ABOUT "US"

ABOUT "US"
Lima


__ADS_3

Malam ini langit terlihat mendung sepertinya akan turun hujan gadis bersurai sepunggung itu menatap langit dari balkon kamarnya tatapannya sendu "bun, pa Lana kangen" lirihnya


jujur ia sudah tidak ingat dengan wajah kedua orang tuanya itu pasalnya tak satupun foto mereka ada di rumah ini mengapa begitu? entahlah Alanapun tak mengerti


trinting


benda pipih itu berdering membuat Alana merogoh kantong hoodie oversizenya


...pacar satria...


*lanaaaa


lan


woi


^^^eh iya^^^


^^^kenapa kak?^^^


lo tau ga


Langit sama gengnya nyerang markas the dark malam ini*?


Alana langsung terdiam ia berdesis sebal Langit memang tidak pernah mendengarkan dirinya, dasar keras kepala!


benda pipih itu terus berdering membuat Alana kembali fokus pada handphonenya


*oi


malah read


Alanaaa


^^^iya kak^^^


^^^gue ga tau kak^^^


^^^langit gaada bilang apa apa^^^


ais!


emang dasar ya tuh cowo cowo


^^^kakak tau dari mana?^^^


dari megan


pacarnya deo


lo tau kan?


Arsyana megani X bahasa 2


^^^oiya iya kak^^^


yaudahla biarin aja


gue sama megan mau nongki nih


mau ikut*?


Alana berfikir sejenak rasanya ia sangat bosan tapi Langit tidak membolehkan Alana pergi dengan siapapun kecuali dirinya, ah sudahlah ia benar benar bosan


^^^^^^*boleh deh kak^^^^^^

__ADS_1


oke gue jmpt ya


^^^iya* kak^^^


Alana langsung bersiap ia hanya memakai celana jeans putih dan hoodie abu abu overzise rambutnya ia gerai begitu saja dan di oleskannya sedikit liptint agar bibirnya tidak terlalu pucat dengan begitu saja ia sudah terlihat sangat cantik


Alana menuruni anak tangga dengan santai lalu ia duduk sofa merah miliknya tiba tiba handphonenya berdering lagi


...pacar satria...


*lan


sorry gue gajadi jmpt lo


nyokap gue ada perlu


gagal nongki deh kita:(


sorry ya


^^^iya kak gapapa^^^


lain kali ya lan


^^^iya kak*^^^


Alana menghela nafasnya pelan hu! ia lapar tapi ia tidak mau makan masakan bdibinya sepertinya nasi goreng depan komplek enak juga, fikir gadis itu


Alana bergegas keluar rumah ia berjalan seraya bersenandung ria hingga sampailah ia tepat di depan grobak nasi goreng mang gugun


"mang kayak biasa satu ya mang" Ujarnya lalu duduk di kursi pelastik hijau itu


"pacarnya mana neng?"Tanya mang gugun ya, yang di maksud mang gugun adalah Langit


"kenapa ih si eneng mah" goda mang gugun masih tersenyum


"tau ah! Langit ngeselin banget! ga pernah dengerin aku ngomong hu!" ceritanya dan di angguki mang gugun


"wajar atuh neng ya, berantem sama pasangan itu wajar tapi neng harus tau terkadang gaada yang harus dirubah neng, kita hanya perlu mengerti dan menerima karena memang dia seperti itu" Tutur mang gugun seraya membungkus nasi goreng yang Alana pesan


Alana memperhatikan mang gugun saja "Mencintai itu bukan mudah neng apalagi ketika dua kepala dijadikan satu" ujar mang gugun tertawa kecil "sulit bukan berarti ga bisa. mencintai itu artinya menerima baik buruknya seseorang neng, kalau belum bisa menerima itu yah tidak usah cinta cintaan atuh neng" jelasnya panjang lebar


"rasanya lebih indah saat kita dicintai karena diri kita sendiri bukan harus menjadi apa yang pasangan kita inginkan" sambung mang gugun seraya memberikan sebungkus nasi goreng itu


Alana menerimanya ia mengangguk "gitu ya mang tapi" ucapnya gantung seraya memberikan selembar uang berwarna biru itu


"kenapa atuh neng?" Tanya mang gugun


"Langit bukan pasangan Alana tau! mamang ih" ujarnya lalu melongos pergi


mang gugun menatap punggung Alana yang kian menjauh ia mengeleng gelengkan kepalanya lalu menghela nafas kecil "Dasar abg labil" mang asep kembali duduk di tempatnya


...________________...


...______...


Alana sedang duduk di sofa merah tua itu tiga jam yang lalu mama yora harus berangkat ke luar kota karena Raka, papa Langit mengalami tabrakan beruntun Alana terus menghubungi semua sosmed Langit namun tak ada satupun pesannya yang terbalas


Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya buliran buliran bening itu terus membasahi pipi mulusnya bi iyem hanya menatap sendu saja ia tak berani untuk menenangkan gadis itu


sekarang sudah pukul tiga pagi namun Langit tak kunjung menampakan batang hidungnya


"Non, istirahat aja ya non kamarnya udah bibi siapin" tawar bi iyem seraya menunduk Alana menggeleng lemah


"Engga bi, Lana gabisa tidur sekarang" jawabnya dengan suara tercekat

__ADS_1


...CEKLEK...


pintu bercat putih itu terbuka menampakkan seoarang pria bertubuh jangkung itu dengan wajah yang hampir penuh luka dia- Langit sadewa


Langit berjalan cepat menarik Alana dalam dekapannya namun gadis itu langsung berontak


"Gaada yang nyariin lo kan?" Ujar Langit mengelus rambut Alana dengan sayang


Alana mengerutkan dahinya tak mengerti, Langit menghapus jejak air mata yang tertinggal disana gadis itu langsung menepisnya


"Lo kemana?!" Tanya Alana emosi


Langit diam, ia merunduk saja "Gue tadi --"


"Apa?!" sela gadis itu cepat


"lo berantem? Nyerang markas geng lain? buat apa Langit?!" senggak gadis itu terisak


Langit menatap Alana sendu iya, Langit memang menyerang markas geng the dark karena sang ketua the dark menjadikan Alana sebagai objek taruhannya dengan Anggotanya- Daniel harisdjaya


"Papa" lirih Alana membuat dahi Langit berkerut


"Papa kecelakaan" ucap Alana susah payah Langit meraup wajahnya kasar


"Mama mana?" tanyanya dengan deru nafas memburu


"mama kesana"Jawab Alana masih terisak


Langit menarik Alana dalam dekapannya Alana membalas pelukan Langit kencang "Lo kemana Langit" langit tak menjawab ia biarkan gadis itu menumpahkan seluruh emosinya pada dirinya


Langit menggusap rambut Alana pelan "Maaf lan" lirihnya


Dering telfon itu membuat Langit merogoh kantong jaketnya


"mah, papa gimana?" Tanya Langit to the point, Yora terisak ia benar benar tidak sanggup


"papa kamu" ucapnya terbata bata


"mah papa kenapa?" Tanya Langit sekali lagi


"papa kritis" Tangis Yora pecah Alana menjatuhkan dirinya di sofa itu buliran buliran cair itu tak henti hentinya keluar


"ARGHHHH" Langit membanting handphonenya ke sembarang arah fikirannya kalut, ia tidak bisa berfikir jernih ditendangnya meja kaca itu dengan keras


bi iyem kaget lalu merunduk lagi ia tak berani mengeluarkan sepatah katapun


"Langit" panggil Alana dengan suara tercekat is berjalan pelan mendekati pria itu Langit menoleh memeluk Alana erat


"Papa gapapa Langit, besok pagi kita susul Mama ke jogja ya" Alana mengelus pundak Langit pelan ia tau Langit butuh ketenangan saat ini


bi iyem pamit untuk mebersihkan pecahan kaca di lantai dan di angguki Alana


"Kalau aja gue ga pergi tadi pasti mama ga pergi sendiri kesana" ucapnya lirih suara Langit sudah bergetar


"Gapapa, Lo butuh waktu sendiri?" Tanya Alana memaksakan tersenyum


Langit menggeleng "Temenin gue, gue butuh lo" Langit mendudukan Alana di sofa itu lalu ia duduk di sebelah gadis itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Alana di genggamnya erat jari jemari mungil gadis itu "Jangan tinggalin gue sendiri lan, kalo lo pergi gue mati"


..._____________________...


...___________...


...____...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2