AKHIRNYA

AKHIRNYA
bab 3


__ADS_3

"dok fokus dok, ini nyawa taruhannya nya, orang tua pasien bisa menuntut jika terjadi kesalan,


"astaghfirullah, maaf,


"operasi telah selesai, memberi Jedah lima belas menit,


"suster ilma atur pasien selanjutnya, atas nama Dion Dewantara.


siap dok. perintah Daniel Dewantara. seorang dokter ahli beda tulang.


"dokter Revan melirik sejenak pada dokter Daniel.


"bro, nama pasien Dewantara. bisa kebetulan namanya sama dengan mu, apa kalian keluarga..


"Daniel tak menggubris ucapan Revan, tapi wajah anak itu sangat tidak asing. dan nama yang yang sama juga, apakah dia, ahhh tidak mungkin,


kenapa juga harus aku pikirkan, mungkin memang kebetulan saja. sama.


"lima belas menit berlalu, waktunya untuk operasi pasien.

__ADS_1


"Daniel memandangi wajah Dion. perawat dan pendamping dokter, semua terlihat kaget, saat menyandingkan wajah Daniel dan Dion.


Revan yang ingin menanyakan hal kemiripan ke dua manusia yang berbeda usia itu, namun Daniel segera memerintahkan agar pasien segera di oprasi..


Daniel begitu semangat saat melakukan tugasnya dengan sangat lincah, hingga waktu yang di tentukan lebih cepat dari biasanya, operasi berjalan dengan lancar. pasien sudah berpindah ke perawatan khusus..


"namun beberapa pasien harus Daniel kerja lagi. hingga hampir pagi tiba,


rasa penasaran nya, membuatnya hampir melakukan kesalan ke dua kali nya.


perasaan Daniel terus tertuju pada Dion, Daniel ingin tau, siapa orang tua dion,


langkah Daniel semakin cepat, untuk segera sampai ke ruangan Dion. dalam hatinya terus bertanya siapa ibu dari anak itu..


(masa lalu)


"rumah sakit pendidikan. di kota B tempat Daniel menimbah ilmu.


sebagai anak koas.

__ADS_1


"assalamualaikum permisi pak dokter, pesanan dari kantin, gadis mungil itu mengantarkan makanan pesanan ke ruangan dokter.


"Revan Daniel dan, nani. Nani merupakan seorang dokter muda, yang lebih dulu menimba ilmu, senior di antara Daniel dan Revan, menoleh ke arah sumber suara, seorang gadis pengantar makanan.


"Nani dokter cantik itu mempersilahkan gadis itu meletakkan pesanan mereka, lalu membayar nya.


"kak Nani, gadis yang mengantar makan tadi. anggota baru bude Tuti ya, Revan yang memang selalu kepo, tentu saja menghafal anggota kanting bude Tati, karna memang sudah berlangganan makanan di sana, baru kali ini aku melihatnya mengantarkan makanan, selama Lima bulan aku bekerja disini baru pertama aku melihat nya. biasanya bukan dia. Revan yang memang paling banyak bicara di antara mereka, selalu heboh jika ada yang baru, termasuk gadis itu harus berkomentar, padahal hanya pengantar makanan saja, Daniel yang memang tidak terlalu banyak bicara memilih fokus pada pekerjaan nya.


"baru sebulan ini dia kerja, kenapa, kamu tuh ya, klo liat cewek cantik, kepo Mulu, ingat dia masih kecil, baru enam belas tahun. sementara kamu dah bangkotan.


"ish apaan sih kak Nani, bangkotan kak Nani kali, jawab Revan bercyanda,


aku bangkotan mah dah punya anak, walaupun udah janda, tapi setidaknya aku udah pernah menikah.


"iya iya deh, si paling terselamatkan. dari bangkotan, Daniel hanya menggeleng melihat perdebatan temannya, dan seniornya.


"sebulan telah berlalu. Revan dan Daniel sudah terbiasa melihat gadis kecil itu, dan mereka pun mulai sering ngobrol, Revan dan Daniel lebih sering mengunjungi kanting bude Tuti dari pada di antarkan makan siang mereka ke ruangan nya, toh juga kanting bude Tuti masih dalam area rumah sakit, dhena gadis mungil itu yang sering melayani mereka makan.


"

__ADS_1


"


__ADS_2