ABOUT "US"

ABOUT "US"
SEMBILAN


__ADS_3

Alana berlari terengah engah dan langsung menerobos rumah di sebelah rumahnya, gadis itu terus berlari menaiki anak tangga lalu mengetuk pintu bercat putih itu


"LANGIT BANGUN!!" panggilnya berteriak


"LANGIT!" panggilnya lagi namun tetap saja tak ada jawaban dari dalam


Alana memutar knop pintu itu yang ternyata tidak di kunci, langsung saja ia menerobos masuk dan menarik selimut tebal yang menyelimuti tubuh Langit


"LANGIT!" Kesalnya pada langit seraya mengoyang goyangkan bahu langit namun cowok itu malah memutar posisi menghadap kanan


Alana naik ke dalam kasur king size itu lalu menarik kelopak mata Langit ke atas


"BANGUN LANGIT!" ucapnya lagi


Langit berdecak sebal lalu membuka matanya perlahan "apaan sih cil? ganggu mulu" ujarnya menutup wajahnya dengan selimut tebal itu


"Langit ih" kesal gadis itu merengut


"Apa cil apaa" ucalnya seraya terduduk


"mama telfon gue tadi" ujar gadis itu tak semangat


"terus?" Alana berdecak sebal


"Papa lo dalam keadaan kritis mama minta kita buat kesana, mama bilang mungkin tuhan lebih-"


"ga, lo ngomong apa sih cil? udah mending lo siap siap kita cabut sekarang"Alana mengagguk mantap lalu bergegas keluar kamar Langit


"Ga pake lama ya cil" teriak Langit, Langit melihat tanggal di hanphonenya, 17 Desember ternyata besok adalah hari ulang tahun Alana ck! hampir saja ia lupa


untung saja ia tidak melupakan kadonya, langit sudah menyiapkan cicin berlian dan seratus bunga mawar


semoga saja besok juga menjadi waktu yang tepat untuk menyampaikan perasaannya


semoga.


Langit menelfon mamanya dan langsung terhubung


"hallo ma"


"kenapa Langit? kalian jadi kesini kan?"


"Jadi ma, eum besok ulang tahun Alana kan ma?"


terdengar helaan nafas panjang disebrang sana "Mama hampir lupa" ucapnya diringi tawa kecil


"Eum, tentang surat itu apa Alana akan tau sekarang?"

__ADS_1


hening


Tak ada jawaban


"ma?"


"iya, mama harap kamu tidak kaget ya" Langit mengerutkan dahinya heran


"maksud mama?"


"Engga, kamu sudah makan? jangan lupa makan ya nak,mama tunggu bye" Langit bingung tapi sudahlah itu hanya tentang harta dan kenyataan kedua orang tua Alana bukan? tak ada hubungannya dengannya


"Langit gue ud-" Alana menganga lebar saat melihat Langit masih di atas kasur sambil bermain ponsel


"LANGIT" Alana meletakan kedua tangannya di pinggang


"Mandi sekarang!" titah gadis itu geram


Langit tertawa kecil, entah kenapa setiap Alana marah padanya ia tak terlihat menyeramkan sama sekali. gadis itu malah terlihat lucu dan mengemaskan


"Kan lo ketawa! lo ngeledek gue ya! MANDI SEKARANG! GUE SERET YA!!" Alana mengembungkan pipinya marah demi apapun gadis ini sangat manis dan menggemaskan


"Iya iya, gue mandi sekarang ni" ujar Langit lalu mengambil handuk yang tergantung itu


"Gue tunggu di luar sekalian delvery yaa" Alana keluar dari kamar Langit tanpa menunggu persetujuan dari cowok itu


Langit menuruni anak tangga satu persatu sesampainya di bawah ia mendapati banyak sekali makanan dan gadis dengan rambut sepunggung itu tengah menyantap 1 kotak pizza dan hanya tersisa 1 potong lagi


"Apwa sih Lang, mawu?" ucapnya sambil mengunyah pizza lagi


Langit menggeleng gelengkan kepalanya heran " LO BULET!" ledek Langit membuat Alana melotot dan langsung melihat dirinya sendiri


Alana meletakan pizza yang tinggal satu gigitan lagi lalu ia berlari ke cermin panjang di sana, Alana melotot lalu ia berlari lagi ia menemukan timbangan dan "LANGIT NAIK 2 KILO!!"


terdengar kekehan tawa disana, sebenarnya tak ada yang salah Langit memang sudah menyetel mesin timbangan itu, berat badan Alana masih tetap sama


...______________...


...____...


TINGGGGGG


bunyi itu terus terdengar di telinga Bumi, wajahnya pucat, rasa nyeri itu kerap mendatanginya. sakit.sangat sakit


hoekkkk


Bumi memuntahkan darah kental itu untuk kesekian kalinya di peganginya kepalanya sendiri

__ADS_1


benda pipih miliknya berdering dengan tangan gemetar di angkatnya telfon ini


"Hallo nak, jangan lupa minum obatnya ya, mama udah letak di atas meja" Bumi diam saja ia berusaha mengatur deru nafasnya, tangannya mencengkram dadanya kuat, tidak. dia tidak boleh terlihat lemah


"sudah ma" bohong Bumi ia berusah menjawab dengan suara senetral mungkin namun tetap saja deru nafasnya yang memburu tal dapat ia pungkiri


"Kamu belum minumkan? Bumi ini untuk kamu nak, untuk hidup kamu, tolong dengerin mama" lirih mama Bumi


"Tapi ma, Bumi mau-mati" setelah mengatakan itu bumi mematikan telfon itu sepihak lalu di campakannya beda pipih itu ke sembarang arah


"ARGHHHHH" erangnya dadanya berdenyut nyeri


"Ma-u mat- i" ucap Bumi lirih ia terduduk lemas dan


BRUKKKK


pintu kamarnya terdobrak ternyata adiknya yang merusaha mendobrak pintu itu sekuat tenaganya


Gesya berteriak histeris saat melihat kakak laki lakinya terkulai lemas di lantai, sudah banyak darah yang tercecer di lantai itu


Gesya menghampiri Bumi di raihnya kepala Bumi lalu di letakannya di pahanya, di raihnya wajah Bumi dengan tangan gemetar


"ka-kak" Gesya mengelus puncak kepala Bumi dengan sayang tanganya gemetar hebat melihat mata Bumi yang berkedip dengan susah payah


"Kakak kenapa? kenapa ga bilang aku? kak jangan gini" lirih gadis itu buliran buliran kristal itu sudah turun sedari tadi membasahi pipi mulusnya


Bumi terbatuk pelan "UHUKK,, gue- ga-papa" ucapnya terbata bata


Gesya menelfon ambulance dengan segera "Kakak harus tetap hidup, kalo kakak mati aku ikut" Ucap Gesya dengan mengengam jemari kakaknya


dering telfon itu berdering lagi Gesya mengangkat telfon dari mamanya "Hallo ge, mama masih lama lagi pulang kamu cek kakak mu ya, dia belum minum obat" Gesya melirik Bumi yang menggelengkan kepalanya pelan


"iya ma, udah di minum kok" jawab gesya berbohong


"syukurlah, mama lanjut dulu ya" ucap Ike lalu mamatikan telfonnya sepihak


Gesya tidak sabar menunggu ambulance itu datang "kak gue emang anak karate, tapi lo berat gue ga kuat angkat" ucapnya sambil mengusap pipinya pelan


"Uhukk,, ga perlu lo angkat ge, gue kuat" Gege menggeleng ia mengelus puncak kepala Bumi pelan


"Dari dulu lo itu emang sok kuat ya kak, tapi gapapa gue minta tetap bertahan ya"Bumi menggeleng


"pengen mati" ucapnya


"sakit ge" lirihnya sambil mencengkram dadanya kuat


"lo kuat, gue percaya itu" ucap gesya meyakinkan Bumi sembari mengenggam jemari kakaknya memberi kekuatan

__ADS_1


"Lo kakak terkuat dan terkeren yang gue punya" Gesya memeluk kepala Bumi lalu di usapnya sisah darah di ujung bibir Bumi


suara ambulance itu membuat Gesya langsung meletakkan kepala Bumi kembali di lantai


__ADS_2