
Dibawah pohon rindang itu terlihat seorang remaja SMA tengah menatap ke arah langit dengan tatapan kosong, fikirannya melayang entah kemana namun tiba tiba bayangan seorang gadis bersurai sepunggung itu malah muncul seenaknya saat pria itu memejamkan matanya, disana ia lihat gadis itu tersenyum menampakan deretan gigi ratanya dan membuat lesung di pipinya terlihat jelas
di bukanya matanya perlahan lalu di hembuskannya nafasnya pelan "Sampai kapan" gumannya tiba tiba
ia menyukai gadis itu bahkan sangat. ia ingat saat pertama kali ia melihat gadis itu di sekolahnya saat itu, gadis dengan rambut di gerai indah itu berjalan seorang diri lalu seorang remaja seusianya datang dan langsung mencubit pipi gadis itu, ia ingat wajah kesal adik kelasnya itu benar benar menggemaskan. ia ingat bagaimana cara gadis itu tertawa, marah, bahkan hampir menangis, sangat cantik.
keesokan harinya ia tau siapa nama gadis itu dia, Alana febyolla. ia selalu memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu bahkan sering kali ia memotret gadis itu secara diam diam. yang dapat ia lihat bahwa teman sekelasnya yang sering bersama gadis itu memeliki perasaan lebih untuk seorang Alana dan yang membuatnya kaget adalah fakta bahwa gadis itu menyukainya.
jujur, ia senang bahkan amat teramat senang namun di sisi lain ia sedih, seorang penyakitan sepertinya tak pantas untuk sekedar dicintai.
ya, dia adalah Bumi antariksa cowo dingin dan memiliki wajah tampan rupawan, ah iya otak yang di milikinya pun tak bisa di ragukan ia salah satu idaman siswi SMA CAKRAWALA Dengan wajah tampan dan otak yang encer itu dapat membuatnya menjadi salah seorang mostwanted SMA CAKRAWALA
namun tak ada yang mengetahui di balik sikap dingin dan acuh tak acuhnya, wajah datar dan tak berekspresi memiliki sejuta luka yang mendalam sedari lahir ia mengidap gagal jantung. ya, ia sakit.
hal itu membuat pria itu lebih suka menyendiri ia tidak suka keramaian, hidupnya hampa dan kosong hari hari yang ia jalani pun tak ada yang menarik. ia sempat tak ingin sekolah lagi toh, ia tak akan bertahan lama kematian itu akan datang sebentar lagi
namun saat itu ia melihat gadis itu tersenyum, saat itu desiran aneh yang ia rasakan membuatnya ikut tersenyum meski seulas senyuman tipis
benda pipih itu berdering membuat cowok berseragam CAKRAWALA itu tersadar akan lamunannya tertera jelas disana mama yang menelfonnya
"Hallo ma"
"Anta, pulang sekarang kamu ga bawa obat kan?" suara cemas ike membuat Bumi berdesis
"ma, aku sehat ma" ujarnya memijat pelipisnya
"nak tolong mengerti, bagi mama hidup kamu jauh lebih berharga" ya, Bumi mengerti maksud Ike ia takut anaknya ini mati tapi, itu kan hal yang pasti bukan?
"Bagi mama? tapi enggak buat papa kan ma" terdengar isakan tangis kecil itu membuat Bumi mengeram sebal
"Anta pulang" ucapnya lalu mematikan telfonnya sepihak
Bumi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi namun tiba tiba benda pipih itu berdering kembali
...gesya...
*bang
masih di luarkan?
nitip pembalut dong:(
please*:(
^^^*mls^^^
^^^suru papa aja^^^
dih gila
mana mau papa
__ADS_1
^^^mau^^^
^^^lo kan anaknya^^^
lo kan juga ****!
^^^...bukan....^^^
^^^anaknya cuma lo^^^
bang
jangan ngomong gtu
papa sayang sama lo
^^^sama lo^^^
^^^gue ga^^^
^^^gue bukan anak dia.^^^
read 15:23*
Bumi melihat adiknya itu tidak membalas pesannya lagi, ia memutuskan untuk melajukan motornya kembali tapi sepertinya ia harus ke mini market terdekat terlebih dahulu
Bumi memasuki mini market itu lalu ia melihat lihat dan, ketemu! tapi tunggu, banyak sekali ia tidak tau adiknya menggunakan yang mana ah sial!
puk puk puk
Bumi berusaha menetralkan raut wajahnya seperti biasanya jujur, dalam hatinya ia memuji gadis di hadapannya dengan pakaian seperti itu saja gadis itu masih terlihat cantik
"hai kak!" sapanya hangat
Bumi dian saja seperti biasanya "Kak Bumi mau cari apa?" ****! kenap gadis ini harus bertanya? ia harus menjawab apa?
"mau cari pembalut buat pacarnya ya?" ujar gadis itu berusaha tersenyum namun dapat di lihat tatapan terluka jelas tercetak di mata coklat gadis itu
"adik gue" sahut Bumi, Alana manggut manggut saja
"kak Bumi ga pernah cerita kalo kakak punya adik" ucap gadis itu menunduk
"apa urusannya sama lo? gaada penting pentingnya juga" Lagi dan lagi ia harus melihat tatapan terluka itu, cih! ia benci dirinya sendiri ia terlalu lemah
"em, aku biasa pake yang ini kak nih kasih aja yang ini" Alana memberikan sebungkus besar pembalut itu
"oke, makasi" ujarnya dingin
mereka saling diam Alana hanya menunduk dan entah kenapa kaki Bumi berat sekali untuk beranjak dari tempat itu
"tuhan, bisakah engkau takdirkan gadis ini untukku?" lirih Bumi dalam hati
__ADS_1
"Lan"
"kak"
mereka saling pandang cukup lama hingga Bumi memutuskan kontak mata itu terlebih dahulu
"bisa kakak kasih aku kesempatan?" Bumi menoleh
"untuk?" tanyanya bingung
"mencintai kakak" Bumi merasakan sakit di relung hatinya semakin keras gadis ini untuk bersamanya semakin ia merasa lemah, ia akan mati dan ia tak ingin Alana bersedih nantinya
"boleh" Alana membulatkan matanya sempurna setelah mendengar penuturan itu keluar dari mulut Bumi
"Lo boleh mencintai gue lan, tapi kalo lo berharap perasaan itu terbalas, maaf lan itu gaakan terjadi" Senyum merekah itu perlahan memudar mata Alana sudah berkaca kaca dan pandangannya tak beralih sedikitpun ia tetap menatap iris hitam Bumi
"Jangan nangis lan, maaf. gue cinta sama lo" ucap bumi dalam hati
"kak, apa kakak punya wanita yang mengisi hati kakak" Bumi menelan salivahnya susah payah ia ingin mengangguk namun sialnya ia malah menggeleng pelan
sakit.
itu yang ia rasakan tiap kali buliran cair itu jatuh membasahi pipi gadisnya
"Kenapa? kenapa sesusah itu kakak terima kehadiran aku?" suara gadis itu tercekat jika Alana seperti ini terus apakah Bumi akan sanggup?
..." gue ga bertahan lama lan" batinnya...
"lo gaakan ngerti" ucapnya dingin sedingin mungkin
"apa kakak benci sama aku?" Bumi membuang nafasnya gusar tiba tiba saja rasa nyeri itu datang lagi rasa nyeri itu membuat deru nafas Bumi tak terkontrol demi apapun ia takmau seorangpun tau tentang penyakitnya
"gue harus pergi" Bumi melangkah cepat rasanya sakit. ia ingin mati.
Alana menghapus buliran cair itu dari pipinya lalu tak lama pipinya terasa dingin ternyata ia, Langit sadewa sudah berdiri dan menempelkan minuman dingin itu di pipinya
"ih Langit!" kesalnya merengut
Langit tersenyum tipis "Dia udah nolak lo untuk keberapa kalinya cil?" Tanya Langit menunduk jujur, ia merasa sangat sakit saat melihat Alana menangis hanya untuk pria itu
"ga kehitung" jawabnya masih mengelap air matanya
"lan" panggil Langit pelan
"hem?" gumannya menatap Langit
"gue sayang sama lo" Alana mengangguk mengerti
"gue juga, udah ah! pengen seblak abis dari sini keliling ya cari jajan" pintanya tersenyum dan memainkan matanya lucu
Langit tersenyum seraya mengangguk semoga gadis yang sudah hidup hampir 17 tahun bersamanya akan tetap dengannya. semoga semesta mengerti bahwa ia, Langit sadewa mencintai sahabat kecilnya ini
__ADS_1
"semoga pelukmu masih tertuju padaku"
-Langit sadewa