ALAM DIBALIK CERMIN

ALAM DIBALIK CERMIN
MIMPI YANG SAMA


__ADS_3

HALLO SEMUANYA !!!


INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA KU YANG BERGENRE HOROR ! MOHON MAAF JIKA MASIH ADA PENULISAN YANG KURANG TEPAT, DAN CERITA YANG MASIH MENGAMBANG. AKU MINTA DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA AGAR NOVEL INI LEBIH BERKEMBANG LAGI.


AKU AKAN MENERIMA KRISAN DARI KALIAN SEMUA DENGAN SENANG HATI. DAN JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND SHARE NOVEL INI JIKA KALIAN MENYUKAINYA DAN INGIN AKU MELANJUTKAN NOVEL INI TERUS YA.


TERIMAKASIH 🙏🙏🙏


-


-


-


🌸🌸🌸


Aera telah pulang dari sekolah dengan dijemput oleh Dimas, situasi disekolah hari ini sangatlah kacau, sehingga kepala sekolah memutuskan untuk memulangkan semua muridnya.


"Aera ! Kau sudah pulang nak ?" Ucap Eyang Andini yang merasa heran karena cucunya itu telah berada dirumah sedangkan jam didinding masih menunjukkan pukul setengah dua belas.


"Iya eyang, tadi disekolah ada kesurupan masal, jadi kita disuruh pulang, untung saja kak Dimas sedang jam kosong, jadi sempat ngantari Aera pulang." Jawab Aera seraya mencium punggung tangan Andini.


"Oh tuhan ! Kamu tidak apa-apa kan nak ?" Ucap eyang Andini khawatir.


"Tidak eyang, Aera baik-baik aja kok ! Eyang nggak usah khawatir ya." Ucap Aera memeluk eyangnya.


"Lalu Dimas kemana ? Kok nggak kelihatan ?" Tanya eyang Andini.


"Kak Dimas balik ke kampusnya lagi eyang." Ucap Aera.


"Ya sudah kalau gitu sekarang kamu naik ke atas, istirahat ! Eyang mau mantau si mbok nyiapin makan siang." Ucap Andini.


Aera menganggukkan kepalanya, ia tersenyum manis, lalu melangkahkan kaki kelantai dua, ia berjalan menuju kamarnya.


Tubuh gadis cantik itu mulai terasa lelah, ia meletakkan tas punggungnya diatas meja belajar, lalu merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"Hhhh, lelahnya !" Gumam Aera dan mulai memejamkan matanya.


Tak berapa lama kemudian gadis cantik itu sudah mulai terlelap didalam tidurnya, dengan masih memakai seragam sekolah. Tubuhnya terlihat sangat gelisah, bergeraka kesana kemari.


"Bunda !"


"Bunda !"


"Tolong !"


Racaunya dengan mata yang masih terpejam, dia terlihat semakin gelisah, bahkan dari sudut matanya telah menetes cairan bening.


"TIDAKKKK !" Teriak gadis itu seraya bangkit dari tidurnya.


"Hahhh"


"Hahhh"


"Hahhh"


"Hanya mimpi ! Tenanglah Aera !" Ucap gadis cantik itu dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Mengapa aku selalu memimpikan hal itu ! Siapa perempuan bergaun merah itu yang sebenarnya ?" Batin Aera.


Gadis cantik itu meraih benda pipih yang ia letakkan diatas nakas. "Jam dua belas !" Ucap Aera setelah melihat benda pipih itu.


"Triiing"


Aera ingin meletakkan benda pipih miliknya itu, namun benda itu berdering, sebuah pesan masuk ledalam handphonenya. Aera segera membuka isi pesan tersebut.


From +62...


"Hay Aera ini aku Kaily ! Jangan lupa save nomor handphone ku ya !"


Bunyi pesan itu, Aera tersenyum dan langsung menyimpan nomor handphone teman barunya itu.


"Tok tok tok"


Terdengar suara pintu kamar Aera diketuk.


"Masuk !" Ucap gadis cantik itu, tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka, terlihat seorang pelayan masuk ke kamar itu.


"Maaf non ! Ndoro nyonya meminta non Aera untuk turun makan siang !" Ucap pelayan itu.


"Iya bik, terimakasih !" Ucap Aera sopan dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri, dan mengganti pakaian sekolahnya.


-

__ADS_1


-


-


"Siang eyang !" Ucap Aera kepada eyang Andini yang telah berada diruang makan. 


"Eh cucu ku sudah turun, ayo sini duduk ! Hari ini eyang minta si mbok untuk masakin yang spesial untuk mu !" Ucap Andini dan menarik tangan Aera yang masih berdiri dibelakangnya agar duduk dikursi yang berada disampingnya.


"Woah sepertinya enak, terimakasih eyang !" Ucap Aera semangat.


"Sama-sama sayang !" Balas Andini.


Aera dan eyang Andini melanjutkan makan siang dimeja makan itu sambil membahas beberapa hal, mulai dari mengenalkan nama-nama pembantu, supir, dan semua yang berkerja dirumah itu, karena rumah eyang Andini sangatlah besar.


"Eyang mau kemana ?" Tanya Aera yang sedang duduk diruang tengah sambil menonton drama korea kesukaannya.


"Eyang mau ketaman belakang, mau nanam beberapa pohon mangga yang baru diantar tadi." Ucap eyang Andini.


"Aera ikut eyang !" Ucap gadis cantik itu yang langsung mematikan tv dan bangkit dari tempat duduknya.


Para pembantu rumah tangga yang bertugas dikebun belakang terkejut melihat kedatangan eyang Andini yang bergandengan tangan dengan Aera, cucu perempuan satu-satunya.


"Mana bibi yang baru datang tadi Ujang ?" Tanya eyang Andini pada salah satu tukang kebunnya.


"Ada ndoro ! Masih didepan biar saya ajak yang lainnya buat bawa bibitnya kemari." Ucap Ujang dan diangguki oleh eyang Andini.


"Sekalian pupuk kandangnya juga ya !" Ucap eyang Andini.


Taman belakang ruamh eyang Andini terlihat rindang dan sejuk dipenuhi dengan bunga-bunga taman, pepohonan yang rimbun bahkan sebahagiannya dipenuhi dengan buah-buahan.


Mata Aera tertuju pada pohon karsen yang dibawahnya terdapat bangku taman. Gadis cantik itu melangkahkan kakinya menuju tempat itu, ia duduk di bangku taman tersebut.


Tenang ! Itu yang dirasakan oleh Aera, ia menghiup nafas dalam-dalam meresapi setiap bulir oksigen yang masuk ke saluran pernafasannya.


"Meong"


"Meong"


"Meong"


Aera mendengar suara kucing yang meraung-raung seperti sedang terjepit. Gadis cantik itu bangkit dari kursinya dan mencari dari mana sumber suara itu.


Ia terus berjalan menelusuri jalan setapak yang ada disamping taman itu, dengan melihat ke arah kanan dan kiri mencari-cari keberadaan kucing yang terus-terusan mengeong.


"Disini kau rupanya kucing malang !" Ucap Aera yang melihat seekor kucing berwarna abu-abu gelap tersangkut pada tali yang mengikat tanaman bonsai.


"Pus pus pus"


"Tenanglah !"


"Meong" Suara kucing itu seplah menjawab ucapan Aera.


"Kau menjawab ku ? cekh kau terlihat sangat manis pus, siapa nama mu ? dan dimana majikan mu ?" Tanya Aera yang mengusap kepala kucing yang telh berada didalam gendongannya.


"GLEDAARRRRR"


Suara petir menggelegar ditengah cuaca yang berubah mendung, membuat Aera tersentak dan tak sengaja melepaskan kucing yang berada didalam gendongannya.


"Pus"


"Pus"


"Kau dimana ?"


Ucap Aera panik dan terus memanggil kucing itu, namun ia tidak mendengar suara kucing itu. Gadis cantik itu menatap kearah langit yang mulai gelap, ia memilih untuk kembali kedalam rumah, karena takut hujan akan segera turun.


Aera melangkahkan kakinya mengikuti jalan setapak yang tadi ia lalui, namun gadis cantik itu tak kunjung menemukan rumah eyang Andini, padahal rasanya ia tak jauh melangkahkan kakinya tadi.


Gadis cantik itu terus mencari kesan kemari mengikuti jalan setapak itu, hujan sudah mulai turun membasahi tubuhnya. Ia merasa kedinginan karena baju kaos tipis dan celana hotpants yang ia kenakan sudah basah terkena air hujan.


Ditengah kebingungannya, Aera tercekat tak kala melihat pohon beringin besar dengan ayunan dibawahnya.


Tubuhnya terdiam, bagaikan sedang dipaku tak bisa digerakkan. Gadis cantik itu merasa familiar dengan pohon beringin itu, karena hal itu sama persis dengan apa yang sering ia mimpikan.


"Pohon !"


"Ayunan !"


"Hujan !"


Ucap Aera terbata menyebutkan satu persatu apa yang ada didalam mimpinya.


"Wanita !"

__ADS_1


Ucapnya dengan tangan yang diletakkan diatas bibirnya, ia merasa tercekat tak kala melihat wanita bergaun merah tengah duduk diayunan itu.


"Sisir !"


Ucapnya lagi dengan terbata.


"Cermin !"


Kata-kata terakhir yang diucapkan Aera dengan tubuh hang telah bergetar. Tepat setelah dia mengucapkan kata "CERMIN" wanita bergaun merah itu menatap kearahnya, dengan senyuman misterius yang menghiasi wajah pucatnya.


Wanita itu bangkit dari ayunannya, perlahan mendekat ke arah Aera, gadis cantik itu hanya bisa terdiam, tubuhnya terpaku, tak bisa digerakkan. Wanita bergaun merah itu semakin dekat, berjalan mengelilingi tubuh Aera, gadis cantik itu hanya bisa melirikkan matanya dengan tangan yang gemetaran menutupi mulutnya, giginya menggelutuk menahan dingin yang menusuk tubuhnya sekaligus rasa takut yang semakin menguasai.


Aera menutup matanya rapat-rapat ketika wanita itu berdiri tepat dibelakangnya.


"AERA"


"AERA"


"AERA"


"BUKA MATAMU HEEEAAHAHA"


Bisik wanita bergaun merah itu diiringi suara tawa yang mengerikan, membuat gadis cantik itu semakin ketakutan, tubuhnya gemetar, nafasnya tertahan.


"TATAP CERMIN INI !"


"AERA"


"BUKA MATAMU DAN TATAP CERMIN INI !"


Teriak wanita itu, membuat Aera yang ketakutan membuka matanya secara perlahan dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


"DEG !"


Jantung Aera berdetak kencang tak kala melihat seorang wanita yang sangat ia kenal berada didalam cermin itu.


"Mama ?"


"Papa ?"


Ucap Aera terbata, jantunganya berdebar dengan kencang, tubuhnya semakin gemetaran.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


🌸🌸🌸BERSAMBUNG🌸🌸🌸


__ADS_2