
...Gue sayang, gue mau, apa yang salah dari memperjuangkan?...
Alana febyolla
Cowok bertubuh jangkung itu berjalan menyusuri koridor dengan pandangan lurus kedepan, sorot dingin itu selalu ia tunjukkan dimana pun dan kapanpun namun tatapan memuja selalu ia dapatkan dari siswi SMA CAKRAWALA tampilannya yang urakan dan jauh dari kata rapi itu malah semakin menambah kesan keren
" woi pak ketu!" ucap Satria menepuk pundak sahabatnya -Langit sadewa
Langit melirik Satria sekilas saja ia sedang tidak mood bahkan hanya sekedar berbicara saja "Devan mana bos?" tanya Satria, Langit hanya mengangkat bahu saja
Satria memicingkan matanya seraya mengeleng gelengkan kepalanya "Roman romannya nih hati lo potek potek lagi ye Lang" langit berdecih sebal
"Entar jangan lupa susun rencana buat nyerang geng the dark" ucap Langit mengalihkan pembicaraan
"ck! siap 86! gue suka nih" sahut Satria dengan semangat
"Kak langit!" panggil seorang gadis bersurai coklat sebahu itu Langit menatapnya dingin namun gadis itu malah tersenyum malu malu dan menghampirinya
"gila cantik bro!" bisik Satria takjub
Langit menatap gadis itu tak minat "Apa" ucapnya saat gadis itu sudah berada tepat di hadapannya
gadis itu mengulurkan tangan seraya tersenyum "Shea alexa X ips 3" Langit menatap gadis ini dari atas hingga bawah senyum itu masih tercetak jelas di wajah imut adik kelasnya ini
"terus?" Shea menelan salivanya susah payah ah! ternyata rumor itu benar cowo sekeren Langit sangat dingin dasar es!
"mau kenalan?" ujar Shea yakin tak yakin
"ga" ketus Langit melanjutkan langkahnya Satria mengeleng gelengkan kepalanya heran "kenalan sama gue mau ga?" ajak Satria tersenyum jahil
"ogah!" jawab gadisi tu ketus lalu melengang pergi cih! berbicara dengan Langit saja lembut selembut sutra tapi dengannya? seperti harimau, garang!
...________________...
..._____...
gadis bersurai hitam pekat itu tengah membeli sebotol air mineral ia melihat sahabatnya itu tengah bermain basket ya, seperti biasanya Alana akan menunggu Langit di pinggir lapangan
"nih buk uangnya" Alana menyerahkan uang limapuluh ribu itu kepada buk surti
"nuhun neng geulis" ucapnya seraya memberikan kembaliannya
Alana tersenyum ramah "iya buk" ujarnya lalu pergi menuju lapangan dilihatnya Langit sudah selesai bermain basket Alana langsung saja menghampirinya saat ia menyodorkan air mineral itu ada seorang gadis yang juga tengah memberikan Langit sebotol minuman Alana mendongak menatap adik kelasnya ini dengan bingung sedangkan adik kelas itu menatapnya kesal
"ganjen" ucap gadis itu pelan namun terdengar membuat Langit mengerutkan dahinya heran
"ngomong apa tadi?" Tanya Langit pada gadis bersurai coklat itu seraya berdiri
Gadis itu nampak gelagapan "Ga, gue gaada ngomong apa apa" elaknya lalu tersenyum
__ADS_1
Devan, Satria dan Geo menatap satu sama lain bingung "adik kelas kan?" bisik Geo pelan
"Shea alexa, cewe tercantik di smp gue dulu"sambung Devan di angguki teman temannya yang lain
"Cantikan Alana ****" bisik Satria lagi
"iya sih, tapi kalo Shea mau sama gue terima gue mah" Ucap Geo cekikikan
"cih! ular" tutur Devan memutar bola matanya malas
Langit maju selangkah, menatap gadis di hadapannya ini dengan nyalang Alana memegang bahu Langit lalu mengeleng membuat Langit memudurkan langkahnya di ambilnya air mineral yang di berikan Alana lalu di teguknya hingga setengah
"ganjen" Tutur Langit lalu menarik tangan Alana menjauhi lapangan
Shea menatap Langit tak percaya ia mengeleng gelengkan kepalanya heran cih! tidak pernah ada seorangpun yang berani menolak seorang Shea alexa, tapi dia? dengan beraninya ia mengabaikan seorang Shea? lihat saja nanti Shea pastikan seorang most wanted SMA PELITA Langit sadewa akan tunduk bahkan mengemis cintanya!
Langit menarik tangan Alana lembut di ujung sana terlihat dia, Bumi antariksa tengah berjalan dengan tatapan datarnya
"subhanaallah!" pekik Alana yang menurut Langit sangat berlebihan
"Langit! ganteng banget"ujar Alana antusias menepuk nepuk pundak Langit membuat cowo itu jengah tak mengerti kah Alana bahwa Langit cemburu? kenapa Alana tak kunjung menyadari perasaannya?
"Gantengan gue tau cil" ucap Langit diiringi tawa kecilnya
Alana berdesis "pd ya lo!" ucapnya merengut
"hai kak!" sapanya tersenyum ramah
Bumi menatap Alana datar "lo bisa bantu gue?" ujar Bumi membuat jantung Alana berdegup 10X lebih kencang dari biasanya, oke terlalu berlebihan.
"bisa bisa! bantu apa kak?" Tanya Alana antusias senyuman itu tak pudar sedikitpun
"Menjauh dari gue, lo ganggu" Bumi melanjutkan langkahnya bahunya sengaja ia tabrakan dengan bahu Alana membuat gadis itu sedikit terhuyung susah payah Alana menetralkan raut wajahnya
"Apa yang salah dari berperasaan?" Ucap gadis itu keras membuat Bumi berhenti di tempatnya
Langit menatap Alana geram, ingin marahpun ia tak bisa yang ada Alana akan menangis seperti bayi, cih!
"Cara lo nunjukin perasaan lo ke gue itu yang salah" jawab Bumi berbalik menatap manik hitam Alana lekat
"Terlalu berlebihan, terkesan murahan"
JLEBB
Ucapan Bumi benar benar membuat Alana tertohok sebegitu menganggukah ia? setetes buliran cair itu sudah jatuh membasahi pipi mulus Alana jujur saja ucapan Bumi benar benar menyakitkan baginya
Langit melangkah maju menendang punggung Bumi dengan keras membuat Bumi jatuh ke lantai banyak sekali murid murid yang berlalu lalang berhenti menyaksikan kejadian itu
Alana berlari menghampiri Langit mengelus dada bidang Langit "gapapa Langit" ujar gadis itu sedikit terisak Langit menatap Alana sendu
__ADS_1
"LO SEMUA DENGER YA! SIAPAPUN YANG NYAKITIN ALANA BERURUSAN SAMA GUE!" Teriak Langit keras tatapannya tajam menatap Bumi yang susah payah berdiri
Bumi menatap Langit lalu berdecih "Urusin tuh cewe lo! gausah kecentilan"
Bughhh
ya, satu bogeman mentah mendarat tepat di wajah tampat Bumi bukan, bukan Langit yang memukul Bumi tapi dia- Satria sang panglima tempur
di belakangnya sudah berdiri Devan yang tengah memakan permen karet dan Geo yang mendrible bola basket "Lo hina buk ketu artinya lo hina kita! satu hal yang lo harus tau, mati emang di tangan tuhan tapi seenggaknya gue puas matahin tulang tulang lo"
bughhh
Satria mendaratkan satu bogeman lagi di pipi kiri Bumi meninggalkan jejak berwarna biru disana "SIAPA LAGI YANG MAU MATI LEBIH CEPAT?" Teriak Satria keras membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri
"HEI! ADA APA ITU RAME RAME" Suara cempreng buk ike membuat mereka gelagapan mereka langsung bubar dan bersembunyi dimanapun itu
Langit menarik tangan Alana menuju kantin lalu bersembunyi di balik gerobak bakso mang asep "kelahi lagi kang?" tanya mang asep pelan
"iya nih mang jangan sampe bu ike tau ya mang" ujarnya memberi uang selembar yang berwarna merah itu
mang asep tersenyum " kalo gini mah aman atuh" ucapnya lalu melanjutkan memasak bakso
Langit menghapus jejak jejak air mata yang ada di pipi Alana lembut "Jangan nangis ah! makin jelek lo!" Alana memukul pelan bahu Langit seraya melotot
"bercanda lan" Sambungnya lagi cekikikan
"Langit" panggilnya dengan suara bergetar
"kenapa?" Sahut Langit menatap Alana lembut
"sedih" jawabnya bibirnya sudah melengkung kebawah
"mau peluk" pintanya pada Langit,ya memang seperti ini sudah di bilang bukan Alana ini gadis manja dan hanya kepada Langit ia seperti ini
"sini" Langit memeluk Alana erat
Alana langsung memeluk Langit menenggelamkan wajahnya di dada bidang Langit baju Langit sudah basah, ya Alana selalu seperti ini sangat manja jika bersama Langit
pikiran Langit melayang apakah Alananya akan tetap begini? Langit takut Alana akan bersama Bumi atau siapapun itu dan peluk Alana sudah tidak tertuju padanya apa ia siap? "gue sayang lo Lan" ucapnya
"Alana sayang langit" sahut Alana pelan
"sayang gue lebih dari sayang lo ke gue, gue cinta sama lo, Alana febyolla" ucap Langit dalam hati
...________________...
...______...
...TBC...
__ADS_1