
"Sampai kapan kamu terus menyusahkan hidup saya?" Lagi dan lagi Derren mengucapkan kata kata itu tanpa berfikir terlebih dahulu
Bumi tertawa datar, di senderkannya tubuhnya di dinding rumah sakit itu matanya terus manatap ke arah depan, ia enggan menoleh dan melihat pria paruhbaya di sebelahnya ini
"Anda bisa membunuh saya sekarang juga jika berminat" Ucap Bumi yakin
Derren tertawa renyah "Saya bisa bahkan saya ingin" Mendengar itu rasanya Bumi ingin melayangkan bogeman mentah ke wajah Derren sekarang juga, giginya bergemeletuk, ia geram.
"Tapi saya sudah terikat kontrak, kamu harus menerima perjodohan ini" Tegasnya menunjuk Bumi
"Untuk apa? untuk perusahaan anda?" Kali ini Bumi memberanikan diri menatap manik gelap pria yang sudah membesarkannya bahkan tanpa belas kasih sayang
"Iya, setidaknya hidup kamu sedikit berguna" Bumi mengepal tangannya kuat, tiba tiba saja bayang gadis bersurai sepunggung itu melintas begitu saja
"Saya sibuk, saya tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan kamu" Derren berdiri dan merapikan jasnya ia berjalan santai dan membuka knop pintu itu dan keluar begitu saja
"MATI AJA LO **PARAT" Teriak Bumi, deru nafasnya tak beraturan, ingin sekali rasanya ia pergi dari tempat ini sekarang juga.
Bumi memejamkan matanya kuat rasa nyeri yang biasa ia rasakan tak berarti apa apa baginya, ucapan derren terhadapnya benar benar lebih menyakitkan
Bumi memejamkan matanya terus menerus membiarkan memori kelam di masa kecilnya terputar begitu saja
"LO ITU CUMA BISA NYUSAHIN GUE!"
"Kenapa lo ga mati aja?"
"Saya menyesal memilik anak seperti kamu"
"anak sial!"
"Mati aja lo sekarang!"
"sampai kapan kamu meyusahkan hidup saya?"
"setidaknya hidup kamu sedikit berguna"
"ANAK GA TAU DI UNTUNG!"
keringat di pelipisnya bercucuran begitu derasnya, deru nafasnya benar benar tak beraturan, bahunya naik turun, sakit, sakit sekali.
"kak" tepukan lembut di bahu Bumi membuatnya membuka matanya dengan cepat
Gesya mengelap keringat di pelipis Bumi dengan sayang "Kenapa kak? papa ngomong apa?"Tanyanya sembari duduk
Bumi menatap Gesya datar" Bukan urusan lo" jawabnya ketus
Gesya manggut manggut saja, ia tersenyum lalu menggenggam jemari Bumi "Cepet sembuh ya kak, Gege sayang kakak"
SERRRR
Bayang bayang Alana langsung menghantuinya begitu saja, semudah itu kah Alana memporakporandakan hatinya? iya, memang semudah itu.
Senyum gadis itu jelas tercetak dalam ingatan Bumi
"*Semangat kak Anta!"
__ADS_1
"Lana sayang kakak!"
"Lana disini kak*!"
Langit mengeleng geleng kan kepalanya menolak kehadiran gadis itu dalam ingatannya
"Papa ngomongin perjodohan lo ya kak?" tanya Gesya gugup, percaya atau tidak ia mengumpulkan niat dan keberanian hanya untuk mempertanyakan hal ini.
"hem" gumam Bumi tak berniat menjawab banyak
Gesya menelan salivanya susah payah "Apa lo punya pacar?" Bumi menoleh dan melirik Gesya sekilas
"Engga" jawabnya singkat
Gesya manggun manggut saja, "Coba lo lihat dan ketemu sama cewek itu kak, gue udah lihat fotonya dan --"
"Udah? gue mau istirahat" senggah Bumi, Gesya mengerti bahwa Bumi tengah mengusirnya dengan cara halus. sudah lah, sepertinya ia tidak harus membahas tentang gadis itu pada Bumi
"Gue cabut ya, selamat istirahat" Gesya bangkit lalu meninggalkan Bumi seorang diri dalam ruang inap itu
"Alana febyolla" ucapnya pelan ia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit langit kamarnya dengan tatapan sendunya
"Alana" lirihnya lalu ia terpejam
..._________________...
...______...
"Mama!" teriak Alana, gadis itu berlari dan melemparkan tubuhnya pada Mama Langit
Mama tersenyum seraya mengelus puncak kepala Alana dengan sayang "Kangen Mama ya" godanya dan di angguki gadis itu dengan semangat
"Papa Arka gimana ma?" Tanya Alana sembari mengendurkan sedikit pelukannya, menatap manik hitam pekat itu dari dekat
"Papa udah sadar" Jawabnya tersenyum kikuk, sesekali ia melirik anak laki lakinya itu. semoga saja Langit tidak kaget saat mendegar isi surat wasiat itu
"Mau lihat papa" ujar gadis itu semangat, Langit mengambil alih tubuh Alana dengan menariknya lalu ia rangkul begitu saja
"ih apaan sih Langit!" kesal gadis itu menepis tangan Langit yang bertender di bahunya
Langit tertawa kecil "Mau di peluk juga dong" pintanya
"Udah keseringan" jawab gadis itu enteng
Lagi lagi tingkah kedua anak remaja ini membuat Mamanya mengeleng gelengkan kepalanya pelan
"udah udah, mau ke rumah sakit atau ke appart mama dulu?" Tanyanya menatap kedua anak remaja di hadapannya ini bergantian
"Rumah sakit" jawab mereka berbarengan
"Yasudah, ayo" ajak Mamanya dan di angguki keduanya
"tuh kan cil, papa uda ga kenapa napa, paling entaran udah bisa marah marah sama gue lagi" ujar Langit tertawa kecil
Alana menepuk pundak Langit pelan "Papa marah karna lo ganggu gue mulu" Ketusnya membuat Langit tertawa lagi
__ADS_1
"eh cil ini tanggal berapa?" Tanya langit namun Alana hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh
"resek lo" ucap Langit menoyor kepala Alana, membuat gadis itu mengembungkan pipinya kesal namun, dengan begitu malah membuat Alana semakin terlihat mengemaskan
"Gausa gitu muka lo, pipi lo udah sebesar bakpao tau ga" mendengar itu sontak Alana memegangi pipinya, bibirnya cemberut dan melirik Langit tajam
"Mamaaaaa, Langit nih" Adunya pada Yora
"sini jalan sama mama aja, Langit emang ya"Langit cekikikan saja, sedangkan Alana berlari kecil menyamai langkahnya dengan Yora, tak lama gadis itu menoleh menatap Langit seraya mendelik tajam
Alana menjulurkan lidahnya mengejek satu jarinya ia letak di bawah matanya. Langit tertawa melihat itu bagaimana bisa Langit tidak jatuh cinta dengan gadis ini? gadis yang hidup dan tumbuh bersamanya selama 16 tahun.
Gadis kecil yang cengeng dan menggemaskan itu kini sudah tumbuh dewasa menjadi semakin cantik, setiap detik, setiap saat, setiap waktu Langit di buat jatuh cinta semudah itu
Alana febyolla, Alasan utama Langit untuk tetap hidup.
"Semoga lo dan gue akan menjadi kita secepatnya" ucap Langit monolog menatap punggung Alana dari arah belakang
Langit sudah memikirkan ini matang matang, jika Alana menolaknya pun ia tak apa. ia hanya ingin mengungkapkan saja, tidak lebih.
mungkin mereka akan menjadi canggung nantinya, Tapi Langit suda berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah berubah sedikitpun. ia tetaplah Langit sadewa yang mencintai sahabat kecilnya.
..._________________...
...________...
-Aku hanya ingin engkau tau, rasaku memang tidak bercanda. perihal rasamu biarlah itu menjadi urusanmu-
Langit sadewa
-Bahagia ku sederhana, melihat senyummu di pagi hari contohnya-
-Langit sadewa
-Jangan tanyakan kapan, mengapa dan bagaimana bisa aku mencintaimu. sebab jawabnya pun aku tak tau pasti, ia bahkan mengalir begitu saja. bahkan tanpa seizin ku
-Langit sadewa-
Alana tertawa terpingkal pingkal saat membaca buku notes berwarna hitam kecil itu, lebay sekali fikir gadis itu
"Heh! lo bucinin siapa?" Tanya Alana masih tertawa bahkan ia sedang memukuli punggung Langit dengan tanpa rasa bersalah
Langit membalikan tubuhnya, dengan cepat di raihnya buku itu dari tangan mungil Alana
"Apasih lan"Kesalnya gugup
"Cie Langit cie" goda Alana membuat Langit semakin malu saja
"Mamaaaa! Langit punya pacar!" teriak gadis itu lantang membuat Langit membekap mulut gadis itu cepat
"Nyebar hoax lo!" ujarnya masih membekap mulut gadis itu
Alana berusaha meloloskan diri, ia bahkan sampai menitihkan air mata sangking lucunya
Alana berlari menaiki anak tangga seraya berteriak meledek Langit
__ADS_1
"Mencintai mu itu mudah, membuat mu merasakan hal yang sama adalah mustahil' teriak gadis itu diringi gelak tawa
Langit berdesis sebal, Alana tidak tau saja semua tulisan di buku itu adalah tentang dirinya