Aku Ibumu Bukan Pembantumu

Aku Ibumu Bukan Pembantumu
Rasa


__ADS_3

Siang ini cuaca mendung, Naila yang baru belanja di Supermarketpun bergegas pulang, sebelum hujan turun.


Naila menstarter motornya, kemudian iapun berangkat membelah jalanan. Namun, diperempatan menuju rumahnya, Naila kepegat hujan. Nailapun berbelok keruko yang sudah tutup, sekedar berteduh.


Sudah hampir dua jam Naila berdiri diruko. Hujan masih saja dengan lebatnya mengguyur bumi. 


'Apa gue minta tolong Rasya aja ya? Jemput gituh pake mobil.' Gumamnya dalam hati.


Naila membuka tasnya, lalu mengambil hp, dan mulai mengetik pesan pada Rasya.


[Syaa, gue ke pegat hujan, lu sibuk gak? Bisa jemput gue? Didepan ruko perempatan?]


"Nailaaa ...."  samar samar terdengar seseorang yang memanggil Naila diantara rintik rintik hujan yang berjatuhan. Naila melihat sekitar, dan matanyapun tertuju pada mobil hitam yang terparkir rapi. Ia menyipitkan matanya, ketika seseorang didalam mobil itu mulai membuka pintu. Rasya.


Nailapun segera menghapus pesan yang belum sempat ia kirim. Pasalnya, Rasya udah ada disini. 'Habis darimana dia?' Tanyanya dalam hati.


"Lu abis darimana, Nai?" Tanya Rasya sambil mengibaskan jaket yang sedikit kebasahan karena air hujan.


"Belanja. Persediaan dapur abis. Lu sendiri darimana?" Naila balik bertanya.


"Gue abis nganterin laporan penghasilan kemaren" jawab Rasya. Nailapun mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Eh, lu udah lama disini?" 


"Udah dua jam." Sahut Naila sembari menggosok gosokan tangannya.


"Lu dingin ya?" Rasya membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Naila. Naila tersentak kaget, karena tiba tiba Rasya mendekatinya yang hanya berjarak dua jengkal saja. Membuat ia canggung.


"Gue bisa pake sendiri." Naila mengambil alih jaket dari Rasya. 


Rintikan hujan terus saja dengan semangatnya menyiram tanah yang sudah menggenang. Tiga jam lebih Rasya dan Naila berteduh. Tanpa ada percakapan apapun. Hanya keheningan dan suara hujan yang menemani mereka.


"Nai, pulang yuk!" Rasya membuka percakapan. 


"Gampang, biar nanti Pak Nasib  yang bawa." Jawab Rasya.


Pak Nasib adalah supir pribadi Bu Jannah. Yang sudah hampir lima tahun mengabdi disana. Dan sudah menjadi kepercayaan keluarga Rasya.


"Emh, ya sudah. Ayok!"


_______________


"Nailaa ..." Seru Rasya, memecah keheningan, sebab, sedaritadi Naila hanya diam.

__ADS_1


"Eh, i-iya, kenapa?" Sahut Naila sedikit gugup. Entah kenapa, akhir akhir ini yang dirasakan Naila setiap berdekatan dengan Rasya itu selalu gugup. Tidak seperti dulu yang bodo amatan.


"Keliatan gugupnya, kenapa sih?" Tanya Rasya, melihat sekilas kearah Naila, lalu kembali fokus kedepan karena sedang mengemudi.


"Eng-gak kok, siapa yang gugup."


"Gue tau kok, lu suka ya sama gue?" Goda Rasya.


"Apaan sih, enggak juga." Timpal Naila.


"Gue sayaaang sama lu, Nai." Rasya menghentikan mobilnya didepan taman. Lalu, menatap lekat mata Naila membuat Naila salah tingkah.


"Biasa aja kali, liatnya" ujar Naila, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Tatap gue, Nai. Coba liat mata gue! Apa ada kebohongan disana, hemm?" 


Rasya memegang kedua bahu Naila, membuktikan bahwa ia memang lagi serius, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Naila menunduk, tak kuat ia jika harus melihat mata Rasya,yang memang tidak ada kebohongan sama sekali. Dari dulu Naila memang tau kalau Rasya menyukainya. Rasya yang penyabar, penyayang, dan yang selalu ada buat dirinya dan keluarganya terutama ibu. 


"Gue juga sayaang, sama lu" lirih Naila.


Rasya tersenyum mendengarnya, refleks iapun memeluk Naila, membuat Naila tak berkutik.

__ADS_1


__ADS_2