
Di atas tempat tidur, Margareth sibuk membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan. Kantung matanya menghitam dan sklera mata yang seharusnya berwarna putih berubah menjadi warna ke merah jambuan. Satu malam ini ia tidak ada tidur, dan rasanya jiwa serta raganya sangat malas untuk berangkat kerja. Padahal hari ini ia harus ke lokasi syuting. Margareth begini karena ia terus saja memikirkan Rio dan nasib bayi yang dikandungnya serta nasib karirnya nanti.
Tok.... Tok....
"Margareth, buka pintunya!" Seseorang di balik pintu kamar Margareth mengetuk pintu serta berseru.
Suara barintone itu sudah tak asing lagi di telinga Margareth. Ya, itu suara Michael, managernya. Michael mengetahui kunci password apartemen Margareth, makanya ia bebas masuk kapan pun ia mau.
Margareth yang masih mengenakan piamanya dan tergeletak di tempat tidur, segera bangkit dengan jalan yang ogah-ogahan. Ia membuka pintu dengan kunci yang menggantung di mulut pintu. Hingga menampakkan sosok Michael di balik pintu.
"Kau belum siap-siap?" Michael tampak terkejut saat melihat Margareth yang masih mengenakan piamanya.
Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul 08.05 WIB, sementara ia bekerja pukul 09.00 WIB, dan untuk menempuh perjalanan membutuhkan waktu tiga puluh lima menit.
Margareth belum menjawab pertanyaan Michael. Ia masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa yang letaknya di depan tempat tidurnya. Michael mengikutinya sambil menunggu jawaban dari wanita itu.
"Kayanya aku ga ke lokasi dulu deh kak."
Michael melotot, dan menatap Margareth dengan sorot mata tajamnya, "Kau sakit?" Punggung tangannya menempel di kening Margareth untuk memeriksa suhu tubuh Margareth tanpa termometer, "tapi ga panas!"
Margareth menggeleng, "Engga kak! Aku gak sakit."
"Terus?" Michael mengamati wajah Margareth secara teliti. "Kenapa matamu sembab begitu? Kau kurang tidur?"
Margareth menjawab pertanyaan Michael hanya dengan anggukan.
__ADS_1
"Apa kau nangis?"
Wanita itu mencoba tersenyum, tapi tetap saja, ia tak bisa menutupi perasaannya. Ya, Margareth memang tak pernah bisa berbohong pada orang, apalagi orang yang sangat dekat dengannya.
"Engga kok."
"Bohong!" Michael membantah. Ia sangat hapal bagaimana raut wajah wanita itu saat sedang berbohong. Cupping hidung Margareth pasti akan kembang kempis dan manik matanya terlempar ke segala arah tanpa memandang wajah orang yang dibohonginya.
Air mata Margareth pun akhirnya menetes. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya yang terkatup.
"Kau kenapa Margareth?" Michael mulai panik, ia memegang pundak Margareth, tangannya pun berusaha untuk membuka tautan tangan wanita itu yang menutup mukanya.
Pipinya sudah dibasahi dengan air mata dalam sekejap saja. Refleks, Michael memeluk wanita di hadapannya. Ia berharap pelukannya dapat menenangkan perasaan Margareth.
"Kalau ada masalah cerita saja," ucapnya menatap lurus ke arah Margareth sambil menyunggingkan senyum apiknya. Kedua tangannya menempel di atas pundak kanan dan kiri Margareth, sambil menepuk-nepuk lembut pundak wanita yang ada di hadapannya itu.
Michael yakin kalau Margareth masih merasa ragu untuk bercerita. Ia berusaha meyakinkannya agar Margareth mau berbagi isi hatinya dengan pria yang dianggapnya kakaknya itu.
"Tapi kenapa?" tanyanya lembut bak kain sutra.
"Kak Mike jangan marah ya."
Michael mengangguk. Senyumnya masih terlukis di ujung bibirnya.
"Janji?" Margareth menunjukkan jari kelingkinya di hadapan Michael. Pria itu pun dengan cekatan menempelkan juga jari kelingkingnya. Itu akan sebagai bukti perjanjian mereka. Ya, seperti masa anak-anak memang.
__ADS_1
"Aku hamil, Kak dan anak yang aku kandung itu anaknya Rio."
Michael yang mendengarkan perkataan Margareth sangat terkejut. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Margareth
"Kau sungguh tidak berbohong?" tanyanya mencoba meyakinkan kalau ucapan Margareth tadi hanyalah bercanda. Tapi, kenyataannya berbeda Margareth makin menangis.
"Iya Kak aku nggak bohong." Kepalanya menunduk, air matanya mengalir begitu cepat hingga membasahi celana piyama yang dikenakannya. Tangan Margareth juga meremas-remas celana piyamanya.
Michael menarik dalam napasnya dan mengeluarkannya secara kasar, "Kenapa bisa hamil? Apa kalian tidak pakai alat kontrasepsi?" tanya begitu marah. Ia khawatir kalau kehamilan Margareth akan merusak karirnya kelak.
"Tidak, Kak. Kami sudah terlanjur napsu. Maafkan Margareth, Kak." Margareth bersimpuh dihadapan Michael. Tangisannya masih terdengar
Michael mengangkat badan Margareth dan membantunya untuk duduk kembali di sampingnya. "Tenang lah kita cari jalan keluarnya. Aku nggak mau sampai karirmu hancur nantinya." Ia berusaha menenangkan wanita itu hingga tangisannya pun berhenti.
"Terus Margareth harus apa, Kak?"
"Gugurkan janinmu," kata Michael serius.
"Nggak nggak nggak," Margareth menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku nggak mau kalau bayiku digugurkan, Kak! Itu sama aja pembunuh! Bayi ini nggak salah yang salah itu aku dan Rio!"
"Tapi nggak ada cara lain Margareth!" Nada suara Michael meninggi.
"Enggak, Kak pokoknya enggak! Pasti nanti ada cara lain untuk jalan keluar ini, aku yakin itu!" Kemudian ia memikirkan jalan keluar seperti apa yang harus dilakukannya. Tapi, tak satupun ide-ide itu muncul dibenaknya.
"Cara seperti apa itu?"
__ADS_1
---o0o---
Terimakasih buat komen dan dukungannya