
Ke esokan harinya Cinta bersiap hendak pergi bekerja. Matanya sembab. Meski begitu ia tak punya waktu untuk khawatir. Segera ia bergegas pergi bekerja. Tak lupa mengunci pintu sebelum berangkat.
Di tempat kerja Cinta disibukkan oleh pekerjaannya. Sedikit membuatnya lupa akan kesedihannya. Lalu pada jam makan siang ia mendengar beberapa wanita sedang bergosip. Mengatakan kalau suami mereka diganggu oleh pelakor.
"Kalian tau, begitu aku lihat. Langsung emmm kutampar mukanya itu. Bahkan suamiku juga kuhajar. Ga peduli aku kalau habis itu dia minta cerai. Cerai ya cerai saja. Anak-anak akan kubawa ke rumah orang tuaku. Dia pikir cuma sama dia kami baru bisa makan?" celoteh seorang ibu.
Cinta memikirkan kata-kata ibu itu. Lalu menjadi merasa bodoh karena diam saja saat tau kalau suaminya telah selingkuh. Ingin rasanya ia mengulang kejadian kemarin dan melakukan hal yang sama seperti teman kerjanya itu.
"Heh, Cin dari tadi diam saja. Gimana kabarnya suamimu? Sudah lebih baik?" tanya Sherli.
Sherli adalah salah satu sahabat Cinta di pabrik plastik. Ia juga meminjamkan uang untuk Cinta.
"Belum," ujar Cinta.
"Yang sabar ya," hibur Sherli sambil menepuk pundak Cinta.
"Oh ya Cin, sebenarnya ada hal yang mau kuceritakan. Tapi ga enak kalau cerita di sini." Sherli berbisik pada Cinta.
"Kenapa?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Masalah pribadi. Nanti saja aku cerita di rumahmu."
Sherli pun menatap Cinta. Ada perasaan kasihan pada nasib sahabatnya. Bukan karena suami Cinta kecelakaan. Tapi hal lain.
Sherli pun akhirnya ikut pulang ke rumah Cinta. Dan saat memasuki gerbang tampak di rumah Cinta ada seseorang.
"Cin, kamu ada tamu ya?" tanya Sherli.
"Ga ada." Cinta yang bingung segera berjalan mendahului Sherli dan mendapati ternyata ada Ratu di dalam.
"Kau?!" teriak Cinta.
Sherli yang tiba di depan pintu ikut terkejut. Tapi ia lebih terkejut saat melihat Cinta menjambak rambut Ratu.
"Cin, udah Cin. Jangan Cin. Tahan!" ujar Sherli.
Ratu sudah menangis karena kesakitan sambil berusaha agar tidak terjatuh. Beruntung Sherli berhasil memisahkan mereka. Dengan cepat Ratu pergi.
"Dasar perempuan mandul! Sebentar lagi kau pasti akan diusir Arya! Ingat itu!" Ratu berteriak sambil kabur keluar.
__ADS_1
"Heh, nenek sihir. Sini kau. Biar kurobek mulutmu itu!" teriak Cinta geram.
Ia masih berusaha mengejar Ratu. Tapi ditahan oleh Sherli. "Udah Cin, udah... yang sabar..." ujarnya.
Cinta pun menangis sesenggukan. Sherli mengusap punggung Cinta.
"Maaf Cin, sebenarnya aku pernah lihat suamimu pergi sama wanita itu tadi," ujar Sherli pelan. Cinta pun menoleh pada Sherli.
"Maaf Cin. Aku telat beri tau kamu."
"Gak, ini bukan salahmu. Ini salahku. Karena aku mandul."
"Cin, jangan salahkan dirimu. Yang salah suamimu. Meskipun kamu mandul. Bukan alasannya untuk selingkuh."
"Sherli. Sekarang aku harus gimana...? Hiks, hiks, hiks. Aku memang pernah berpikir apa yang harus kulakukan jika suamiku berselingkuh. Tapi aku ga pernah berharap itu benar-benar terjadi."
Sherli mengusap-usap pundak Cinta.Tak tau harus berkata apa. Cukup lama Cinta menangis. Setelah tenang Cinta pun mengatakan kalau dia akan ke rumah sakit.
"Aku temani ya," ujar Sherli. Cinta mengangguk.
__ADS_1
Tapi saat mereka hendak keluar, dua orang polisi datang bersama Ratu. "Itu dia pak. Itu dia orangnya." Ratu menunjuk Cinta.
Polisi itu pun segera menghampiri Cinta. "Apa benar anda yang telah melakukan kekerasan pada nyonya Ratu?" tanya polisi itu.