
"Cara seperti apa itu?"
Margareth masih sibuk bergelut dengan pikirannya, sehingga ia tidak mendengarkan pertanyaan dari Michael. Pria itu pun tersadar jika wanita di sampingnya ini sedang melamun, karena ia tak mendapatkan jawaban apapun dari Margareth. Ia pun menatap wajah Margareth. Pandangan lurus wanita itu begitu kosong.
"Heey." Michael menjentikkan jarinya tepat dihadapkan muka Margareth.
Wanita itu tersentak, "Ya apa kak?" Pikirannya sudah kembali ke alam nyata.
"Cuma ada satu cara agar anak itu selamat dan karirmu aman."
Margareth mendekat kepada manager sekaligus kakaknya itu. Ia menatap Michael dengan sorot pandang penuh harapan. "Apa itu kak?" tanyanya serius.
"Kau harus menikah dengan Rio."
What? Menikah dengan Rio? Bagaimana mungkin? Rio saja sudah tidak menganggapnya lagi. Bahkan, anak yang di kandung Margareth juga tak dianggapnya sebagai anaknya. Bagaimana mungkin Margareth akan menikah dengan pria itu?! Rio sudah mencampakkannya.
"Gak bisa kak!" bantah Margareth. Raut penuh harapannya tadi seketika berubah menjadi raut penuh kekecewaan.
Michael menyerngit, "why? Rio sudah tau kau hamil?"
__ADS_1
Margareth mengangguk "Sudah kak, dan Rio malah mencampakkanku. Dia tidak menganggap ini anaknya." Margareth menundukkan kepala. Matanya sudah berkaca-kaca. Tak lama lagi, pasti air matanya akan menitik lagi.
Michael mengadukan rahangnya. "Brengsek!" umpatnya. "Aku akan ke rumahnya untuk meminta pertanggung jawabannya!" Pria itu beranjak dari duduknya, ia sudah mengambil beberapa langkah, namun tiba-tiba lengannya ditahan Margareth.
"Jangan, Kak." Margareth memohon pada managernya itu.
Masalahnya, Rio itu seorang CEO yang punya kuasa dan uang. Pasti kalian tahu 'kan apa yang akan terjadi jika kita berani melawan orang yang punya banyak uang? Yang ada bukan dapat jawaban, malah cobaan. Margareth tidak ingin mengambil resiko dengan masalah itu.
'Dreeg, dreeg.'
Tiba-tiba handphone Michael bergetar, lalu menyuarakan lagu I'D Do Anything for Love. Salah satu musik bergenre hardrock favorit Michael. Makanya ia memakai lagu itu sebagai ringtone panggilan masuknya.
Michael merogoh saku celananya, ia melihat nama pemanggil di layar persegi empat yang berukuran 6 inci itu.
"Maaf, Pak. Sepertinya Margareth tidak bisa syuting hari ini. Dia sedang sakit, Pak." Michael menjawab sopan.
Ucapan Michael sebenarnya suatu kebohongan. Margareth sedang tidak sakit. Tapi, mana mungkin Michael membiarkan Margareth yang terlihat lusuh itu untuk syuting. Emang sih, kantung matanya yang menghitam dan mukanya nanti bisa ditutupi dengan makeup. Tapi, tetap saja pikirannya tak bisa ditutupi apa-apa. Margareth bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya.
"Sakit apa?"
__ADS_1
"Badannya demam, Pak. Ini saya mau bawa Margareth ke rumah sakit, Pak. Mohon izinnya ya, Pak."
Hembusan napas Pak Hilman terdengar di balik sambungan telepon mereka, "Ya sudah, hari ini saya izinkan. Semoga Margareth cepat sembuh."
"Terima kasih, Pak."
Sambungan telepon itu pun di putus sepihak oleh Pak Hilman. Ya, Pak Hilman adalah orang yang tidak suka menghabiskan waktunya untuk berbasa-basi.
"Aku udah izini kau untuk membolos kerja." Michael memasukkan handphone ke dalam saku celananya.
Margareth tersenyum senang. Ia sangat beruntung mempunyai manager yang sangat perhatian padanya.
"Makasih, Kak."
"Kau istirahat lah, nanti kita pikirkan lagi gimana caranya. Aku pergi dulu." Cowok itu merapikan rambutnya dan bersiap untuk melangkahkan kakinya. Tapi lagi-lagi Margareth menarik lengannya.
"Kakak mau ke mana?"
"Aku mau ke bandara sekarang. Laura hari ini pulang ke Indonesia setelah selesai pemotretan di London."
__ADS_1
"Oh iya, Kak. Hati-hati di jalan ya, Kak. Selamat bersenang-senang."
Omong-omong tentang Laura, apa kalian mau tahu siapa dia?