
HALLO SEMUANYA !!!
INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA KU YANG BERGENRE HOROR ! MOHON MAAF JIKA MASIH ADA PENULISAN YANG KURANG TEPAT, DAN CERITA YANG MASIH MENGAMBANG. AKU MINTA DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA AGAR NOVEL INI LEBIH BERKEMBANG LAGI.
AKU AKAN MENERIMA KRISAN DARI KALIAN SEMUA DENGAN SENANG HATI. DAN JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND SHARE NOVEL INI JIKA KALIAN MENYUKAINYA DAN INGIN AKU MELANJUTKAN NOVEL INI TERUS YA.
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏
🌸Episode Lalu🌸
"Tangkap dia, jangan kasih lari lagi." Ucap segerombolan murid yang berlarian menyusul murid perempuan itu.
"Auuukh sakit" keluh Sisil. "Siapa sih main lari-larian aja kayak anak kecil.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Van ?" lanjutnya lagi dan segera membantu temannya itu untuk bangkit.
🌸Lanjutan🌸
Vanya menggelengkan kepalanya, seraya mengusap sikutnya yang sedikit lecet karena tergesek oleh lantai yang kasar.
Pandangan kedua gadis itu tertuju pada sekelompok pria yang memegangi murid perempuan yang tadi menabrak Vanya dan Sisil.
"Mala ?" gumam Vanya.
"Cekh, drama ini lagi, bosen banget aku Van. Mending kita ke kantin yuk, laper." Ucap Sisil dan menggandeng tangan Vanya menuju kantin sekolah.
~•
Aera, Kaili, dan teman-temannya sedang nongkrong dikantin sekolah, mereka fokus menikmati bakso aci yang belakangan ini menjadi makanan favorit Aera.
"Eh kalian semua tau nggak ? si Mala anak kelas dua belas, tadi kesurupan lagi dan dia lari kearah tanah lapang yang ada sumur tuanya. Aku semakin curiga deh sama sumur tua itu." Ucap Olive.
"Sumur tua ?" ucap Aera penuh tanya dan diangguki oleh Olive.
"Disekolah kita ada sebuah sumur tua yang terletak ditengah-tengah tanah lapang, tepatnya tanah kosong yang berada disamping kamar mandi didekat laboratorium, dan anehnya sudah berulang kali asal ada yang kesurupan selalu lari ketempat itu." Lanjutnya lagi.
"Olive, udah deh jangan nyebar gosip yang enggak-enggak, belum tentu juga sumur tua itu penyebab semuanya." Ucap Malik.
Bell istirahat baru saja berbunyi, Aera dan teman-temannya segera bangkit meninggalkan kantin sekolah. Sebenarnya sedari tadi mereka nongkrong ditempat itu karena jam pelajaran dikelas mereka terganggu oleh beberapa murid yang kesurupan.
"Mau kemana kita ? ke markas ?" tanya Malik.
"Bosen nih, gimana kalau kita ngecek lokasi ?" ucap Olive dengan senyum mencurigakan.
__ADS_1
"Eumm, ide bagus !" ucap Malik dengan semangat, namun wajah Kaily terlihat murung dan hanya menundukkan kepalanya.
"Gimana Kai ? siap nggak ?" tanya Ollive.
Kaily menarik nafas panjang dan akhirnya menyanggupi ide gila Ollive.
"Yes ! Mantap Jiwa ! gimana kalau kita kesana ?" ucap Malik dan menunjuk ke arah tanah lapang yang ada sumur ditengah-tengahnya.
"Setuju !" ucap Ollive semangat, dia langsung menggandeng tangan Kaily dan melangkahkan kaki dengan cepat.
"Aera ? ayo !" ucap Ezra menggandeng tangan Aer yang tengah melamun.
Kaily berjalam didepan bersama Ollive dan Nathan, sedangkan Malik berdiri dibelakang mereka seraya mengotak-atik benda pipih miliknya.
"Debuk !"
"Aawww, Malik ! kamu kalau jalan lihat-lihat dong jangan sibuk mainan handphone terus." Ucap Kaily yang ditabrak oleh Malik.
"Lah, salah sendiri berhenti nggak bilang-bilang." Ketus Malik yang masih fokus dengan handphonennya.
"Aera kamu nggak apa-apakan ikut kita ketempat ini ?" tanya Kaily dan dibalas gelengan kepala oleh Aera, karena gadis itu merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi.
Mereka melanjutkan kembali perjalanannya, dan akhirnya kini ke enam murid itu telah sampai di ujung koridor tepat didepan kamar mandi.
"Yakin dong, rasa penasaran ku udah memuncak banget ini, nggak bisa dibendung lagi. Siapa tahu aja disana kita nemuin sesuatu yang berharga." Ucap Ollive dengan percaya diri.
Aera memandang ke arah tanah lapang itu, berulang kali ia mengucak matanya, dan mencoba untuk memfokuskan pandangan, namun hasilnya tetap sama. Ia melihat seorang gadis yang memakai seragam sekolah tengah berdiri ditengah-tengah lapangan itu, wajahnya terlihat sangat pucat dengan bola mata merah ia menatap tajam ke arah Aera dan teman-temannya.
"Duch males banget deh aku sama yang ginian." Ucap Kaily kesal dan melangkahkan kaki ke arah tanah lapang itu.
"Stop !" pekik Aera secara tiba-tiba, dan mampu menghentikan langkah kaki teman-temannya.
Mereka semua menatap ke arah Aera, namun gadis itu hanya fokus menatap seorang murid perempuan yang berada tepat dihadapan Kaily.
"Ada apa lagi sih Aera ?" tanya Ollive kesal. "Kapau kamu takut mending balik lagi ke kelas sana !" ketusnya lagi.
"Emm itu, anu ... Kaily, Ollive, apakah kalian tidak melihatnya ?" ucap Aera terbata.
Ollive dan Kaily saling melempar pandang, namun sekilas kemudian Kaily menatap tajam ke arah Aera. "Aera ! apakah kamu mampu melihat sesuatu ?" tanyanya misterius.
Aera memperlihatkan wajahnya yang tengah diselimuti kebingungan. "Emm itu," ucapnya dengan ragu karena terus memperhatikan murid perempuan yang menatap tajam ke arahnya.
"Emm, bisakah kita kembali ke kelas ? aku merasa tidak enak badan." ucap Aera seraya memegang lehernya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Aera benar, sebaiknya kita kembali ke kelas, karena sebentar lagi jam pelajaran juga akan segera dimulai." Ucap Ezra, yang segera diangguki oleh Nathan.
"Aakkkh gak seru nih, baru juga mulai." Ucap Ollive kesal.
Ezra melangkahkan kaki bersama Aera, sedangkan Nathan, Ollive dan Kaily menyusul dibelakangnya, meninggalkan Malik yang masih terdiam dengan benda pipih miliknya.
"Tit Tit Tit"
Suara dari benda pipih itu, yang memperlihatkan tanda panah merah tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata Malik membulat dan menatap ke arah tampat itu, kakinya sedikit bergetar.
"Woy Malik ! ayo !" teriak Ollive yang membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pria itu.
"Emm, iya iya !" ucap Malik yang bergidik ngeri dan melangkahkan kaki, menyusul teman-temannya.
"Kamu lihatin apa sih Lik ? sibuk banget dari tadi ?" ucap Ollive penasaran.
"Eeee, ini aku lagi uji coba aplikasi baru yang buat deteksi hal-hal yang tak kasat mata, dan kamu tau nggak ? tadi sepertinya alat ini mendeteksi sesuatu tepat ditemat berdirinya Kaily." Ucap Malik, yang membuat Ollive menatap tak percaya ke arahnya.
"What ? memang ada aplikasi seperti itu ? gila !" ucap Ollive dengan mata yang membesar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cekh, nggak percayaan amat sih kamu Liv, lihat aja nanti." Ucap Malik yang mempercepat langkah kakinya.
Ollive membalikkan pandangannya, menatap ke arah tanah kosong itu lagi. "Apa benar yang di bilang Malik ?" batinnya. Angin berhembus dengan kencang, membuat gadis itu sedikit bergidik dan kembali memercepat pergerakannya menyusul teman-temannya.
"Aera !" ucap Kaily lagi setelah berulang kali dia memanggil temannya itu namun tidak ada jawaban.
"Emm ?" gumam Aera.
"Apakah kamu memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu ?" tanya Kaily, Aera menatap ke arah temannya itu dengan alis yang sedikit terangkat.
"Maksud nya ?" tanya Aera tak faham.
Kaily menggeleng-gelengkan kepalanya, "entahlah, namun aku merasa seperti ada yang memperhatikan kita sejak tadi." Ucap Kaily.
Aera tersenyum, dan mengusap punggung tangan Kaily, tak lama kemudian seorang guru laki-laki dengan memakai kaca mata bulat dengan membawa buku-buku tebal masuk kedalam kelas itu.
Semua murid yang tadinya tengah sibuk bergosip, kini berubah menjadi hening tak bersuara.
Aera dan teman sekelasnya tengah sibuk mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh pak guru, namun ada sesuatu yang menarik perhatian gadis itu dan membuatnya menatap ke arah pintu masuk.
Mata Aera membulat, menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat, berulang kali ia mengucak matanya, namun tetap melihat hal yang sama. Tubuhnya terasa kaku tanpa bisa digerakkan sama sekali, bibirnya terasa terkunci tanpa bisa mengeluarkan suara. Ia hanya bisa menggenggam erat rok abu-abu yang melekat dipinggangnya.
🌸BERSAMBUNG
__ADS_1