AKHIRNYA

AKHIRNYA
bab 1


__ADS_3

"mah Abang mah, Abang..


"Sean, kamu kenapa nak, teriak, ada apa dengan Abang..


"itu mah. sean menunjuk ke depan jalan, kulihat di sana Dion di gendong pria dewasa. dan di kerumuni beberapa orang.


aku segera berlari, dadaku sudah terasa sesak, ya Allah apa yang terjadi pada putra sulung Ku, aku segera mendekati kerumunan orang,


"Bu dhena, Dion jatuh, kakinya patah.


semakin ku percepat langkahku, kulihat putraku Dion menangis kesakitan, ku alihkan pandangan ku pada kakinya, ya Allah, tak dapat lagi kutahan, kepalaku pening, tiba tiba dunia terasa gelap, ingatan ku pun hilang,


"saat aku terbangun, aku memandangi sekitar ku, para tetangga dan keluarga berada di samping ku, ingatanku kembali pada Dion putra ku, mataku mencari Dion,

__ADS_1


"Dion di bawa ke tukang urut, suara bibiku menghentikan mata liarku yang terus mencari Dion,


"bibi, apa yang terjadi pada putra ku, aku kembali menangis,


"tenang dulu dhena, Dion akan baik baik saja, dia sudah di bawa ke tukang urut, pasti Dion baik baik,


"suara motor terdengar dari luar, itu, Deri sudah datang, bersama Dion, ayo hentikan tangisan mu,


Dion anakku, Deri adik sepupu ku, menggendong Dion ke kamar,


"nak bagaimana kau bisa seperti ini, apa yang terjadi. kulihat mata Dion berkaca kaca, ingin menangis, tapi terlihat dia menahan nya, nak, menangislah, jika sakit, ku usap punggung putraku, air matanya tak dapat lagi dia tahan, hingga menangis..


"hari sudah malam, rasa sakit di kaki Dion semakin terasa, hingga tak dapat tidur nyenyak semalaman, aku pun juga demikian, rasa ngantuk ku hilang, melihat putraku Dion terus kesakitan..

__ADS_1


"sudah satu Minggu, kaki Dion tak ada perubahan kesembuhan, malah semakin parah, padahal tukang urut nya, setiap hari datang, aku semakin hawatir, kakinya melepuh seperti luka bakar, akibat terjadinya penggelembungan keluar, aku mendatangi bidan yang ada di kampung ini, dia pun menjelaskan, sebaiknya kubawa ke rumah sakit, agar ada penanganan khusus,


masalah ini kurundingkan pada keluarga, namun mereka tidak setuju, karna takut biaya rumah sakit besar, mau dapat di mana kita biaya, kita bukan orang mampu nak, , keluarga pun tetap ngotot memapakai obat herbal, pakai dukung saja, yang mengerti obat herbal,


aku pun kembali pasrah, bener kata mereka, mau dapat di mana biaya rumah sakit, keluarga ku bukan orang kaya, sementara aku sendiri, hanya jualan yang tidak menentu penghasilan, kadang jual kue, kalau ada pesanan, kadang jual ikan, jual pakaian, dari punya orang, yang penting menghasilkan uang halal..


"dua Minggu berlalu, hingga aku tak tahan lagi melihat anakku menderita, diam diam aku membawa Dion ke puskesmas terdekat, aku meninggalkan rumah jam tuju pagi, dengan membonceng Dion naik sepeda motor buntut yang kupunya,


sesampainya aku di puskesmas, para perawat menyambut kedatangan kami, melihat kondisi putraku, para perawat di sana sedikit kesel padaku,


mereka bertanya, sudah berapa hari, kejadiannya, aku pun menjawab, dengan baik tanpa ada yang kututupi.


"perawat disana semakin kesel padaku, sampai mereka bilang, aku ibu yang tidak memikirkan masa depan anakku, karna aku membiarkan nya di rumah, setelah anakku menderita, aku hanya diam dan pasrah, saat para perawat mengomel padaku. karna memang bener aku ibu yang tidak berguna, pikiranku terus melayang, rasa takutku semakin menguasai ku, di saat salah satu perawat itu mengatakan, jika infeksi masuk keparu parunya, resikonya sangat besar..

__ADS_1


__ADS_2