Aku Ibumu Bukan Pembantumu

Aku Ibumu Bukan Pembantumu
pergaulan


__ADS_3

"Bu, ibu .... "


"Ya, nak, sebentar" teriakku. Dengan badan lunglai, akupun tergopoh gopoh mengahampiri Naila.


"Kenapa sepatuku masih kotor? Ini baju aku juga belum disetrika! Ngapain aja sih dari tadi?!" Teriaknya kesal, lalu ia melemparnya kesembarang arah. Akupun mengelus dada. Beristighfar.


"Maafin ibu, nak. Ibu lagi gak enak badan" ucapku lemas.


"Halaaah, alasan saja. Pokoknya aku gak mau tau ya, bu. Sepatuku harus bersih dan bajuku juga harus rapi!" Akupun mengangguk.


"Jangan lama! Hari ini jadwalku meeting, kasian klienku udah nunggu dari tadi" lanjutnya, Naila melengos pergi, saat berpapasan denganku ia menyenggol bahu, karena keadaanku yang sedang lemah, badanpun  tak kuat menahan beban, dan akhirnya terjatuh. Naila hanya melihatku tanpa rasa iba ataupun ingin membantuku, ia kembali berjalan begitu saja.


'Astaghfirulloh, tabahkanlah diriku ya Alloh' batinku menangis. Dengan kaki yang gemetar, aku mencoba berdiri. Lalu berjalan mengambil lap disudut ruangan untuk membersihkan sepatu kemudian menyetrika baju.


_______________


Namaku Rahmi. Seorang janda beranak satu, yang diberi nama Naila, oleh almarhum suamiku. Aku ditinggal mati oleh suami sepuluh tahun yang lalu, karena kecelakaan saat menuju ke tempat pekerjaan. Saat itu, umur Naila limabelas tahun. Aku mendidik Naila menjadi anak yang berbakti. Tapi, entah kenapa semakin tumbuh dewasa, Naila seperti anak yang tak berpendidikan. Sewaktu Naila masih sekolah, sering sekali aku mendapatkan surat panggilan dari pihak sekolah. Bahkan Naila sudah sering dipindahkan.


   


Dulu, Naila adalah anak yang penurut dan ceria. Tapi semenjak Naila ditinggal pergi ayahnya, ia menjadi pendiam, yang lama kelamaan membawa perubahan tidak baik untuknya bahkan merugikan orang lain. Yang berawal dari pergaulan.


_________________


Cuaca mendung, tak lama kemudian langitpun mengguyur bumi. Aku bergegas kedapur untuk memasak. Selesai memasak, aku beristirahat sejenak. Adzanpun berkumandang, aku berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhu, melaksanakan kewajibanku. Seusai sholat, aku membaringkan badan yang lelah, karena keadaanku yang sedang tak sehat.


Braakkk


Baru saja aku memejamkan mata, suara tendangan pada pintu, mengagetkanku.

__ADS_1


"Bu ... ibu ... bangun!" Naila menarikku dengan kasar.


"Ada apa, nak? Ibu gak enak badan" ucapku parau.


"Ada apa-ada apa! Aku lapar, pulang kerja gada makanan, ngapain aja sih dirumah? Gak pegel rebahan mulu? Hah!" Teriaknya, yang membuat kepalaku semakin pening.


"Ibu masak kok, nak. Maafin ibu yang hanya bisa nyediain makanan seadanya. Ibu gak punya uang lagi"


"Makanya kerja, bu. Rebahan aja gak bakalan ngedatengin duit!"


"Bukan ibu gak mau kerja, nak. Tapi orang yang selalu mempercayakan dagangannya udah gak nganterin lagi. Ibu jadi gak dapat penghasilan"


"Halaah! Udahlah, jangan banyak bacot. Ambil nih uang,beliin aku makanan. Cepetan! Jangan lama" ucapnya angkuh, lalu melemparkan uang sehingga berhamburan, kemudian berlalu. Aku memandangi kepergiannya ' astaghfirulloh, sampai kapan kau memperlakukan ibu seperti ini, nak?' Hatiku menjerit. Aku terduduk lesu, lalu memunguti uang yang berserakan dilantai. Sambil sesekali menyeka air mata yang memaksa keluar.


Hujan reda, aku bergegas menuju caffe disebrang jalan. Ketika hendak menyebrang,tiba-tiba ...


Diiddd diiidd


"Bu ... ibu, gapapa? Maaf ya, saya tadi buru-buru" ucapnya, cemas.


"Ya, nak. Gapapa" jawabku tersenyum. Lalu penglihatan tiba tiba menjadi buram,kepalapun seakan berputar . Pusing.


"Bu, beneran  gapapa?" Samar samar masih bisa ku dengar, ia bertanya. Kemudian semuanya menjadi gelap.


________________


"Rasyaa?" tanya Naila, heran.


"Eh, lu Nai, ngapain?" Rasya balik nanya.

__ADS_1


"Nyokap gue katanya masuk rumah sakit, elu sendiri ngapain disini?"


"Gue, gak sengaja nabr---"


"Keluarga Bu Rahmi?" Tanya dokter, memotong perkataan Rasya.


"Saya, dok" sahut Naila.


"Alhamdulillah Keadaan Bu Rahmi gapapa, asal jangan telat makan! Sepertinya ia kecapean dengan perut yang kosong membuat daya tahan tubuhnya lemah" tuturnya.


Naila hanya menganggap saran dari dokter bagai angin lalu, yang masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Seakan ia tak peduli bagaimanapun keadaan ibunya.


"Boleh kami masuk, dok?" Timpal Rasya


"Silahkan, nanti diurus administrasinya ya, saya permisi"jawab dokter.


Rasya mengangguk, kemudian masuk kedalam yang disusul Naila dari belakang.


"Nai ..." panggil Bu Rahmi, sudah siuman.


"Ya" jawab Naila, dengan langkah gontai menghampiri Bu Rahmi.


"Kamu udah makan belum nak?" Tanya Bu Rahmi, lembut.


"Udah" jawab Naila, cuek.


"Maafin ibu ya sayaang,belum bisa bahagiain kamu, selalu nyusahin kamu" ucapnya penuh ketulusan. Bagaimanapun perlakuan Naila terhadapnya, tetapi Bu Rahmi amat menyayanginya.


"Gosah drama!" Jawabnya ketus, lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Rasya yang melihatnya pun menggelengkan kepala. Lalu menghampiri Bu Rahmi.


"Sabar ya, bu! Ibu wanita kuat" ucapnya memberi semangat. Bu Rahmi menyeka air mata lalu tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2