Aku Diam Bukan BODOH

Aku Diam Bukan BODOH
Rumah Disita


__ADS_3

Saat Ratu keluar rumah sakit beberapa hari kemudian terkejutlah ia. Lalu menghapus tulisan itu. Namun ibu Arya sudah datang bersama pembeli.


"Apa-apaan ini? Ini rumahku. Kalian ga bisa seenaknya."


"Oh ya? Ini rumahmu? Mana suratnya?" tanya ibu Arya pada Ratu.


"Baik, tunggu saja di sini!" Ratu masuk ke dalam.


Dan keluar dengan wajah marah. "Dasar wanita tua! Kau yang mencuri di rumahku!"


"Apa? Mencuri katamu? Aku punya kunci rumah ini. Aku ibu Arya. Dan siapa kau?"


Ibu Arya tersenyum penuh kemenangan. Ratu pun terbelalak saat melihat kalau surat rumah telah ada di tangan ibu Arya.


"Cepat tinggalkan rumah ini. Sebab surat ini sudah di tanganku. Pemilik sah rumah ini. Jika bukan karena permintaan Arya sebagai syarat menikah harusnya rumah ini milikku." Ibu Arya bercerita.

__ADS_1


Ia pun mengingat alasan kenapa ia setuju untuk memberikan rumah itu sebagai hadiah pernikahan Arya dan Cinta. Semata-mata adalah agar putranya tak lagi menyusahkannya. Mengingat anak itu malas bekerja. Jadi ia berpikir kalau sudah menikah, kelak anak itu tak akan menyusahkannya lagi.


Sekalipun Arya tak kunjung memiliki anak dari Cinta, ibu Arya tak ambil pusing. Selama anak itu tak lagi mendatanginya untuk meminta uang. Tapi justru meminta uang dari istrinya. Dan menjadi tanggungan Cinta setelah pernikahan. Tentu saja ibu Arya merasa lega bebas dari menanggung beban memberi uang untuk Arya.


Kini Arya telah tiada. Jadi ia merasa sebaiknya mengambil kembali rumah itu. Segera pula ia menjualnya agar tak ada lagi masalah dikemudian hari. Namun sebelum uang diterima beberapa pria datang.


"Maaf, rumah ini kami sita. Sebab pak Arya sudah menunggak pembayaran utang."


"Hah? Siapa kalian?" tanya ibu Arya kaget.


"Apa? Ga mungkin! Surat asli ada di tangan saya." Ibu Arya menunjukkan surat rumah di tangannya.


"Maaf bu, surat yang ada pada kamilah yang asli. Jika ibu keberatan, kami siap menempuh jalur hukum. Dan tentu saja kami pasti menang di pengadilan."


Dan ucapan pihak pegadaian pun terbukti. Ternyata surat rumah di tangan ibu Arya adalah palsu. Arya telah menipu Ratu. Agar percaya pada ketulusannya akan menikahi Ratu. Tapi ia tak bisa memberikan yang asli sebab sudah digadaikan. Ketika ia punya banyak utang untuk membelikan apa saja kebutuhan Ratu.

__ADS_1


"Cinta, apa pendapatmu setelah mengetahui tentang rumah itu?"


Sherly bertanya pada Cinta setelah kabar tentang rumah yang dulu Cinta tempati bersama Arya ditarik pihak pegadaian.


"Memangnya masih ada hubungannya lagi denganku. Selama ini aku sudah berbuat banyak untuk keluarga itu. Aku tak ingin membahas masalah mereka lagi."


Cinta pun kembali fokus pada pekerjaannya. Sambil mengingat kembali masa-masa bersama suaminya. Ia pun menggelengkan kepala. Betapa bodohnya saat itu ia hanya diam saja. Saat suaminya menyakitinya, dan mertua yang tak pernah membelanya.


Tapi ia menghela napas lega mengingat pilihannya meminta cerai adalah hal tepat. Mengingat mertua hanya memanfaatkannya untuk membiayai Arya yang menjadi beban keluarga. Ditambah lagi ia tak perlu lagi memikirkan orang lain. Sebab kini ia hanya perlu hidup untuk dirinya sendiri.


Suatu hari Cinta diajak oleh seorang teman untuk mendatangi acara pernikahan. Meminta Cinta ikut sebagai pendampingnyam


"Ayolah, kumohon... Aku malu pergi ke sana sendirian." Tomi pemuda yang bekerja sebagai manager baru di pabrik memohon pada Cinta sehari sebelum acara pernikahan.


"Bukankah ada yang lain. Kenapa mengajakku?"

__ADS_1


"Di sini yang paling kukenal adalah kau Cinta. Ayolah... kita dulu teman sekelas. Anggap saja kau membantu teman."


__ADS_2