Aku Diam Bukan BODOH

Aku Diam Bukan BODOH
Dilamar


__ADS_3

Dan akhirnya di sinilah Cinta bersama Tomi. Yang menghadiri pernikahan sepupu Tomi dan seorang wanita yang dikenal Cinta.


"Ratu?" Tanpa sadar Cinta mengucapkan nama pengantin wanita.


"Kau kenal?" tanya Tomi.


"Ya, dia orang yang merebut suamiku."


"Jadi apa kau ingin pulang? Aku tak akan memaksamu untuk memberinya ucapan selamat."


"Ya, aku ingin pulang. Maaf aku ga bisa menemanimu."


Cinta hendak pergi tapi seseorang melewatinya dengan kasar. Seorang pria yang berperut buncit. Mendekati pelaminan dan menodongkan senjata pada Ratu.


Door!


Tanpa babibu, senjata itu melukai Ratu. Membuat lubang dikening wanita itu. Ratu tewas di pelaminan. Pria berperut buncit melarikan diri. Orang-orang panik. Polisi datang 30 menit kemudian.


"Maaf membuatmu melihat hal mengerikan," ujar Tomi pada Cinta.


"Tidak, tidak apa. Aku hanya sedikit terkejut." Cinta berusaha tampak tenang meski adegan singkat itu membuatnya terkejut.


"Ayo, aku antar pulang." Tomi mengajaknya.


"Aku bisa pulang sendiri. Sebaiknya temui sepupumu. Mungkin ia butuh bantuan."


"Tidak, saat ini aku tak akan berguna di sana. Lagi pula hubungan kami tak dekat. Sebaiknya kuantar kau pulang."


Cinta pun segera diantar pulang setelah setuju. Dan jalan yang seharusnya ia lalui mengalami macet karena ada pohon tumbang. Jadi mereka harus memutar.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi pun harus melintasi jalan tempat toko milik mantan mertua Cinta berada. Saat itu tampak bangunan tersebut telah menghitam. Ternyata itu karena tadi malam tempat itu kebakaran.


"Cinta, ruko mertuamu kebakaran ya?" tanya Sherly esoknya di pabrik.


"Kau tau dari mana?" tanya Cinta.


"Di sosmed banyak tuh videonya. Kabarnya ruko itu dirampok. Dan untuk menutupi jejak, ruko itu dibakar. Saat itu mertuamu sedang pergi. Pasti mereka terkejut saat mendapat kabar ini."


Cinta diam saja lalu ia melanjutkan makannya. "Mereka bukan mertuaku lagi. Sudah jangan bahas mereka."


"Akhirnya mereka kena karma. Ia kan?" Sherly berceloteh tanpa mendengar kata-kata Cinta.


"Sherly, sudahlah. Jangan dibahas lagi. Gak enak didengar."


"Ok deh Cinta. Aku minta maaf," ujar Sherly kemudian.


"Ga pa-pa." Cinta menjawab datar.


Sementara itu ada Tomi yang kini diam-diam meliriknya. Lalu bergabung di meja tempat Cinta dan Sherly makan. Melihat hal itu Sherly batuk.


"Uhuk, aku ambil air minumku dulu," ujar Sherly meninggalkan meja itu.


"Eh kok pergi?" tanya Tomi. Yang melihat Sherly mengangkut peralatan makanya.


"Ga pa-pa pak aku sudah kenyang," ujar Sherly.


Ia diam-diam menyadari kalau Tomi sepertinya mengejar-ngejar Cinta. Dan sepertinya Cinta menyadari hal itu. Hanya saja ia tak ingin menganggap hal itu. Lalu bersikap seolah tak tau apa-apa.


"Oh, ya Cinta. Sabtu nanti kamu ada acara gak?"

__ADS_1


"Ga ada."


"Bisa ga temani aku nonton."


"Ga bisa." Cinta menjawab datar.


"Ayolah... aku yang traktir."


Cinta menatap mata Tomi. Pria itu tersenyum. Cinta mengangguk. Kemudia keduanya pergi di hari yang dijanjikan.


"Bagaimana filmnya? Suka?" tanya Tomi. Setelah pulang dari bioskop.


Cinta tak menjawab. Tapi kemudian balik bertanya. "Kenapa kau mendekatiku?"


Pertanyaan itu sontak membuat Tomi terkejut. "Kentara sekali ya?" ujarnya.


Cinta tak menjawab hanya menatap Tomi dengan tenang.


"Karena aku menyukaimu." Tomi pun memutuskan menyatakan isi hatinya secara langsung.


"Tapi aku-" ujar Cinta diputus oleh Tomi.


"Janda? Memangnya kenapa? Apa menjadi janda adalah kesalahanmu? Cinta, aku sudah lama menyukaimu. Sejak kita masih SMA. Dan aku ingin menikahimu."


Cinta tersenyum, ia juga tau kalau dulu Tomi pernah menyukainya. Tapi Tomi sangat pemalu. Sekarang, demi mengejar Cinta ia rela pindah kerja ke pabrik tempat Cinta bekerja.


"Beri aku waktu setahun sebab, Aku baru saja bercerai dari suamiku. Bila kau tidak berubah pikiran. Aku akan menerimamu."


Tomi mengangguk. Lalu mereka pun berjalan-jalan sebentar menikmati bintang-bintang yang bersinar di atas taman.

__ADS_1


...Tamat....


__ADS_2