
... Kamu memilih dia yang melihatmu saja ia enggan...
-Langit sadewa
BLAMM
Langit menutup pintu dengan keras membuat yora ibunya keluar dari kamar "Kenapa kamu ini?!" Tanya Yora berjalan menghampiri putra nya. di lihatnya Langit berjalan sempoyongan membuatnya langsung mengerti
Yora menggeleng gelengkan kepalanya seraya berdecih "MABUK LAGI!" kesalnya menatap tajam Langit yang sudah terduduk di sofa abu itu
"bii!! bii!!!" panggil Yora berteriak membuat seorang wanita paruhbaya itu dengan cepat berlari menghadap Yora
"bi, ambil air seember ya lihat anak ini makin urakan!" titahnya dan langsung di angguki bi iyem
Yora menepuk pipi Langit pelan namun tak ada hasil anaknya itu malah semakin berbicara tidak jelas yang ia tau putranya menyebut anak sahabatnya, iya Alana febyolla.
"Sayang lana"erangnya tidak jelas. Yora mengehembuskan nafasnya kasar
"Dasar anak muda" ucap Yora monolog
"ini nya" ujar bi iyem sambil meletakkan air seember itu di lantai
"udahlah bi, gausah biarin aja Langit disini besok pagi baru saya siram pakai air bibi tidur lagi aja" bi iyem mengangguk lalu permisi kembali ke kamarnya
"Raka, harusnya kamu lihat anak kamu sekarang dia bener bener mirip seperti kamu" ucap Yora sambil memandangi wajah Langit yang semakin berbicara tidak jelas
di tinggalkannya Langit di ruang tamu, Yora duduk di meja riasnya di ambilnya benda pipih itu sudah dua hari suaminya tidak memberikannya kabar satu pesanpun tidak ada yang di balas, ah sudahlah! dia tidak boleh berfikir macam macam
Yora memilih melanjutkan tidurnya saja "Semoga kamu masih inget aku ya, Raka sadewa" ucapnya lalu memejamkan matanya
...______________________...
...____________...
byurrrrrrrr!!!!
__ADS_1
Langit mengerjap matanya cepat ia langsung duduk dan mengelap wajahnya, bajunya sudah basah kuyup matanya menangkap sosok gadis mungil yang tengah berkacak pinggang dan menatapnya tajam
"Lo minum kan!" Tutur gadis itu menoyor kepala Langit kesal pasalnya Langit pernah berjanji padanya untuk tidak menyentuh minuman haram itu lagi tapi Langit menginkarinya sekarang
"Engga lana" jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur, Alana menatapnya tajam dan ingat ya, hanya Alana yang berani menatap Langit dengan tatapan seperti itu
"Lo kenapa suka bohongin gue? gue gasuka lo minum! lo ga perna dengerin gue!" Alana membuka baju Langit yang sudah basah lalu melemparkan kaos merah maroon itu dan ditangkap Langit dengan sigap
"Lan, jangan marah" lirihnya memelas mengengam jemari Alana dan menatapnya sayu, Alana menepis tangan Langit kesal
"Gue marah ya sama lo! lo ga pernah nepatin janji lo! gue gasuka Langit" wajah gadis itu sudah merah padam, ya begini lah seorang Alana febyolla mau sekeras apapun ia semarah apapun gadis ini air mata itu akan turun lihatlah sekarang buliran cair itu sudah berhasil melewati pelupuk matanya cih! Langit merutuki dirinya sendiri bisa bisanya ia pulang kerumah saat mabuk semalam ck!
Langit berdiri lalu merengkuh gadis itu dalam dekapannya Alana memukul dada bidang Langit tak terima, namun pria itu malah semakin mengeratkan dekapannya "Maaf lan, maafin gue" lirihnya pelan
Alana tak bergerak lagi ia membalas pelukan Langit "Gue ga suka lang, gue takut" lirih gadis itu terisak ya, saat Alana masih memakai seragam putih biru ia diculik beberapa pereman saat pulang sekolah saat itu Langit tengah ekskul basket ia sudah meminta Alana untuk menunggunya namun gadis ini tak mendengarnya ia pulang sendirian bahkan sempat tersesat hingga malam membuat Langit frustasi mencarinya.
*flasback on
"hai gadis manis ikut om ayo!" ucap seorang pria dewasa dari arah belakang membuat gadis itu menoleh kebelakang dilihatnya kedua preman itu memegang botol miras, dengan tampilan benar benar urakan badan gempal, kalung rantai, anting dan mata merah menyala
kedua pria itu menyengir seraya menarik rambut Alana dari belakang membuat gadis itu terpental kebelakang kepalanya terasa sakit dan dengan mata sayu iya masih berusaha sadar namun semakin lama penglihatannya memudar gadis itu tak sadarkan diri
darah segar itu mengalir dari kepalanya saat itu ia fikir ia akan mati namun ia membuka matanya menatap seorang anak laki laki seumuran dengannya tengah duduk dan mengecupi punggung tangannya dia- Langit sadewa
dilihatnya sekitar ternyata ia berada di rumah sakit di dengarnya isakan kecil penuh penyesalan keluar dari mulut Langit berkali kali ia mengucapkan kata maaf diringi isak tangisnya
"Langit" lirih Alana pelan membuat Langit sontak mendogak cepat di peluknya gadis itu dan di kecupinya kening Alana berkali kali
"Maaf lana" lirihnya entah keberapa kalinya
Alana mengangguk saja rasanya ingin berbicarapun ia sulit
flasback off*
"iya janji kali ini ga lagi" ucap Langit sungguh sungguh Alana mendongak menatap pria yang jelas lebih tinggi darinya "ga percaya!" kesalnya lalu menengelamkan wajahnya di dada bidang Langit
__ADS_1
Langit memejamkan matanya seraya memeluk Alana apakah bisa ia seperti ini lagi jika Alana bersama orang lain? apakah gadis ini tetap bersikap manja padanya? Apakah Alana masih melarangnya ini itu? entahlah membayangkan Alana bersikap acuh tak acuh saja membuat dadanya menciut
"Gue sayang lo lan" ucapnya pelan
"gue juga"jawab gadis itu lalu menatap Langit memelas "Jangan lagi ya" pintanya dan di angguki Langit
"masih pagi udah peluk pelukan aja, siap siap berangkat sekolah!" perintah Yora bersidekap dada dan menggeleng gelengkan kepalanya
"Langit nih ma, ngeselin!" marahnya memukul pundak Langit seraya melotot sebal
Yora senyum saja melihat ini mereka benar benar cocok, Yora yakin putranya pasti bisa menjaga anak sahabatnya ini dengan baik persis seperti pesan terakhir Gege, bunda Alana sebelum biliau menghembuskan nafas terakhirnya. ya,Alana belum mengetahuinya yang ia tau bunda dan papanya pergi keluar negri untuk mengurus perusahaan yang ada disana tapi sebenarnya kedua orang tuanya sudah tidak ada sejak gadis itu berumur delapan tahun.
Yora geleng geleng saja saat melihat Langit menjaili Alana membuat gadis itu merenggut sebal bibirnya sudah maju satu senti tangannya tak henti hentinya menjambaki rambut Langit sedangkan Langit meringis kecil
"gausah sekolah ya hari ini" ucapan Yora membuat kedua remaja itu beralih menatapnya bersamaan
"Mama mau nikahin aku sama Lana ma? ayo ma! siap Langit mah" ucap Langit sontak mendapat keplakan di kepala belakangnya
"Gue nikah sama kak Bumi, bukan sama lo!" ujarnya ketus Langit tertawa tapi hatinya terluka ucapan gadis itu entah mengapa benar benar terasa di benaknya
"bumi?" Tanya Yora pada mereka
"iya ma, kakak kelasnya lana sekelas Langit tau ma! ganteng banget!!!!tapi Langit gamau bantuin Alana deket sama kak bumi" ujarnya melipat kedua tangannya di dada
Yora menatap putranya sendu ia tau putranya ini sudah jatuh sedari lama dengan Alana, ia mengerti pantas saja Langit mabuk semalam ais! benar benar mirip Raka, fikir Yora
"Eh bulan depan Alana sweetseventeen ya!" tutur Yora memecahkan suasana ia tidak mau membahas Bumi terlalu banyak ia tau itu akan melukai Langit semakin dalam
"eh iyaaa!" sahut gadis itu semangat
"mama bilang kalo Alana udah 17 tahun bunda pulangkan ma? yes! lana ketemu bunda" ucapnya girang memeluk Langit pria itu tersenyum masam satu bulan lagi Alana akan tau bahwa mama dan papanya sudah berbeda alam dengannya
...________________...
...______...
__ADS_1
...TBC...