
Saat itu mertua Cinta juga telah hadir di ruang tunggu. Mereka ikut merasa lega seperti yang dirasakan oleh Cinta.
Tibalah saatnya Cinta diminta untuk mengurus biaya rumah sakit.
"Eh, Cinta Mama pergi dulu ya. Mama ada urusan penting besok. Sudah ada janji. Ayo Pa, kita pulang," ujar ibu mertua Cinta dan mengapit lengan suaminya.
Tanpa menunggu jawaban dari Cinta mereka pun pergi. Hanya ayah mertua Cinya yang tampak merasa tidak enak, karena harus pulang tiba-tiba.
"Ma, masa kita pulang tiba-tiba. Nanti kalau menantu kita butuh apa-apa bagaimana?" tanya ayah mertua Cinta begitu mereka sudah di atas mobil.
"Ah, Papa. Dia itu bukan anak kecil lagi. Dan Arya itu suaminya. Kewajibannya untuk mengurus Arya. Ayo kita pulang."
Dermawan menghela napas. Dan masih belum berniat mengendarai mobilnya. Segera sang istri menepuk pundaknya.
"Ayo jalan... ih, tunggu apa lagi...?"
Mendengar ocehan istrinya Santi, Dermawan pun segera menyalakan mesin dan mulai menjalankan kendaraan roda 4 itu.
Sedang kini Cinta sendirian mengurus administrasi suaminya. Dan biaya yang harus ditanggung cukup banyak. Yaitu 47 juta. Tanpa sadar Cinta menekan keningnya. Berharap rasa sakit kepala yang tiba-tiba muncul segera berkurang.
__ADS_1
Cinta memasuki ruangan suaminya yang sudah dipindahkan ke ruang inap. Kondisinya sangat memprihatinkan.
"Lihat, siapa yang akan membantu kalau sudah seperti ini. Mama dan papa mertua bahkan sudah pergi sebelum tau biaya yang harus ditanggung." Cinta bergumam sendiri.
Lalu ia pun duduk sesaat untuk mendinginkan kepalanya. Mencoba memikirkan cara untuk mendapatkan uang biaya rumah sakit. Kemudian menghubungi seseorang.
"Kak, bisa pinjam uang 47 juta?" tanya Cinta pada seseorang begitu panggilannya diangkat.
"Hah? Apa?"
"Uang 47 juta. Pinjam. Bisa kan, kak?"
"Uang 47 juta? Untuk apa Cinta? Dan itu ga sedikit loh."
"Iya kak, tapi aku butuh sekali. Kak Arya kecelakaan. Aku ga tau bisa pinjam ke mana lagi."
"Ya, mertuamu kan ada Cin. Mereka juga bukan orang susah. Dari pada pinjam ke aku. Mana ada uang segitu."
"Hiks, hiks maaf kak sudah ganggu tidur kakak," isak Cinta.
__ADS_1
"Eh, tunggu. Aku bisa pinjamin tapi lewat koprasi tempat kakak kerja. Dan kalau meminjam sebanyak itu harus ada jaminan. Seperti surat rumah."
Cinta mendengarkan penjelasan Raka, yang merupakan teman baiknya dan Arya.
"Baik kak nanti kuusahakan cari surat rumahnya," ujar Cinta kemudian. Lalu menyeka air matanya.
Ia pun segera melaksanakan apa yang dikatakan oleh Raka. Pulang ke rumah dan mencari surat penting itu di laci lemari.
"Hah... ternyata tidak ada. Kak Arya, di mana surat itu?" batin Cinta membongkar seluruh isi kamar.
Cinta pun kembali menangis. Putus asa.
"Aku harus gimana lagi?"
Cinta pun mengenggam ponselnya dengan erat. Lalu memberanikan diri menghubungi nomor ibu mertuanya. Nomor itu sedang tidak aktif. Tak putus harapan, Cinta menghubungi nomor ayah mertuanya. Panggilan itu masuk.
"Biarin aja," ujar Santi saat suaminya bilang kalau itu dari Cinta.
Sudah berkali-kali menghubungi nomor tersebut Cinta pun berhenti melakukan panggilan. Memutuskan mengirim pesan kalau saat ini dirinya butuh uang 47 juta secepatnya. Ia kembali menangis setelah selesai mengirim pesan.
__ADS_1
Ke esokan paginya Cinta segera melihat kotak pesan di ponselnya. Tapi tidak ada jawaban. Ia pun kembali ke rumah sakit, menemui bagian admin membicarakan masalah biaya. Meminta waktu lebih lama untuk membayar biaya perawatan suaminya. Lalu memutuskan pergi ke rumah sang mertua.