Aku Ibumu Bukan Pembantumu

Aku Ibumu Bukan Pembantumu
Rahasia


__ADS_3

"Bu, jalan jalan yuk" Naila menghampiri Bu Rahmi yang sedang menjahit pakaian diruang tengah.


"Jalan jalan kemana, sayaang?" Tanya Bu Rahmi yang sedang fokus memasukan benang kejarum.


"Kemana aja, bu." Balas Naila.


"Ya sudah, kamu bersiap gih. Ibu nyelesain ini dulu." Ujar Bu Rahmi.


Nailapun bergegas kekamar. Setelah beres bersiap, ia keluar dengan pakaian yang membuat Bu Rahmi tertegun.


"Naak ... ini bener kamu'kan?" Tanya Bu Rahmi tak percaya.


Karena biasanya Naila hanya memakai pakaian kurang bahan dan makeup yang menarik perhatian. Tapi sekarang ...


"Iya bu, biasa aja ah liatnya. Naila udah nyaman gini." Jawab Naila sembari memutarkan tubuhnya.


Naila memakai baju gamis polos berwarna kuning tua yang dipadu dengan kerudung syar'i berwarna biru dongker, dan sedikit polesan pada wajahnya yang cantik dari lahir. Perfect.


"Alhamdulillah nak, anak ibu makin cantik aja." Balas Bu Rahmi.


"Ibu siap siap dulu, ya?" Lanjutnya, Nailapun mengangguk.


Tak lama kemudian Bu Rahmipun telah beres bersiap lalu menghampiri Naila.


"Ibu udah siap? Cantik"

__ADS_1


"Udah nak, kamu juga cantik."


Nailapun menstarter motornya kemudian melaju membelah jalanan dengan membonceng sang ibu tercinta menuju taman.


Sesampainya disana ada Rasya juga sama ibunya.


"Eh, Ami. Ada disini juga." Sapa Bu Jannah, sembari cipika cipiki dengan Bu Rahmi.


"Iya, Ana. Ini Naila katanya lengen jalan jalan." Jawab Bu Rahmi.


"Bu, Naila beli cemilan dulu ya." Sahut Naila.


"Rasya juga mau beli minuman, bu" Timpal Rasya.


Naila dan Rasya berlalu membeli cemilan dan minuman. Tinggal Bu Jannah dan Bu Rahmi yang sedang mengobrol.


"Ami, sebenarnya ada yang mau aku omongin sejak pertama ketemu, mungkin ini saatnya yang tepat buat aku cerita." Ujar Bu Jannah, memulai percakapan. Terlihat serius.


"Omongin apa ya,?" Tanya Bu Rahmi.


"Sebenarnya dulu aku itu cari cari kamu, dan alhamdulillah sekarang kita dipertemukan kembali."


"Ya, terus?" Sahut Bu Rahmi, penasaran.


"Saat lahiran anak kamu, sebenarnya ..." Bu Jannah menggantung ucapannya membuat Bu Rahmi semakin penasaran.

__ADS_1


"Ana, langsung intinya aja!" Timpal Bu Rahmi.


"Naila bukan anak kamu." Akhirnya Bu Jannah pun bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Gak mungkin, Ana. Naila anak aku, aku yang lahirin dia." Jawab Bu Rahmi tidak percaya.


"Liat saja peringai Naila, Ami. Sangat bertolak belakang dengan sifatmu. Tidak ada sedikitpun kesamaan antara kamu ataupun dengan almarhum suamimu." Bu Jannah menjelaskan.


"Naila itu anak ku, Ana." Bulir bening mulai berjatuhan dari pelupuk mata Bu Rahmi. Bu Jannah memeluk Bu Rahmi, merangkulnya, memberi kekuatan.


"Anakmu sudah meninggal, Ami. Ia lemah jantung. Naila hanya anak yang diadopsi oleh almarhum suamimu dari panti asuhan, karena suamimu tidak ingin melihat kau berduka. Ia tidak tega melihat kamu menangis lagi hanya karena mengharapkan seorang anak, setelah lima tahun kau menanti kehadiran buah hati. Tapi Alloh malah mengambilnya. Aku sendiri dan dokter Raisa yang menjadi saksi. Semoga kau bisa lebih tabah, Ami."


Bu Rahmi semakin sesenggukan, kenyataan pahit apalagi yang harus ia terima. Setelah anaknya berubah menjadi lebih baik. Tapi keadaan malah semakin rumit. 


Naila kembali dengan segala makanan yang ia beli. Tubuhnya bergetar, matanya berembun, ya! Naila mendengarkan  percakapan Bu Jannah dan Bu Rahmi. Ia berlari entah kemana, Rasya yang mengerti dengan keadaanpun segera menyusul Naila. Naila bersembunyi dibalik pos ronda.


"Nailaaa ...." Rasya terus saja berteriak memanggil manggil nama Naila. Ia berlari kesana kemari, tapi tak menemukan sosok Naila yang dicarinya.


Sedangkan dibalik pos, Naila semakin larut dalam tangisnya. Ia kesal, marah, kecewa, juga menyesal. Kenapa nasib buruk selalu menimpanya? Ketika ia ingin berhijrah, godaa  demi godaan menghampirinya bahkan kenyataan pahit sekalipun selalu berpihak padanya.


Terkadang dunia tak adil bagi Naila. Ia malu sama Bu Rahmi, yang mampu sabar dalam menghadapi sikap kurang ajarnya. Mendidiknya dengan penuh kasih sayaang. Tapi, orangtuanya sendiri malah membuang Naila. Yang sekarangpun entah dimana.


Naila berjalan gontai, dengan pikiran yang kosong, entah kemana tujuan ia sekarang.


Sedangkan disisi lain Rasya, Bu jannah dan Bu Rahmi khawatir dengan keadaan Naila.

__ADS_1


__ADS_2