Aku Diam Bukan BODOH

Aku Diam Bukan BODOH
Cinta Minta Cerai


__ADS_3

Setelah itu Cinta pun berhenti berpura-pura. Kini ia bangun. Para tetangga menatapnya khawatir.


"Terima kasih," ujar Cinta sebelum mereka semua bertanya.


"Iya sama-sama. Nak Cinta kalau wanita ular itu datang lagi, teriak saja yang kencang. Biar kita ibu-ibu ini yang menghajar wanita itu!" ujar Dewi menyinsingkan lengan bajunya sambil mengangkat dagu.


Seluruh ibu-ibu yang ada di sana mengangguk.


"Tidak apa-apa bu. Tadi aku hanya pura-pura pingsan," ujar Cinta berterus terang.


Meski sudah berkata jujur, para tetangga justru menganggap Cinta sedang berpura-pura tegar. Mereka masih mengucapkan kata-kata hiburan. Tapi saat ini, hati Cinta sudah hancur. Dan hanya ada dua kata yang tersisa.


Yaitu 'Balas Dendam'.


Setelah para warga pulang, Cinta masih ditemani oleh Sherli ke rumah sakit. Setelah itu Sherli pulang ke rumahnya sendiri. Maka tinggallah Cinta sendirian di kamar pasien.


Ia diam.

__ADS_1


Tangannya bergerak. Ingin rasanya ia melepas alat bantu pernapasan yang dipasang pada suaminya. Tapi kemudian ia menarik tangan itu.


"Tidak, bukan begini caranya."


Cinta pulang. Ia pun mencari sesuatu yang bisa digunakan. Untuk menebus biaya rumah sakit suaminya. Akan tetapi tidak ada apapun di sana. Buku tabungan Arya sudah lama kosong. Bahkan yang ada adalah buku pinjaman pada sebuah koprasi tempat suaminya bekerja.


Ke esokan harinya Cinta mendatangi lagi mertuanya. Di sana ia tetap tidak mendapatkan sepeser pun.


"Bu, kak Arya kan anak ibu juga." Cinta berusaha melunakkan hati ibu mertuanya. Agar mau meminjamkan uang untuknya.


"Ya, tapi dia suamimu. Uangnya yang selama ini, kamu kemanakan? Jangan cuma mau enaknya saja. Giliran susah tidak mau keluar duit."


"Hah? Apa katamu? Cerai?"


"Ya, aku mau bercerai."


"Atas dasar apa kamu minta cerai? Karena putraku sekarang berbaring di rumah sakit? Lantas kalau sudah sembuh kamu mau balikan lagi?! Hah?! Iya?! Dasar menantu tidak tau diuntung!"

__ADS_1


"Cinta, pikirkan baik-baik yang kamu katakan," ujar ayah mertua Cinta yang akhirnya ikut bicara.


"Maaf yah, tekadku sudah bulat."


"Tapi suamimu sedang sakit. Mana bisa cerai begitu saja."


"Bisa atau tidak, aku rasa semua harus dicoba."


Cinta pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan ucapan mertuanya. Dia segera pergi ke sebuah tempat yang menampung barang-barang bekas. Di sana ia bermaksud menjual barang-barang yang ada di rumah itu.


Saat kembali, ternyata Ratu sudah berada di depan pintu. Kali ini dia tidak sendirian. Ia membawa beberapa orang pria untuk menjaganya.


"Hei, Cinta! Dengar! Rumah ini sudah menjadi rumahku. Jadi mulai detik ini kau harus angkat kaki!"


"Dan kalian para kecoa! Ini rumahku! Siapapun yang coba-coba untuk mengusirku dari sini! Akan kulaporkan pada polisi!" ancam Ratu pada para tetangga.


Cinta diam saja. Ia melangkah mendekati Ratu. Ratu memasang ancang-ancang. Tapi Cinta tidak gentar. Membuat Ratu memberi kode pada orang-orangnya agar menahan Cinta di luar.

__ADS_1


Cinta melawan. Membuka sepatu dan memukul salah satu pria itu. Pria itu marah dan balas memukul Cinta. Meski sempat mengelak, tapi tangan pria itu justru lebih cepat dan melukai pipi Cinta.


Cinta terjatuh. Hal itu membuat warga menjadi geram. Seorang wanita mengambil batu lalu melempar pria yang memukul Cinta. Pria itu marah dan mengejar ibu tersebut. Tapi para ibu-ibu yang lain malah ikut mengambil batu dan melempar pria tersebut.


__ADS_2