
Dengan berat hati Cinta mengambil uang itu. Dan segera pergi ke rumah sakit. Membayarkan biaya pengobatan sebanyak uang yang ia punya saat itu. Ada sekitar 10 juta terkumpul dari tabungan dan hasil meminjam sana-sini.
Meski tak mencukupi, pihak rumah sakit memberikan toleransi. Kalau Cinta boleh menyicil sisanya. Untuk pertama kali Cinta bernapas dengan lega. Tapi ia segera mendapat panggilan dari tempatnya bekerja.
"Bagaimana? Apa kau masuk besok atau tidak? Di sini butuh pekerja. Jadi kalau kau tidak bisa masuk. Sebaiknya berhenti saja," ujar kepala pegawai di pabrik tempat Cinta bekerja.
"I-iya, be-besok saya akan bekerja. Ma-maaf sudah menyusahkan ibu," ujar Cinta terbata-bata.
Segera ia meninggalkan rumah sakit. Membereskan rumah dan mengatur jadwalnya besok. Karena mau tidak mau ia harus masuk jika masih ingin bekerja.
Saat sedang membersihkan rumah terdengar suara ketukan di depan.
"Siapa?" teriak Cinta sambil berjalan ke depan.
Ternyata Ratu, teman sekelas Cinta saat SMA.
"Ada apa Rat?" tanya Cinta heran.
"Mana Arya?" balas Ratu balik bertanya.
"Ada perlu apa sama suamiku?"
Ratu tersenyum dan melangkah masuk ke rumah. "Arya...!" teriaknya.
__ADS_1
"Ratu, apa-apaan kamu? Ini rumahku. Jaga sopan-santunmu!"
"Apa? Rumahmu? Hah? Hello... ini rumahku. Asal tau saja. Ga lama lagi aku dan Arya akan menikah," ujar Ratu mengelus perutnya yang masih rata.
"Apa? Jangan sembarangan bicara!"
"Oh, mau bukti. Nih buktinya." Ratu memperlihatkan foto mesranya dengan Arya.
Cinta terkejut. Tapi kemudian ia seolah menyadari sesuatu. "Oh, jadi begitu?"
"Ya, jadi cepat panggilkan Arya. Dia pasti di dalam kan?" Ratu berkacak pinggang dan berdiri layaknya model.
Cinta diam saja.
"Air mataku terlalu mahal untuk kalian!" batin Cinta.
Saat itu Ratu memeriksa setiap ruangan seolah ia sudah sering di sana. "Mana dia?" tanya Ratu setelah tak menemukan Arya.
"Di rumah sakit," jawab Cinta tenang.
"Apa? Di rumah sakit?" tanya Ratu membolakan matanya.
"Ya, dia kecelakaan."
__ADS_1
Ratu tercengang dan ia mencoba mencari kebohongan di wajah Cinta. "Bohong!" ujarnya mencoba menyangkal kalau Cinta berkata jujur.
"Baik, katakan saja sama Arya. Tadi aku ke sini. Besok aku akan datang lagi." Ratu berbicara tanpa mempedulikan perasaan Cinta.
Ingin rasanya Cinta menjambak rambut ikalnya dan menendang bok-ong Ratu, serta mempar pipi yang dipoles make-up itu. Tapi ditahan oleh Cinta. Ia mengepal tangannya. Pergi ke kamar dan mengunci pintu.
"Arg...!"
Prank!
Cinta melemparkan foto pernikahannya dengan Arya. Menangis. Air matanya tak terbendung lagi.
"Teganya kamu kak Arya. Apa karna aku tak bisa memberimu anak. Sehingga aku tak berharga sedikitpun di matamu, ugh... hiks hiks... kak Arya...!" erang Cinta.
Cukup lama Cinta menangis. Dan akhirnya ia sesenggukan. Menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai. Ia pun memungut kaca itu satu persatu. Kulit jari telunjuknya tersayat.
"Agh."
Cinta menatap nanar jarinya lalu membiarkan darah menetes begitu saja. "Kenapa? Kenapa aku ga mati saja?" gumamnya.
"Ah... kak Arya...! Kenapa...? Kenapa kau biarkan aku mengalami ini. Bukan kemauanku untuk tak bisa memberimu anak.... Agk... hiks, hiks, hiks...."
Cinta termenung menatap pecahan kaca itu dan membiarkannya untuk waktu yang lama.
__ADS_1
"Jika kau memang ingin menikahi wanita itu. Silakan saja. Tapi sebelum itu. Ceraikan aku dulu!"