Aku Ibumu Bukan Pembantumu

Aku Ibumu Bukan Pembantumu
Bahagiamu, bahagiaku


__ADS_3

"Naila, sayaang" Bu Rahmi menghampiri Naila yang duduk diatas ranjang, dengan tangan yang menekuk lutut dan pandangan fokus kedepan.


"Makan dulu, yuk. Nak!" Bu Rahmi memegang tangan Naila. Naila melihat sekilas, ia tersenyum. Lalu kembali menerawang. Bu Rahmi merangkul Naila, menyandarkan kepala dibahunya. Sejak kepulangannya hari itu, Naila jadi selalu ngurung diri, sedikit bicara, sangat tampak sekali perubahannya. Ada apa denganmu, nak?


"Kamu istirahat, ya, sayaang!"


 Bu Rahmi menghapus air mata dipipi Naila, lalu mencium keningnya. Dan menyelimuti Naila. 


_________________


"Assalamu'alaikum, Ami" ujar Bu Jannah, Bu Rahmi yang sedang sibuk dengan alat tempurnya, didapurpun, menoleh.


"Eh, Ana. Sebentar ya, tanggung nih, lagi masak." Sahut Bu Rahmi.


"Yaudah, aku bantu, ya." Balas Bu Jannah, iapun menghampiri Bu Rahmi yang sedang mengulek sambel, sedangkan Bu Jannah, mengiris-ngiris tempe yang mau digoreng.


"Bu, gimana keadaan, Naila?" Tanya Rasya, menghampiri mereka.


"Ya, masih sama, belum ada perubahan." Jawab Bu Rahmi, tanpa mengalihkan pandangan.


"Kamu samperin, gih. Ajak ngobrol. Naila butuh teman" timpal Bu Jannah. Rasya mengangguk, lalu berjalan kekamar Naila.

__ADS_1


"Nai ..." Rasya menggoyangkan pelan bahu, Naila. Naila yang merasa terusikpun membuka matanya. Lalu, berusaha duduk, Rasyapun membantu Naila bersandar di dipan. Naila tersenyum. Seperti yang selalu ia lakukan akhir akhir ini, hanya tersenyum tanpa bicara. 


"Gimana kabar lu?" Tanya Rasya, memulai percakapan. Naila menatap Rasya dengan mata, berkaca kaca.


"Lho, jangan nangis!" Ucap Rasya, sembari menghapus air mata yang mulai menganak. Membuat Naila semakin terisak. Rasya bingung, ia harus berkata apalagi. Selain, menenangkan Naila kembali


"Gue baik." Jawab Naila, dalam isakan tangisnya. Akhirnya Naila membuka suara, setelah beberapa menit kebelakang ia menangis.


"Alhamdulillah, kalo lu baik. Sebenarnya gue gak tega, Nai. Liat lu kaya gini. Kalo lu mau cerita, apapun. Cerita aja sama gue, jangan sungkan. Gue siap jadi pendengar, buat lu." Ujar Rasya, meyakinkan Naila.


"Gue, belum siap." Balas Naila.


"Yaudah, kalo lu udah siap. Gue mohon, lu cerita, ya. Siapa tau'kan gue bisa bantu. Jangan dipendam sendiri. Nanti lu sakit."


"Eh, lu emang gak kerja lagi?" Tanya Rasya.


"Gak"


"Mau gak, lu kerja ditempat gue?" 


"Kerja paan?" Tanya Naila, penasaran.

__ADS_1


"Jadi ... ibu dari anak-anak kita, kelak." Jawab Rasya, mengedipkan sebelah matanya. Sukses membuat  Naila tersipu malu. Bukan marah seperti dulu.


"Apaan sih, dasar gombal." Sahut Naila, memalingkan wajahnya. Rasya hanya tertawa, Naila yang melihat Rasya tertawapun ikutan tertawa. Rasya berhenti tertawa lalu menatap Naila yang sedang tertawa. Cantik. Naila yang merasa diperhatikanpun berhenti tertawa, lalu mereka saling pandang, dan tertawa bersama.


"Udah ah, pegel pipi gue ketawa mulu." Ujar Rasya, menghentikan tawanya.


"Makan dulu, yuk! Ibu sama mama udah masak enak" Lanjutnya, lagi. Nailapun mengangguk, lalu mereka melenggang kedapur. 


Bu Rahmi dan Bu Jannah menghentikan kegiatannya yang sedang menyajikan makanan. Setelah melihat Rasya dan Naila keluar kamar. Mereka saling pandang dan saling menyenggol bahu. Bu Rahmi tersenyum bahagia, melihat Naila kembali ceria.


"Silakan duduk!" Titah Bu Jannah. Rasya dan Nailapun duduk bersebrangan. Bu Rahmi menuangkan nasi, kesetiap piring sedangkan Bu Jannah menuangkan lauknya. Selama mereka makan hanya ditemani suara sendok dan piring yang beradu. Sesekali Rasya mencuri pandang kepada Naila yang sibuk menyuapkan makanan kemulutnya. 


"Ami, kapan kapan main atuh, kerumah." Sahut Bu Jannah yang sedang membereskan piring bekas makan.


"Ya, nanti aku sama Naila kesana. Tapi, takutnya pas sampai dirumahmu, Ana. Naila malah pulang lagi, karena takut pak Roy" ujar Bu Rasya, terkekeh. Ketika ingat sewaktu kecil Naila suka dibawa main kerumah Bu Jannah oleh ayahnya. Tapi selalu saja Naila merengek minta pulang . Karena takut katanya, sama pak Roy--papanya Rasya. Pak Ramdan--ayahnya Naila dan Pak Roy adalah teman dekat dipekerjaan. Sedangkan Bu Rahmi dan Bu Jannah adalah sahabat sedari kecil.


"Ih, ibuu ... itu'kan masih kecil" timpal Naila.


"Emang sekarang udah gak takut, ya" Rasya menyahut. Membuat Naila cemberut. Emh lucu sekali dia.


"Ya, gapapa, sayaang. Sekarang papanya Rasya udah gak baplang lagi kok, kemaren udah mama cukur." Sahut Bu Jannah, menghampiri mereka. Mengingat Naila takut pada Papanya Rasya, katanya takut pada kumisnya yang baplang. Haha Naila, Naila.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama, terkecuali Naila. Ia malah jadi salah tingkah. Karena selalu saja digoda Rasya, Bu Rahmi dan Bu Jannah.


__ADS_2