Aku bertanya sambil menunjuk ke arah diriku sendiri
Dia membalas dengan anggukan, tampak yakin dengan perkataannya. Aku menoleh ke arah papi dan mami yang hanya di jawab dengan senyuman
Aku menghela nafas berat
...***...
__ADS_1
Sambil memantau lokasi yang akan dibangun, Kami meminta saran papi mengenai rancangan yang telah kami buat. Satu dua saran dari papi mami selalu kami pahami baik
Esoknya pembangunan akan dimulai. Dindingnya terbuat dari kayu, sedangkan atapnya terbuat dari ijuk. Papi memperkirakan butuh waktu sekitar 1 -2 minggu untuk menyelesaikannya.
Sore hari aku kembali ke rumah. Fabian dan papi mami menyelesaikan urusannya. Aku beristirahat sebentar. Mengumpulkan kembali energi yang sempat terkuras
“ Kakak mau?”
Aku menoleh ke arah sumber suara. Bella sedang menawarkan segeles teh dingin. Ku sambar gelas itu dari tangannya. Lupakan soal rancangan, segelas teh dingin lebih berharga sekarang
Satu kali teguk isi gelas itu tandas. Yang tersisa hanya es batu berbentuk kotak kotak.
“Uwahhh.... makasih banyak Bel" Aku dengan tampang tak berdosa menyodorkan gelas kosng itu ke arah adekku
Dia memelotiku, tak suka dengan sikapku. Aku membalas dengan nyengir dan memasang tampang polos ku
“Capek banget dek, uwahhhh....” Aku kembali merebahkan badanku ke kasur.
Hanya butuh hitungan detik aku terlelap. Menjelajahi alam mimpi.
... ***...
Aku terbangun dari mimpi panjang ku. Kulihat jam yang tergantung didinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.03 malam. Sepertinya Bella menyelimutiku tadi, pantas tidurku sangat nyenyak
Sedikit tersenyum simpul aku turun dari kasur. Melihat sekitar, tak ada kulihat sosok adikku.
“Bella?” aku sedikit meninggikan suraku, mengitari rumah kecil itu
“Kakak!! Aku ada di ruangan tamu!" Suara bella sedikit berteriak dari ruang tamu
Bergegas aku kesana mendapati dia bersama dengan Fabian.
“Kamu kenapa disini?” aku heran dia sedang duduk santai bersama adikku. Tersenyum menyambutku
“Gak boleh? Kalau gitu aku pulang ya?” dia berdiri sambil berjalan ke arah pintu keluar
Dia tersenyum melihatku gelagapan.
“Udah makan malam?” Dia bertanya kepadaku dan bella
“Belum, nih baru mau masak" Ku jawab santai dengan bibir bawah naik sedikit
“Imut"
“Eh apa?” Apa aku salah dengar?
“ Kamu imut kayak gitu"
Tuhan, bagaimana mungkin dia mengatakan itu sambil tersenyum tampa ngerasa bersalah??
“eh ituu.. aku masak dulu ya" aku segera berbalik arah, beharap dia tak melihat wajahku yang merah
“Gak usah! kamu capek, aku dah bawain makan malam"
Aku berbalik arah, dengan semangat aku bertanya
“Serius?!” Jujur saja, aku memang capek akhir akhir ini. Banyak yang harus kupikirkan dan itu membuat lelah secara fisik dan rohani
Dia terkekeh dan mengangguk.
"Dua rius"
... ***...
“Gimana selanjutnya? Kita udah selesai untuk rancangan bangunan dan tempatnya. Tapi belum untuk menu dan bahan atau alat dapurnya"
Aku memainkan pena di tanganku, berpikir sejenak
__ADS_1
“Menu yah...”
Kami sama sama terdiam, hanyut dalam imajinasi kami
“Coba dengerin aku!” Aku tersentak mendengar itu. Imajinasi ku terhenti sebentar
Aku menatapnya bersiap untuk mendengarkan
“aku kepikiran, gimana kalau kita sediain yang hanya bertema minuman aja. Tapi terlalu membosankan kukira kalau hanya coffee aja. Jadi giamana kita tambah kan menu tambahan kayak Ice cream yang cocok dengan tema cafe, dan cemilan yang cocok jadi makanan yang dimakan sama coffe. Kukira itu lebih memudahkan kita" Fabian menyudahi penjelasan panjangnya dan bersungut sungut dengan idenya sendiri
Tidak mungkin langsung aku setujui, itu ide bagus tapi harus diperkuat lagi. 1 jam kami duduk hanya untuk membahas idenya. Kami sepakat menjalankan ide Fabian
Ini masih pukul 9.45 malam, ku ajak dia keluar sebentar sebgai refreshment otak. Aku mengajak Bella karna takut dia sendirian di rumah
Ku gandeng tangan bella sisamping kiriku. Di samping kananku Fabian berjalan. Jalanan kota besar masih padat walaupun ini sudah malam hari. udara terasa panas karna global warming.
Kami duduk di kursi taman kota. Aku duduk disanping Fabian dan membiarkan Bella bermain dengan kunang kunang yang bercahaya terang
“Fabian, kenapa kamu mau mgelakuin ini?”
“Maksud mu?” dia bertanya balik ke padaku
“Yaa... kalau kamu cuman ingin bebas kamu gak perlu sampai kabur dari rumah. Kurasa ada alasan lain”
Dia terdiam sebentar sebelum menjawab perkataanku
“Aku ingin balas dendam" kalimat itu keluar lirih dari mulutnya
“Sama siapa?”
“Ayah ku" Jawaban hang sudah kutebak
“Apa kamu bahagia begitu? Jika kamu hidup cuman ingin mebalaskan dendammu, apa kamu bahagia? Kenapa tidak hidup sesuai keinginanmu aja? balas dendam cuman ingin pengakuan dari orang yang kamu dendam”
“Itu benar. Tapi tidak mungkin aku hanya diam saja, membiarkan rasa dendam itu mengalir bukan? Kamu tau peribahasa 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampau'?”
Aku hanya membalas dengan anggukan. itu peribahasa yang cukup sering kudengar
“Begitu juga denganku. Balas dendam bukan tujuan utamaku. Aku tidak ingin berada di zonaku dulu. Aku merasa terkekang. Mereka menilaiku tidak mampu melakukan apapun tanpa bantuan Ayah. Aku bisa saja tidak kabur dari rumah dan bisa bebas. Tapi aku tidak mengingankan itu. Tak sedetik pun aku hidup tanpa bantuan ayah. Dan aku ingin itu tidak lagi terjadi padaku"
Fabian menyudahi penjelasan panjangnya, menutup dengan senyuman diwajahnya dan bahunya yang terangkat
“Aku sama dengan mu" aku mengantung kata kata ku
ku buang nafasku dengan keras.
“Aku ingin balas dendam kepada ayah yang sudah membuang kami. Menjadi orang sukses menurutku adalah bentuk balas dendam ku padanya. Tapi itu bukan tujuan utamaku, aku hanya ingin hidup bahagia bersama adekku. Urusan dendam itu akan ngikut"
“Itu benar. Nah ayok lakukan janji jari!” dia mengarahkannya jari kelingkingnya ke arahku
“Untuk?”
“Janji kalau kita bakal sukses sama sama"
Aku tertawa dan menautkan jari kelingkingku ke kelingkingnya dan menempelkan jempolku ke jempolnya
“ Namamu Dickson" Aku akhirnya memberi tahun keputusanku mengenai nama belakangnya
“Namanya bagus, apa artinya?” ditersenyum lembut mwnanti jawabanku
“Kuat"
**Halo gaes... punya cerita awkward gak sih kalian? kalau ada boleh cerita gak di kolom komentar???? aku pen baca😂
jangan lupa tinggalkan jejak yaa**
__ADS_1