
"Nai ..." seru Bu Rahmi yang baru saja beres mencuci baju.
"Hemm" sahut Naila yang sibuk dengan gadgetnya. Bu Rahmi menghampiri Naila yang sedang rebahan diatas karpet.
"Ibu .... minta uang ya, kepala ibu sakit lagi, nak" ucap Bu Rahmi, ragu. Dengan tangan memijit kening.
"Uang?" Tanya Naila, seakan meledek. Bu Rahmi mengangguk.
"Hahaha, kerja! Kalo pengen uang" balas Naila, tepat didepan muka Bu Rahmi. Lalu pergi.
Bu Rahmi mengikuti Naila dari belakang. Berharap ada belas kasih darinya.
"Ibu mohon, nak. Ibu pengen beli obat " ucap Bu Rahmi, memelas.
"Gada" timpal Naila, yang terus berjalan.
"Nak, ibu mohon, duapuluh ribu, saja." Bu Rahmi mencekal tangan Naila yang hendak keluar. Naila pun berbalik badan.
"Gada ya gada" Jawab Naila, lantang. Menepis tangan Bu Rahmi, lalu pergi.
Bu Rahmi menangis, bukan karena sakit yang ia rasa, melainkan ia yang gagal mendidik anaknya. Bahkan, Naila tak peduli akan ibunya sendiri. Apakah Naila tak menyadari, telah membuka berapa banyak pintu neraka, untuknya sendiri? Lewat airmata ketidak ridhoan ibunya.
__ADS_1
____________
Rasya, yang sudah berencana main kerumah Naila. Pun terkejut, sesampainya ia disana, setelah memarkirkan mobilnya dan berjalan hendak mengetuk pintu. Matanya membulat, saat melihat Bu Rahmi tergeletak tak berdaya dilantai.
"Astaghfirulloh, bu, ibu kenapa?" Ucapnya, panik. Lalu menggendong Bu Rahmi, membawanya kerumah sakit.
"Sus, tolong sus." Teriaknya pada salah satu perawat yang lewat. Perawatpun berlari mendorong brankar dan membaringkan Bu Rahmi diatasnya.
Rasya menunggu diluar, menangkup kedua tangan diwajahnya. Hati ia gelisah, takut jika Bu Rahmi kenapa-napa. Rasyapun tak mengerti dengan perasaannya sendiri, saat pertama bertemu dengan Bu Rahmi seakan ada magnet yang selalu menarik ia dalam pelukannya, merasakan kenyamanan dan selalu ingin bersamanya.
"Dok, gimana keadaan ibu saya?" Tanya Rasya, khawatir. Menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan pasien.
"Keadaan Bu Rahmi alhamdulillah baik baik saja. Beliau hanya kecapean membuat darah tingginya kumat. Jadi, tolong lebih dijaga pola makan dan istirahat yang cukup" tutur dokter, Rasyapun mengangguk.
"Iya, sama sama" jawabnya, dan berlalu.
"Assalamu'alaikum, bu." Sapa Rasya sembari menutup pintu.
"Wa'alaikumussalam, nak Rasya?" Sahut Bu Rahmi.
"Gimana, bu keadaannya? Baik'kan?" Tanya Rasya, kemudian menyalami Bu Rahmi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, nak. Ibu masih diberi kesembuhan" jawab Bu Rahmi. Rasyapun mengangguk.
Bu Rahmi memandangi Rasya, begitu banyak kemiripan dengan almarhum suaminya. Mulai dari gaya bicaranya, sopan. Dan cara memperlakukan seorang wanita, penuh perhatian. Bu Rahmi menumpahkan airmata yang sudah berembun, ketika ia teringat almarhum suaminya.
Rasya yang melihat Bu Rahmi menatapnya dalam, pun membuatnya salah tingkah.
"Ibu ..." Rasya melambai lambaikan tangannya. Bu Rahmi masih terlarut dalam lamunannya.
"Bu, gapapa?" Tegurnya, lagi.
"Eh, i-iya nak." Jawab Bu Rahmi, yang tersadar dari lamunan. Rasya menggelengkan kepala, lalu mengambil mangkok yang berisi bubur, dan mulai menyuapi Bu Rahmi.
"Makan dulu, ya, bu. Aaaa aaaaem" Rasya melayang layangkan sendoknya mengibaratkan pesawat. Bu Rahmi terkekeh kekeh sendiri dan menerima suapan dari Rasya dengan senang hati.
"Obatnya ya, bu. Minum dulu" Rasya menyodorkan obat dan segelas air. Bu Rahmipun mengambil alih dari tangan Rasya.
"Nak, Rasya" seru Bu Rahmi, memecah keheningan. Rasya yang sedang berbalas pesan dengan teman lamanyapun melihat kearah Bu Rahmi lalu menyimpan hpnya dan menghampiri Bu Rahmi.
"Iya, bu. Ada apa?"
"Kamu anak yang baik, nak. Ibu sangat sekali berharap kamu mau membawa Naila kejalan yang benar, membimbingnya menjadi lebih baik, ibu yakin kamu pasti bisa" ujar Bu Rahmi, penuh harap. Rasya menatap dalam, Bu Rahmi. Banyak sekali pengharapan disana, apa ia bisa, menjalankan amanah Bu Rahmi?
__ADS_1
Dengan penuh keyakinan, Rasyapun mengangguk, pertanda ia menyanggupinya. Bu Rahmi tersenyum senang. Bagi Rasya kebahagiaan Bu Rahmi, kebahagiaan juga untuknya. Walau hanya beberapa minggu ia mengenalnya, tetapi entah mengapa, Rasya seakan sudah sangat lama mengenalnya. Seperti ada ikatan batin yang membuatnya selalu nyaman dan ingin selalu ada didekatnya.