
Hai semua,, minta dukungannya yaa. Terima kasih sobat
---oOo---
Sekarang Margareth telah berada di lokasi syuting. Tadi, ia telat ke lokasi selama sepuluh menit. Untung saja nasibnya masih baik. Wanita itu tak mendapat semburan kekecewaan dari pihak manapun.
Ia terlambat dan tak sempat beristirahat. Itu semua karena ulah Rio. Dia benar-benar menganggap hari ini adalah hari yang menyebalkan baginya.
"Kok kau keliatan lemas gitu, Mar?" Michael yang sedari tadi memperhatikan Margareth pun akhirnya bertanya.
Emang benar Margareth terlihat lemas, itu terbukti dari banyaknya kesalahan yang dilakukannya selama beberapa adegan tadi. Dan lagi, baru kali ini ia bolak-balik mengulang-ulang adegan karena banyak mimiknya yang tak sesuai dengan harapan.
Margareth terlihat lemas karena tidak istirahat atau tenaganya sudah dikerahkannya untuk menampar Rio tadi, atau mungkin ia masih memikirkan Rio? Entahlah. Yang pasti tidak semudah itu bagi Margareth untuk melupakan pria yang sempat membuatnya bahagia itu.
Perbuatan Margareth tadi hanyalah ungkapan kekecewaannya. Ia benar-benar tidak membenci Rio.
"Tadi aku gak sempat istirahat, Kak," jawab Margareth pada managernya itu.
Michael menyerngit. Ia memang tadi tidak berada di lokasi syuting, karena ayahnya dikabarkan terjatuh dari kamar mandi dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
"Kok bisa gak istirahat? Emang tadi gak ada waktu break?"
Margareth menggeleng, "Bukan kak. Tadi Rio datang ke lokasi."
"Terus apa yang kau bilang samanya?" tanya Michael yang mulai penasaran.
"Aku bilang ajalah kalau dia udah ketauan selingkuh. Terus aku minta putus darinya."
__ADS_1
"Hahaha...." Michael tertawa lepas, "terus, terus apa lagi?"
"Ih, Kak, jangan terus mulu. Nanti nabrak. Sekali-kali ngerem, Kak, atau belok deh," lawak receh Margareth.
Michael menyentil keningnya Margareth secara lembut, ia pun tersenyum mendengar ucapan konyol Margareth.
"Ih, Kak, kok akunya di sentil? Nanti aku bisa ****** tau. Emang kakak mau kalau adik kakak ini jadi bloon?" ucap Margareth dengan nada manja ala anak-anak yang meminta balon.
"Kau itu bisa aja begini di saat sedang patah hati, ya." Michael tertawa renyah.
Sedangkan Margareth nyenyir. Sebenarnya ia sedang berusaha menutup rasa kekecewaannya pada Rio. Dia tak ingin terlalu memikirkan Rio, karena ia takut tak bisa move on nantinya.
"Oh iya, Kak, kakak mau tau habis itu apa lagi yang terjadi?" lanjut Margareth pada topik sebelumnya.
"Apa?" tanya Michael mulai penasaran mendengar cerita Margareth.
"Mau tau aja atau mau tau banget?" kata Margareth dengan nada meledek.
"Iih, Kakak." Margareth berusaha melepaskan tangan Michael dari pipinya.
"Mau tau banget pake kali, biar jadi banyak." Michael melepaskan tangannya yang sedari tadi mencubit-cubit pipi Margareth.
"Hahaha...." Margareth tertawa lepas, "Nanti banjir, Kak."
"Enaklah banjir, bisa berenang."
"Ih, kakak aja yang berenang di air comberan kaya begitu," ujar Margareth dengan nada yang merasa jijik.
__ADS_1
"Hahaha.... ya udah balik ke topik lah."
"Kakak sih dari tadi bawa topiknya lari-lari mulu," kata Margareth yang menyalahkan Michael, tapi kemudian mereka berdua tertawa lepas bersama-sama.
"Jadi kak, aku tadi nampar Rio. Hahaha...," kata Margareth merasa puas.
Mata Michael membulat lebar, ia kaget mendengarkan ucapan Margareth. Bagaimana tidak? Yang diketahuinya selama ini, Margareth tidak pernah kasar pada orang lain, apalagi sampai main tangan seperti itu.
"Seriusan kamu nampar dia."
Margaret menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk-angguk dengan cepat. Raut wajahnya terlihat begitu ceria. Tapi, hatinya sangat sakit. Bagaimana tidak? Tadi ia menampar orang yang sangat disayanginya. Tapi kembali lagi, itu semua karena rasa kekecewaannya yang begitu besar.
"Iya, kak."
"Kok bisa?"
"Karena kesal. Gak salah kan kak?"
Michael menggeleng, "Ya ngga lah. Malah itu bagus lagi. Biar dia rasain itu rasa sakit yang gak seberapa dibandingkan rasa sakit yang kamu rasakan. Menampar orang itu gak buat dosa, kalau dia memang berbuat kesalahan."
"Iya, kakak benar sekali." Margareth menunjukkan kedua jempolnya ke depan muka Michael.
"Mulai sekarang gak usah ingat-ingat Rio dan bertemu lagi dengannya, ya." Michael menepuk pelan kepala Margareth dengan penuh kasih sayang. Michael benar-benar menyayangi Margareth.
---oOo---
Temen-temen, Casia minta maaf ya kalau updatenya ga bisa banyak dan serajin author lainnya. Soalnya ada naskah lain juga yang harus dikerjakan dan waktu deadlinenya sudah mau dekat,
__ADS_1
:( huhuhu. Doain yaa, semoga Casia bisa bagi waktunya. Terima kasih
Salam manis, casia.