Aku Diam Bukan BODOH

Aku Diam Bukan BODOH
Uang


__ADS_3

Pagi itu matahari baru terbit dari timur. Santi menguap dan bangkit dari ranjang membuka pintu kamar.


"Nyonya, neng Cinta ada di ruang tamu," ujar seorang pelayan.


"Hah? Apa?!" tanya Santi sontak terkejut.


"Oh, ya ampun. Tuh anak. Dia pasti minta uang."


Segera Santi masuk kembali ke kamar. Mencari suaminya di kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Duh, nih orang di mana sih? Jangan sampai dia ketemu duluan sama si Cinta. Ga boleh." Santi bergumam. Lalu memilih keluar menemui Cinta.


"Hoammm Cinta, kenapa pagi-pagi datang?" tanya Santi pura-pura tak tau apa-apa.


"Aku, aku mau pinjam uang ma," ujar Cinta terus terang.


"Hah? Apa? Uang? Aduh Cinta... uang dari mana? Kan kamu tau sendiri. Toko mama ga seramai dulu. 3 hari lalu baru isi gudang. Habis deh modal. Lagian si Arya baik-baik aja kan?" Sinta berceloteh.

__ADS_1


"Ma, kak Arya itu ga baik-baik saja. Biaya operasi dan perawatannya butuh biaya 47 juta."


"Apa? Heh, bilang ke dokternya patah tulang sekalipun biayanya ga semahal itu. Lagian kamu sih, pakai bawa ke rumah sakit yang paling mahal di kota ini. Kamu itu istrinya. Harusnya mikir. Jangan boros." Santi mengomel.


"Ma," Cinta mau menjawab. Tapi Santi segera mengangkat tangannya.


"Sudah-sudah. Tunggu sebentar mama ambilkan uang belanja mama." Santi segera pergi dengan buru-buru.


Dengan cepat ia menyerahkan uang 1 juta begitu ia kembali ke ruang tamu.


"Tapi ma, ini kan untuk obat kak Arya."


"Ck, ck, ck. Cin, dia itu suamimu. Kami sudah habis banyak biaya saat melamarmu untuk jadi istrinya. Masa kamu masih nyusahin mertuamu juga. Kalian kan sudah menikah 4 tahun. 4 tahun loh. Trus gajinya si Arya kamu kemanain? Jangan terus-terusan dikasi sama orang tuamu dong. Harusnya kamu tabung."


"Ta-tapi aku ga-" ujar Cinta belum selesai.


"Mama ga mau tau. Kamu boleh aja bantu keluargamu yang di kampung. Tapi kamu juga harusnya minta bantuan juga ke mereka. Jangan sampai mereka cuma mau enaknya saja. Terima uang dari anakku," ujar Sinta panjang lebar.

__ADS_1


Cinta mengenggam uang itu dengan erat. "Baik ma, Aku permisi dulu. Kalau mama ada waktu tolong jenguk kak Arya."


Cinta pun segera pergi dari tempat itu. Dan Sinta mengintip dari jendela memastikan kalau menantunya benar-benar pergi.


"Ah, aduh kepalaku sakit sekali. Satu jutaku. Awas kalau ga dikembalikan beserta bunganya!" geram Sinta.


Sementara itu Cinta kini berada di atas angkutan umum. Memikirkan kata-kata mertuanya. Lalu memutuskan pergi ke kampung untuk meminjam uang.


"Ya tunggu sebentar," ujar ibu Cinta.


Wanita itu tampak berjalan ke sebuah kamar dan keluar membawa kaleng Kong Guan. Dikeluarkannya bungkusan-bungkusan di dalam kaleng itu. Ada sekitar 6 bungkus plastik.


"Uang ibu, cuma ada ini. Kamu boleh pakai. Kalau ada uang baru kembalikan." Wanita itu menyerahkan uang tersebut.


Cinta merasa sedih melihat bungkusan itu. Ia tau kalau itu adalah uang tabungan orang tuanya. Berat rasanya menerima uang itu, mengingat kehidupan orang tuanya yang sangat susah.


"Aya nak ambillah. Pasti ga cukup. Tapi paling ga bisa menambah uang yang kamu punya. Nih, cepat ambil. Kasihan Arya ditinggal sendiri di rumah sakit. Mertuamu pasti bingung cari bantuan biaya pengobatan. Namanya juga pedagang. Pasti uangnya tertanam di daganganyakan."

__ADS_1


__ADS_2