
Kruukkk kruukk
Perut sudah berbunyi sedari tadi, cacing cacing sudah tak sabar menunggu haknya. Aku berjalan maju mundur, seperti orang kebingungan. 'Arrgh, lama banget sih ibu, kemana dulu dia? Udah dua jam belum pulang juga' gerutuku, kesal. Dengan terpaksa akupun memakan menu seadanya, tempe tahu. Daripada mati kelaparan'kan?
Tok tok tok
Baru saja beberapa suap yang masuk, udah ada yang ganggu. Biarin ajalah.
Tok tok tok
Pintu kembali digedor, siapa sih? Ganggu aja.
"Ya, sebentar" teriakku, dengan malas aku melangkah membukakan pintu.
"Neng Naila, ibu kamu ketabrak, sekarang udah dibawa ke rumah sakit" cerocos Bu Hana--tetangga sebelah. Aku mendengarnya dengan malas.
"Neng, kok diam ajasih? Gak khawatir gitu sama ibu kamu? Cepetan atuh kesana! Liat keadaannya" lanjutnya lagi.
"Ya ... ya, bawel" jawabku, lalu menutup pintu, diluar masih terdengar Bu Hana yang menggerutu. Mengambil kunci mobil lalu bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya disana, ada Rasya juga. Rasya adalah sahabatku dari SMP. Tapi, ia gak beda jauh sama ibu, selalu ngatur. Jadi malas.
Tapi, ngapain dia disini? Apa dia yang nabrak ibu? Ah bodo amat. Akupun berjalan menghampirinya. Tak lama berbincang, dokterpun keluar. Menjelaskan keadaan ibu. Ternyata gapapa, cuma kecapean, gak makan. Kecapean katanya? Kerja aja enggak, cape apa?! Gak makan katanya? Tempe tahu ada, siapa suruh gak makan. Dasar menyusahkan.
"Kamu udah makan belum, nak?" Tanyanya, sok perhatian.
"Udah" jawabku, malas.
"Maafin ibu ya, sayaang. Belum bisa bahagiain kamu, selalu menyusahkan kamu" mulai deh dramanya.
"Gosah drama"
Melihat adegan tadi, Rasya hanya mematung. Apa peduliku?. Akupun segera keluar menuju tempat biasa yang selalu aku datangi apalagi disaat moodku ambyar.
__ADS_1
____________
"Hai, sayaang .... disini" teriak lelaki tinggi, gagah, kumis tipis, dan senyum yang manis. Toni--kekasihku.
Aku menghampirinya, Tonipun memelukku lalu mengecup keningku, seperti yang selalu ia lakukan.
"Kenapa, sayaang? Kok cemberut terus dari tadi" tanyanya, membelai rambutku. Sebab daritadi aku hanya diam saja. Akupun melihatnya dengan malas.
"Ayo dong, cerita sama aku. Ada apa, hemm?" Lanjutnya, lalu merangkul tubuhku dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Biasa .... ibu" jawabku,malas.
"Emang berulah apalagi, nenek tua itu, hemm?"
"Udahlah, jangan ngebahas dia. Males aku" Tonipun mengangguk mengerti.
Aku menjalin hubungan kasih dengannya lebih dari tiga tahun. Tapi, ibu tidak merestuiku. Banyak alasan yang ia utarakan. Membuatku semakin membencinya. Ibu selalu ngatur ngatur jalan hidupku, jangan inilah itulah. Muak aku dengannya. Beda sekali dengan ayah yang selalu mendukung apapun yang ku mau, sayaang .... ayah pergi meninggalkan ku lebih cepat.
Aku bekerja di sebuah perkantoran dan menjabat sebagai sekretaris. Hidupnya tercukupi dong? Memang. Tapi, tak pernah sepeserpun aku memberikan gajiku pada ibu. Entahlah aku sangat tak menyukainya. Terutama sikap ibu yang selalu ngatur-ngatur, seolah olah aku selalu seperti anak kecil dimatanya. Cih, menyebalkan.
Setelah kejadian itu, Rasya jadi sering berkunjung kerumah Bu Rahmi, sebelumnya Rasya tidak tahu, kalau Bu Rahmi adalah ibunya Naila. Walau sudah bersahabat lama Naila tak pernah menceritakan keluarganya, kecuali tentang ayahnya. Rasya tahu betul, bagaimana sifat Naila, yang tidak suka diatur atur. Sebenarnya Rasya kecewa sekali, melihat sikap Naila kepada sang ibu. Dan, sudah lama juga Rasya memendam rasa pada Naila. Namun selalu diabaikan. Rasya sudah bertekad bulat ingin merubah dan mengajak Naila supaya lebih baik lagi. Apapun rintangan yang akan ia hadapi, Rasya tak akan menyerah.
"Assalamua'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, eh nak Rasya, masuk yuk, nak!"
Rasya tersenyum dan mengangguk, kemudian masuk kedalam dengan menenteng sebuah rantang.
"Bu, ini ada makanan dari mama" Rasya menyodorkan rantangnya, Bu Rahmipun menerimanya dengan senang hati.
"Ya ampun, gak perlu repot repot padahalmah, makasih ya, salamnya dari ibu, kapan-kapan mama kamu ajaklah kesini!" Ujar Bu Rahmi.
"Hehe, iya bu, nanti Rasya sampaikan" jawab Rasya, tersenyum.
"Yaudah, ibu siapin dulu makanannya, ya. Kita makan sama-sama."
__ADS_1
"Ya, bu"
Bu Rahmi sedang berkutat didapur, menyiapkan makanan yang ia masak, dan makanan dari Rasya.
"Eh, lu Sya, ngapain disini?" Tanya Naila yang baru bangun tidur, padahal jam sudah menunjukan angka delapan. Yang ditanyapun menoleh.
"Emh, gue cuma bawain makanan dari mama"
"Ouh, kirain mau ketemu gue" jawab Naila terkekeh sendiri lalu berjalan kekamar mandi, membersihkan muka.
Rasya menggelengkan kepala, lalu tersenyum.
"Nak, Rasya. Ayok makan dulu, ibu udah siapin!" Ajak Bu Rahmi.
Rasya yang sedang melamun tidak menyahut perkataan Bu Rahmi.
"Nak, Rasya." Panggil Bu Rahmi lagi sambil mengibas ngibaskan tangannya.
"Eh, i-iya bu." Jawab Rasya tergugup.
Rasya pun mengikuti langkah Bu Rahmi dari belakang. Naila sudah duduk dimeja makan. Bu Rahmi menyuruh Rasya yang memimpin do'a. Lalu, merekapun makan bersama.
"Bu, Rasya pamit pulang dulu, Ya. Makasih jamuannya" ucap Rasya sambil menyalami Bu Rahmi.
"Eh, iya sama-sama. Masakan mama kamu enak lho, makasih ya buat mama. Entar ajak juga atuh kesini" jawab Bu Rahmi.
"Hehe, iya bu, nanti Rasya ajak kesini." Setelah pamit, Rasyapun melangkah keluar. Pulang.
"Ekhem" Naila berdehem, menghentikan langkah Rasya. Rasya yang sudah diambang pintupun menoleh kebelakang.
"Ada yang ketinggalan, ya?" Tanya Rasya, polos.
"Gada, ngapain lu balik lagi?" Jawab Naila. Yang ditanya malah cengengesan.
"Hehe, kirain hati kamu yang ketinggalan" sahut Rasya dengan pedenya. Naila hanya mendelik kesal, lalu pergi kekamar. Ia memang paling malas kalau sudah berhubungan dengan hati, apalagi cinta. Rasyapun pulang dengan senyum lebar karena berhasil menggoda Naila.
__ADS_1
Bu Rahmi tersenyum, setidaknya dengan kehadiran Rasya, rumah ini selalu hangat. Oleh, candaan mereka ataupun Rasya yang selalu menggoda Naila sampai marah. Entah apa yang dirasakan Bu Rahmi, Rasya seakan ada ikatan dengannya. Bu Rahmi selalu merasa tenang dan nyaman dekat Rasya, beda dengan Naila yang selalu menyakiti hatinya. Tapi, percayalah. Bu Rahmi sangat amat amat menyayangi Naila.