
" Maa...minggu depan aku berencana akan ke kota, aku di terima kerja pada sebuah perusahan percetakan majalah" ucap Amanda pada orang tuanya saat sedang sarapan di sebuah pagi.
" Sejak kapan kamu melamar kerja ? " tanya mama sedikit cemas mendengar anaknya akan pindah ke kota.
" Apa sudah kamu pikirkan matang-matang? " tanya Papa yang sejak tadi sibuk membaca koran.
" Entahlah, aku hanya merasa bosan jika di rumah terus, aku ingin suasana baru" ucap Amanda ragu-ragu.
" Jika kamu memang sudah memutuskan, sebaiknya kamu bertanggung jawab atas keputusanmu. Papa tidak mau suatu saat nanti kamu mengeluh kelelahan karena bekerja jadi bawahan di sebuah perusahaan." ujar Papa.
" Tidak pa, aku mungkin akan menikmatinya. Aku benar-benar ingin pergi ke kota untuk mendapatkan pengalaman baru dan tempat baru" ujar Amanda.
" Baiklah kalau begitu, Mama akan telfon Romi agar dia membantu mencarikan tempat tinggal buat kamu di sana" ucap Mama sambil meraih Hp dan mencari nomor romi.
" Jangan Ma....!"
" Aku tidak mau kakak tau kalau aku pindah ke kota" Amanda berbicara sedikit tertunduk sehingga membuat orang tuanya merasa ada sesuatu yang aneh padanya.
" Apa kalian baik-baik saja? "
" Biasanya kalian selalu berdua kemana saja" ucap Papa.
__ADS_1
" Kak Romi punya kehidupannya sendiri pa, aku tidak mau terus-terusan bergantung padanya" kata Amanda.
" Baiklah kalau begitu" ibu meletakkan kembali hp nya di atas meja.
" Aku akan membereskan barang-barang ku." ucap Amanda sambil berlalu dari hadapan orang tuanya.
" Mama akan membantu" ucap Mama sambil berdiri dan mengikuti Amanda.
*
Papa terus membaca koran sambil meneguk segelas kopi sedang Mama buru-buru mengikuti Amanda yang sedang menuju ke kamarnya.
" Apa ada masalah?" tanya Mama saat sudah berada di kamar Amanda.
" Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk kerja? bukankah kamu sudah punya penghasilan dari youtube ?" tanya Mama sambil membuka lemari baju Amanda.
" Aku ingin punya suasana baru Ma, aku bosan di rumah terus" ucap Amanda dengan nada sedih.
" Ceritakan pada Mama saat kamu sudah siap untuk bercerita" Mama seperti ahli psikologi yang seakan tahu isi hati dan pikiran Amanda.
" Aku akan pulang setiap seminggu sekali, jadi mama jangan menjengukku di sana." tegas Amanda.
__ADS_1
Mama terdiam mendengar perkataan anaknya, Mama menatap Amanda dengan wajah sedih dengan selimut di tangannya yang setengah terlipat.
" Apa kamu sudah menemukan rumah kontrakan?" tanya Mama lagi.
" Belum, aku tidak tinggal di kontrakan tapi di kos-kosan" kata Amanda.
" Apa ? kos-kosan? " Mama sedikit cemas dengan pernyataan dari anaknya. Mama tahu betul bagaimana rasanya hidup di kos-kosan.
" Sebaiknya kamu sewa rumah saja, akan lebih nyaman jika tinggal sendiri" ucap Mama.
" Aku akan ngekos di kos-kosan Bella Maa...!" ucap Amanda yang mondar-mandir mencari barang-barangnya yang akan di bawa ke kota.
"Bella anaknya kepala Desa itu? " ucap Mama.
" Iya"
" Syukurlah kalau kamu tinggal dengan salah satu orang komplek kita, setidaknya Mama tau harus menghubungi kemana jika kamu tidak angkat telfon Mama".
" Aku sudah besar Maa... !!"
" Kamu masih seperti bayi di mata Mama!" ucap Mama.
__ADS_1
Baju Amanda sudah siap di kemas, Amanda merapikan kamarnya agar kamarnya bersih sebelum ditinggalkannya.
" Aku akan merindukanmu" ucap Amanda pada kamar kesayangannya tersebut.