
setelah keluar dari lift Aldevaro di tahan oleh Dafa terlebih dulu
"tuan tunggu"
"kenapa"
"tuan saya ada ide agar anda bisa segera kembali dengan nona sarena lagi"
"bagaimana caranya"
"tuan coba anda ketika bertemu dengan nona sarena bersikap lah acuh tuan agar dia merasakan kehilangan dan penyesalan atas keputusannya setelah itu semua rencana kita akan berhasil"
"omong kosong apa kau ini Dafa kau tau tidak jika melakukan itu sama dengan akan membuat dia semakin menjauh"
"tapi apa salahnya mencoba"
dan akhirnya Aldevaro mengikuti saran yang di berikan Dafa kepadanya
Ting tong(suara bell)
"ya tunggu sebentar"sarena membukakan pintu untuk Aldevaro dan dafa
"silahkan masuk dulu aku sedang memakaikan baju albiru"
__ADS_1
"ya"dengan sikap acuhnya Aldevaro masuk ke dalam rumah sarena dan menunggu di ruang tamu
'semoga saran dari Dafa ini tidak memperumit semuanya'gumam Aldevaro dalam hati
beberapa saat kemudian sarena selesai memakaikan pakaian albiru dan albiru yang senang karna kedatangan ayahnya segera berlari menghampiri ayahnya.
"papah"
"hai sayang sini nak"
"papah aku Angen(kangen)papah"biru memeluk erat papahnya karna kerinduan dirinya kepada Aldevaro
"papah juga kangen sama kamu"
"iya aku mau mama"
"ada urusan apa sampai tidak ada waktu untuk anak"Aldevaro yang kepo memberanikan diri untuk bertanya pada sarena
"aku mau mencari kerja dan juga mengurus beberapa hal dan aku disini hanya bertiga Syifa juga kerja jadi tidak ada yang bisa menjaga biru lagi pula jika di titipkan kamu juga kan banyak asisten bisa membantumu"
"baiklah"
'tumben dia tidak bertanya banyak'gumam sarena dalam hati
__ADS_1
"kalo begitu kami pamit karna saya masih banyak kerjaan"
mereka bertiga pergi meninggalkan sarena kini sarena hanya tinggal sendiri dirumah.
'sejujurnya menitipkan albiru kepadanya karna aku tidak mau albiru tau apa yang terjadi pada kami bagaimanapun dia sudah mulai mengerti aku takut nanti dia akan merasa di tinggalkan oleh orang tuanya seperti aku dulu aku juga tidak ingin dia merasakan menjadi anak broken home tapi aku juga bingung jika aku bertahan dengan Aldevaro bagaimana dengan ibu meskipun dia tidak peduli padaku tapi aku peduli padanya'gumam sarena dalam hati
sarena yang merasa putus asa kini ia hanya bisa mengeluarkan keluh kesahnya dengan menangis karna kini tak ada halangan baginya untuk menangis.
'tidak apa sarena lagi pula kamu bisa tanpa pria disisimu karna kamu aja udah lewatin semuanya tanpa ayahmu dan ibumu pasti kamu bisa ayo kuat bukanya kamu memang sudah terbiasa menangis tanpa pelukan kamu sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri kamu sudah terbiasa tanpa sandaran siapapun meskipun kamu lelah tetaplah kuat untuk anakmu pria itu sebentar lagi akan bersama dengan wanita lain percuma bagimu menangisinya'gumamnya dalam hati sarena mencoba menguatkan dirinya sendiri agar kuat dan siap menghadapi semuanya sendiri
sarena mengeluarkan semua keluh kesahnya mengeluarkan beban pikiran yang ada di otaknya dengan cara menangis
"kau bukan anak kecil lagi malu lah pada umurmu yang sudah tua menangis sendiri seperti bocah"betapa kagetnya sarena karna ada sosok yang memberinya tisu
sarena menatap kedua mata itu sosok orang yang ia tangisi ternyata berada di depan matanya lantas bagaimana ia akan menjelaskan semuanya.
"mengapa kau disini"
"biru melupakan satu mainannya dan dia merengek ingin mengambil mainan itu,kau kenapa menangis?"
"tidak ada aku hanya merindukam ayahku"
"ouh yasudah kalo begitu aku pamit karna biru sudah mengambil mainannya dan kau jangan lupa mengunci pintu depan bagaimana jika ada orang jahat masuk"
__ADS_1
"ouh ya terimakasih sudah mengingatkan hati-hati di jalan"