ALAM DIBALIK CERMIN

ALAM DIBALIK CERMIN
PROLOG part 2


__ADS_3

Aera kim telah masuk kedalam kamarnya, gadis itu melangkahkan kaki, menelisik inci demi inci tiap sudut kamar. Kata eyang Andini, kamar ini merupakan bekas kamar mamanya Aera.


Pandangannya tertuju pada bingkai foto yang bersusun rapih diatas nakas, Aera meraih sebuah bingkai yang berisikan potret "Liza Belinda" ibunya Aera, wanita itu terlihat sangat cantik, dengan menggunakan gaun berwarna merah muda bersanding dengan seorang wanita yang sangat mirip dengannya. Wanita itu adalah "Risa Belinda" saudara kembar dari Liza.


"Kau terlihat cantik difoto ini mah ! Aku sangat merindukan mu !" Lirih Aera seraya mengusap potret yang berada didalam bingkai.


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, hingga membuat tirai-tirai kamar Aera berterbangan.


"Tok Tok Tok"


Pandangan gadis itu tertuju pada jendela yang tidak terkunci rapat, hingga menimbulkan suara ketukan karena digerakkan oleh angin yang berhembus kencang.


Aera meletakkan bingkai foto itu kembali ketematnya, dan melangkahkan kakinya mendekat kearah jendela itu.


"Serrrrrt"


"Serrrrt"


Bayangan hitam melintas diarah belakang tubuh Aera, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri tegak.


Aera membalikkan pandangannya, kembali menghadap kearah belakang, namun ia tidak melihat apapun disana.


"Kletakkk"


Suara jendela itu terbanting karena angin yang semakin kencang berhasil mengejutkan Aera. Pandangannya kembali tertuju ke arah jendela kamar.


Tirai penutup jendela itu berterbangan dengan kencang hingga menutupi pandangan Aera, namun gadis cantik itu tetap berusaha menjulurkan tangannya untuk meraih jendela itu.


Setelah berusaha panjang akhirnya Aera berhasil menutup jendela tersebut. Namun kini pandangannya tertuju pada taman belakang, ia dapat melihat jelas kearah sana karena kini gadis itu berada tepat dihadapan jendela karena tirai yang menutupinya telah berterbangan kearah belakang tubuh Aera.


Pohon beringin yang sangat besar menghiasi taman belakang yang terletak tak jauh dari bangunan yang kini ia tempati.


"Serrrt"


"Serrrt"


"Dug Dug Dug"


Jantung Aera berdegup kencang, bulu kuduknya berdiri tegak, merinding mulai menjalar keseluruh tubuhnya.


Aera kembali merasakan ada bayangan yang melintas dibelakangnya. Hingga membuat gadis itu membalikkan pandangan, namun ia tidak melihat apapun ditempat itu.


Aera menghembuskan nafasnya, seraya mengusap-usap dadanya, menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang.


"Mungkin aku lelah !" Gumam gadis cantik itu, ia memutuskan untuk mengambil handuk dan berendam air hangat dikamar mandinya.


Aroma terapi, dengan varian mawar merah mulai ia taburkan didalam Bathup yang telah terisi air hangat.


Gadis cantik itu menanggalkan helai demi helaian pakaian yang tadi menutupi tubuhnya, lalu masuk kedalam bathup. Air yang hangat bercampur dengan aroma mawar merah, mampu menenangkan pikiran gadis itu.


"Klap klip klap klip"


Lampu ruangan itu berkedip, membuat suasana menjadi menegangkan. Aera mencoba untuk menenangkan dirinya, dan berpikir positif.


Gadis cantik itu berada disebuah tempat yang sangat asing untuknya, tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

__ADS_1


"Mama !"


"Mama !"


"Mama dimana ?"


"Aera takut mah ! Aera sendirian !"


Ia melihat sebuah pohon beringin besar yang selalu hadir didalam mimpinya. "Pohon beringin ?" Gumam Aera. "Wanita bergaun merah ?" Gumamnya lagi, dan benar saja dibawah pohon beringin itu telah berada seorang wanita bergaun merah yang tengah duduk dengan memegang cermin ditangan kiri, dan tangan kanan yang sibuk menyisiri rambutnya yang panjang.


Wanita bergaun merah itu menatap tajam kearah Aera, dengan perlahan ia berjalan mendekat kearah gadis cantik itu, membuat Aera bergidik ngeri.


Wajah pucat, dengan kuku-kuku panjang yang menghiasi tangan wanita itu, membuat Aera ingin lari menjauhi tempat tersebut namun tubuhnya seakan terkunci, tak bisa digerakkan.


"Aera"


"Aera"


Suara wanita bergaun merah itu, lirih memanggil nama gadis cantik itu. "Bagaima dia bisa mengetahui nama ku ?" Batin Aera ditengah rasa takut yang memuncak.


Jarak diantara mereka semakin dekat, wanita bergaun merah itu mengelilingi tubuh Aera, dengan tatapan tajam yang terus menatap kedalam bola mata Aera yang berwarna coklat muda.


"Aera !"


"Jangan takut !"


"Aera !"


"Buka mata mu !"


"Tatap cermin ini Aera !"


"Jangan takut !"


"Ayo, tataplah cermin ini !"


Bisik wanita bergaun merah itu ditelinga Aera dengan tangan yang memegang cermin bergagang emas yang tepat diletakkan dihadapan wajah Aera kim.


"Tuhan ! Apa yang harus ku lakukan ? Aku takut tuhan !" Batin Aera dengan tubuh yang bergetar.


"Jangan takut Aera !"


"Aera buka mata mu !"


"Tatap cermin ini Aera !"


Bisik wanita itu lagi, semakin terdengar memaksa ditelinga Aera.


"Tataplah Aera !"


"Cepat tatap !"


-


-

__ADS_1


-


-


-


"Aaaaaaaaaakh !" Teriak Aera.


"Hah"


"Hahhh"


"Hahhh"


Suara nafas Aera yang memburu.


"Mimpi itu lagi !" Ucap Aera yang telah membuka matanya seraya megang dadanya yang berdegup kencang.


Aera baru menyadari jika sedari tadi ia tertidur didalam bathup. Gadis cantik itu segera bangkit dari dalam bathup. Dengan memakai jubah handuk, gadis cantik itu melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar mandi, ia berjalan menuju lemari dan memilih pakaian yang sudah dirapihkan oleh pelayan.


"Mengapa aku selalu memimpikan hal itu ?" Batin Aera setelah mengganti pakaiannya.


Gadis cantik itu berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga, bergerak menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Aera ? Kau belum tidur ?" Ucap eyang Andini yang masih duduk disofa ruang tengah.


"Belum eyang ! Aera baru siap mandi !" Ucapnya yang bergerak menuju dapur untuk mengambil air minumnya.


"Jangan mandi malam-malam cah ayu !" Ucap Eyang Andini setelah Aera kembali keruang tengah dengan membawa segelas air putih.


"Iya eyang, Aera nggak tahan gerah !" kilah Aera. "Eyang kenapa belum tidur ?" Lanjutnya lagi.


"Eyang masih menunggu buklek mu pulang !" Ucap eyang Andini dengan tersenyum kearah cucu perempuan satu-satunya itu.


"Buklek ?" Ucap Aera dengan dahi yang berkerut.


"Iya nduk ! Apakah mama mu tidak pernah cerita jika dia masih memiliki adik perempuan ?" Ucap eyang Andini seraya mengusap kepala Aera yang telah direbahkan diatas pangkuan wanita tua itu.


Aera menggelengkan kepalanya. "Tidak eyang ! Mama tidak pernah menceritakannya." Ucapnya heran.


"Hmm, sepertinya mama mu telah melupakan banyak hal nduk ayu !" Ucap eyang Andini. "Kamu masih mempunyai seorang buklek ! Namanya Indy ! Hmm, dia sangat suka kelayapan dan jarang pulang ke rumah !" Lanjutnya lagi.


"Bik Indy pratiwi maksud eyang ?" Ucap Aera yang sedikit heran. Ia pernah mendengar nama itu keluar dari mulut mamahnya, namun mamahnya tidak pernah mengatakan jika Indy adalah bukleknya.


"Iya nduk ! Kamu tahu itu ?" Tanya eyang Andini lagi.


"Aku pernah mendengar mama menyebutkan nama itu eyang. Namun hanya beberapa kali, dan dia tidak pernah mengatakan jika bik Indy adalah adik kandungnya." Jawab Aera.


"Mereka memang bukan saudara kandung nduk ayu, Indy merupakan anak dari eyang mu dengan wanita lain. Namun eyang sangat menyayanginya, dan telah menganggapnya seperti putri eyang sendiri. Sudahlah, besok eyang akan mengenalkan mu dengannya. Sekarang lebih baik kamu tidur, agar besok tidak terlambat." Ucap eyang Andini yang diangguki oleh Aera.


HALLO SEMUANYA !!!


INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA KU YANG BERGENRE HOROR ! MOHON MAAF JIKA MASIH ADA PENULISAN YANG KURANG TEPAT, DAN CERITA YANG MASIH MENGAMBANG. AKU MINTA DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA AGAR NOVEL INI LEBIH BERKEMBANG LAGI.


AKU AKAN MENERIMA KRISAN DARI KALIAN SEMUA DENGAN SENANG HATI. DAN JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND SHARE NOVEL INI JIKA KALIAN MENYUKAINYA DAN INGIN AKU MELANJUTKAN NOVEL INI TERUS YA.

__ADS_1


TERIMAKASIH 🙏🙏🙏


__ADS_2