Aku Ibumu Bukan Pembantumu

Aku Ibumu Bukan Pembantumu
masalah


__ADS_3

Aku dan mama sudah bersiap berkunjung kerumah Bu Rahmi. Kemarin, mama terus saja memaksa ingin bertemu dengan Bu Rahmi. Akupun mengiyakannya.


"Sya, mama kok jadi deg degan ya? Semoga aja ini Bu Rahmi sahabat mama dulu." Ucap mama, sembari menyiapkan makanan yang hendak dibawa. Mama memang hobi memasak, dan selalu memasak lebih, agar dapat dibagikan dengan tetangga. Alhamdulillah, merekapun suka.


"Jiaahh mama, kaya mau ketemu gebetan aja" jawabku, menggoda mama. Mama tertawa renyah, menepuk pundakku. Lalu kedapur. 


"Ada ada aja kamumah, Sya." Sahutnya, didapur yang sedang membereskan peralatan.


"Hehe, cepetan mah, keburu siang!" Ucapku agak berteriak, diluar sembari memanasi mesin mobil.


"Iyaa, bentar lagi, beres." Timpal mama, didalam.


"Ayok" ajak mama, sembari mengunci pintu.


Kamipun berangkat menuju rumah Bu Rahmi, membelah jalanan. Dan, tak lamapun sampai. Karena jarak rumah Bu Rahmi hanya beberapa kilo meter.


Akupun mengetuk pintu, pertama tidak ada balasan, keduapun sama, dan yang ketiga mulai terdengar anak kunci yang diputar. Pintupun terbuka.


"Rahmi ..." ucap mama, yang mulai berkaca-kaca.


"Jannah" balas Bu Rahmi, lalu merenggangkan tangan. Merekapun berpelukan. Aku hanya menyaksikan mereka yang saling melepas rindu. 


"Yaudah, yuk. Masuk" titah Bu Rahmi. Kamipun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Bu Rahmi berlalu kedapur dan kembali membawa nampan yang berisi dua gelas air putih dan cemilan.


"Nih, Ami, aku bawa makanan buatanku sendiri, lho." Ucap mama, sambil menyodorkan rantang berisi makanan yang mama masak.


"Pantesan, lho. Tiap nak Rasya membawa makanan, agak kenal dengan rasanya." Bu Rahmi dan mama terkekeh kekeh.


"Eh, emh, Naila nya ada, bu?" Tanyaku. Bu Rahmi dan mama melirikku lalu saling pandang, lah! Mereka kenapa? Apa aku salah tanya.


"Bu ..." lanjutku, lagi.


"Aciee cieee" mama menimpali.


"Mama, kenapa sih?" Tanyaku, heran. Mama malah tertawa renyah. Aku makin heran! Hadeuh.


"Terakhir aku kesini?" Tanyaku, memastikan.


Bu Rahmi mengangguk. 


"Ya Alloh, Mi. Terus kemana anak kamu?" 


Bu Rahmi menggeleng, mama memeluk Bu Rahmi.


"Aku udah denger semua ceritamu dari Rasya, aku ikut prihatin, ya. Kamu sing sabar" ucap mama, mengusap punggung Bu Rahmi. Memberi kekuatan.

__ADS_1


"Makasih, ana" balas Bu Rahmi.


Ya Alloh, kasian Bu Rahmi. Kenapa Naila menjadi lebih memperburuk keadaan. Sikap dan sifat Naila sangat bertentangan dengan Bu Rahmi. Bagaimana aku bisa mengajak Naila menjadi lebih baik? Demi Bu Rahmi. Aku harus bisa. Apapun yang harus aku hadapi. Bismillah. 


____________________


Setelah mengantar Bu Jannah--mama Rasya, pulang, Rasya bergegas kembali menuju rumah Ripal--temanku.


Saat sedang fokus mengemudi, tak sengaja Rasya melihat Naila dihalte bus, Rasyapun menghampirinya. 


"Naila ...?" Tegur Rasya, yang dimaksudpun menoleh lalu berdiri.


"Rasya, ngapain lu disini?" Tanyanya.


"Gak ngapa ngapain, gak sengaja aja lewat, liat lu disini. Kenapa lu gak pulang, Nai?" Tanya Rasya, to the poin.


"Bukan urusan, lu" balas Naila, ketus. Lalu berjalan melalui Rasya.


"Nai ... lu jangan terus begini! Emang lu gak sayaang apa, sama ibu lu! Yang ngelahirin, membesarkan lu. Lu pernah mikir gak kesana,hah? Dengan sikap lu kaya gini, emang gak nyakitin orang tua lu, hah? Nyakitin perasaan ibu lu, ngebuat ayah lu sedih dialam sana. Mikir dong, Nai!" Teriak Rasya, menggebu. Mengeluarkan segala unek unek yang selama ini dipendam. Membuat Naila menghentikan langkahnya. Lalu membalikan badan menghadap Rasya.


"Lu gak tau 'kan, apa yang gue rasain? Lu cuma bisa menilai gue dari luar. Lu tau apa tentang gue?! Kenapa sih lu selalu membuat gue risih? Selalu ngatur ngatur hidup gue, hah?! Gue muak sama lu, Sya. Jangan pernah ganggu hidup gue lagi. Urus aja hidup lu sendiri." Jawab Naila sembari menyeka airmata . Menekan kan kalimat terakhirnya. Rasya hanya mematung tanpa berucap. Dia gak tau harus berkata apa. Naila kembali melangkah dengan lari kecil. Ingin rasanya Rasya mengejar Naila. Lalu memeluknya. Tapi itu tidak mungkin.


'Gue sayaang sama lu, Nai. Maafin gue yang terlalu ngatur. Gue gak mau lu kaya gini terutama sama ibu lu sendiri.' Gumam Rasya. Kemudian kembali melanjutkan tujuan utamanya, kerumah Ripal.

__ADS_1


__ADS_2