Aktris Idolaku adalah Istriku

Aktris Idolaku adalah Istriku
Eps 6. Rio datang lagi


__ADS_3

Halo sobat q. Haha. Maafkan Casia yang sedikit alay yaa. Oh iya selamat menikmati ceritaku, dan jangan lupa untuk votenya ya. Terima kasih sobat.


Salam manis, casia


---oOo---


Beberapa minggu sudah berlalu sejak peristiwa Margareth memutuskan Rio. Tapi, Rio masih belum terima jika Margareth mengakhiri hubungan mereka. Rio terus-menerus menemui Margareth dan meminta maaf, seperti hari ini.


Ya, saat ini Rio berada di hadapan Margareth, tepatnya di apartemen Margareth.


"Sayang, aku minta maaf." Sudah beribuan kali Margareth mendengar ucapan pria itu, sampai-sampai sekarang ia sudah muak untuk mendengarnya.


"Iya, gue udah maafin lo. Tapi gue gak bisa sama lo lagi! Keputusan gue udah bulat, Yo."


"Kamu mau apa? Aku akan berikan semua yang kamu minta, asal kamu mau menerima cintaku lagi. Sungguh aku menyesal, aku gak akan ngulangi hal yang sama lagi." Kedua manik matanya menatap lurus pada wajah cantiknya Margareth.


"Ck, dia kira kekecewaan bisa di beli dengan uang ataupun barang?" batin Margareth berdesis.


"Gue cuma minta satu kok," kata Margareth tersenyum hambar.


"Apa itu?" tanya Rio penasaran. Ia berharap Margareth meminta hal yang bisa diberikannya, agar mereka bisa bersama lagi.


"Gue cuma mau lo jauh dari gue!"


Gleeek.


Permintaan seperti apa itu? Kenapa Margareth meminta itu?


"Uweeek...." Sebenarnya, sejak awal kedatangan Rio di sini, perut Margareth terasa mulas. Rasa mual datang saat mencium aroma parfum Rio yang menurutnya menyengat itu. Tidak biasanya dia seperti ini, padahal Rio selalu menggunakan aroma parfum yang sama. 

__ADS_1


"Heey, kamu kenapa?" tanya Rio panik saat melihat Margareth yang sedang menutup mulutnya.


Bukannya menjawab, Margareth lekas pergi menuju wastafel yang ada di kamar mandinya. Dia mengeluarkan isi perutnya. Muntahnya berwarna putih kental, karena tadi ia baru saja meminum susu. 


Rio berdiri menunggu Margareth di depan pintu kamar mandi. Ia benar-benar khawatir pada keadaan Margareth saat ini.


Tak lama kemudian, Margareth membuka pintu kamar mandi, ia keluar dari kamar mandi dan sedikit kaget saat melihat Rio berdiri di hadapannya saat ini?


Rio memegang kedua pundak Margareth, ia menatap wajah Margareth dengan teliti.


"Kenapa kamu pucat? Kamu sakit?"


Ya, bibir Margareth pucat saat ini. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mual muntah seperti ini.


"Aku ga sakit kok! Cuma kayanya aku salah makan aja deh!" jawab Margareth.


Rio membopong tubuh sexy nya Margareth menuju sofa yang ada di ruang tamu. "Ya udah, duduk dulu."


Walaupun Rio bukan Dokter, tapi ia tahu obat apa yang bisa mengurangi rasa mual. Dan lagi, ia tahu persis di mana letak persediaan obat Margareth. Mereka berpacaran sudah hampir 3 tahun, jadi ya wajar saja jika Rio mengetahui isi rumahnya Margareth.


"Ini obatnya," ucap Rio sembari menyodorkan satu tablet obat mual dan segelas air putih hangat.


"Makasih ya," ucap Margareth mengambil obat mual dan air putih yang ada di tangannya Rio.


"Kamu pucat banget, Mar. Apa gak mau ke dokter aja?"


"Ga usah, Yo. Paling bentar lagi setelah minum obat, gue udah baikan kok," kata Margareth menolak ajakan Rio.


"Tapi aku khawatir sama kamu."

__ADS_1


"Gue gapapa kok. Lo pulang aja. Bentar lagi udah mau malam. Nanti gue suruh kak Michael aja yang nemani di sini."


Ya, sewaktu pacaran, Rio sering bermalam di apartemennya Margareth. Tapi ia tidak pernah berani menyentuh Margareth di sana, karena Michael sering tiba-tiba masuk tanpa izin. 'Kan jadi engga nikmat lagi kalau sudah terangsang, tiba-tiba terhenti karena gangguan orang.


Omong-omong, Margareth tak pernah berani sendiri. Itu sebabnya ia selalu minta di temani.


"Gak! Aku tetap di sini nemani kamu." Bersikeras Rio menolak.


Margareth hanya menghela napas, ia tahu bahwa pria yang ada di hadapannya ini memang tak bisa dilawan. Tapi, ia harus berhasil mengusir Rio dari sini. Dia tak mau kalau managernya itu sampai tahu kalau Rio menemuinya lagi.


Tiba-tiba handphone Margareth yang sengaja diletakkannya di meja ruang tamu itu berbunyi. Satu panggilan masuk. Rio dan Margareth menatap ke layar handphone Margareth, nama Michael terpampang di sana. Margareth segera mengambil handphonenya dan mengangkat panggilan Michael.


"Halo, kenapa, Kak?" kata Margareth membuka awal pembicaraan.


"Mar, kau gakpapa sendiri di apartemen, 'kan? Aku gak bisa nemani karena papaku gak ada yang jagain di rumah sakit."


"Jadi kakak ga bisa ke sini?" tanya Margareth yang bermaksud meyakinkan ucapan Michael.


"Iya, maaf, ya. Kalau kau takut, kau pulang saja ke rumah orang tuamu. Apa perlu aku mengantarnya?"


"Ga usah, Kak. Aku di sini aja."


"Serius?"


"Iya, Kak. Titip salam ya kak sama Om Kevin. Maaf, aku belum sempat jenggukin."


"Iya, nanti ku sampaikan salammu ya. Aku tutup dulu teleponnya, aku juga lagi nyetir ini."


"Iya, kak. Hati-hati di jalan ya, Kak."

__ADS_1


Teet. Panggilan pun terputus secara sepihak. Michael yang memutuskan panggilan itu.


__ADS_2