
HALLO SEMUANYA !!!
INI MERUPAKAN NOVEL PERTAMA KU YANG BERGENRE HOROR ! MOHON MAAF JIKA MASIH ADA PENULISAN YANG KURANG TEPAT, DAN CERITA YANG MASIH MENGAMBANG. AKU MINTA DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA AGAR NOVEL INI LEBIH BERKEMBANG LAGI.
AKU AKAN MENERIMA KRISAN DARI KALIAN SEMUA DENGAN SENANG HATI. DAN JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND SHARE NOVEL INI JIKA KALIAN MENYUKAINYA DAN INGIN AKU MELANJUTKAN NOVEL INI TERUS YA.
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏
🌸Episode lalu🌸
"Hey bangun !" Ucap Vanya dengan kaki yang menyenggol tubuh murid perempuan tadi, namun ia tidak ada pergerakan.
Dito dan yang lainnya berinisiatif untuk membawa anak perempuan itu ke UKS, meninggalkan Vanya dan Sisil yang masih duduk dibangkunya.
🌸Lanjutan🌸
Suasana kelas berubah menjadi hening, setelah murid yang kesurupan itu dibawa keluar ruangan, kini didalam kelas itu hanya tinggal Aira, Kaili, Sisil dan Vanya.
"Kalian tidak apa-apa ?" Aira memulai pembicaraan dengan Sisil dan Vanya.
Sisil menggelengkan kepalanya, tanpa bisa berkata-kata karena jiwanya masih terguncang atas apa yang baru saja terjadi. "Cekh, siapa dia berani-berani mencari masalah dengan ku ! menyebalkan ! apa aku bilang Sisil, dia hanya berpura-pura dan ingin mencari sensasi saja." Ucap Vanya.
"Jaga mulut mu Vanya, berulangkali telah ku beri peringatan namun kau tak kunjung sadar juga." Ucap kaili.
"Cekh, kau sama saja seperti mereka Kaili ! jadi tidak usah menasihati ku." Ucap Vanya lagi.
"Kau ..." ucap kaili terpotong karena Aira menahannya.
"Sudahlah Kaili, sebaiknya kita keliuar dari ruangan ini." Aira menarik lengan Kaili membawanya keluar ruangan.
"BRAKKK"
"Menyebalkan ! aku semakin muak berada disekolah yang penuh dengan drama ini." Ucap Vanya seraya memukul mejanya.
Sisil hanya terdiam, entah apa yang sedang hinggap didalam lamunannya, matanya fokus menatap ke arah papan tulis putih yang kosong, tanpa ada tulisan yang menghiasinya. Sedangkan Vanya telah kembali duduk disamping Sisil dan sibuk mengusap layar handphonenya dengan mulut yang tak bisa berhenti mengomel. "Lihat saja aku pasti akan membongkar kebohongan mereka semua, jaman sekarang masih percaya dengan hantu ? cekh, bagaimana negara ini mau maju, jika kita masih fokus dengan hal yang tidak nyata seperti itu, dasar penipu semuanya, bilang saja mereka tak ingin belajar, maka dari itu sibuk mencari ala ..."
"DIAAMM !" teriak Sisil secara tiba-tiba dengan mata yang masih menatap tajam ke arah papan tulis.
__ADS_1
Vanya tersentak kaget dan menatap ke arah sahabatnya itu. "Cekh, sandiwara mu bagus juga, kau berhasil membuat ku terkejut." Ucapnya dengan senyum sinis menghiasi wajahnya, dan fokus kembali menatap layar handphone.
"Tutup mulut mu !" ucap Sisil dengan suara berat.
"Ya, ya aku percaya dengan kemampuan akting mu itu Sisil, jadi berhentilah untuk bersandiwara aku sedang fokus memantau sosial media ku. Eh, kenapa folowers ku berkurang ?" ucap vanya yang masih sibuk dengan handphonenya.
"BRAKKK"
"Sisil ?" ucap Vanya yang terkejut karena melihat tubuh sahabatnya sudah tergeletak diatas lantai.
"Hey Sisil ? berhenti bercanda, ini tidak lucu Sisil." ucap Vanya dengan suara gemetar.
"Cetarrr"
Suara jendela kelas yang tadinya terbuka tiba-tiba tertutup, membuat Vanya tersentak kaget. Suasana ruangan itu terlihat sangat gelap dan suram, membuat jantung gadis itu berdebar dengan kencang.
"Sisil bangun ! gak lucu ah ! Sisil !" Vanya menggoncang-goncang tubuh temannya, namun tak ada pergerakan dari Sisil.
"Deg"
Tiba-tiba mata Sisil terbuka, dan menataptajam ke arah Vanya, mebuat gadis itu semakin ketakutan. "Sisil please, jangan gini." Ucap Vanya lirih seraya menutup matanya.
Suara tawa keluar dari mulut Sisil, ia menatap ke arah temannya, dan menarik tangan yang sedari tadi menutupi mata Vanya. "Buka mata kamu Vanya, aku cuma bercanda, masa segini doang udah takut, gak seru tau." Ucap Sisil seraya meperlihatkan senyuman tak bersalahnya.
"Sisil ! nggak lucu tau, kamu nyebelin ih." Ucap Vanya kesal. Kedua gadis itu langsung bangkit dari lantai.
"Mau kemana kamu ?" tanya Sisil ketika melihat Vanya melangkahkan kaki ke arah luar ruangan.
"Toilet !" ucap vanya singkat.
"Ikut !" ucap Sisil yang telah berjalan dibelakang Vanya.
Vanya dan Sisil melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak diujung koridor, lebih tepatnya kamar mandi itu jarang dikunjungi oleh anak-anak perempuan, karena disana adalah tempat persembunyian anak-anak cowok yang bolos kelas dan merokok agar tidak ketahuan oleh guru.
"Vanya ! kamu masih marah sama aku ? maaf aku cuma bercanda." Ucap Sisil seraya menarik-narik tangan sahabatnya itu.
"Hmm, bercanda mu itu kelewatan Sisil." Ketus Vanya.
__ADS_1
"Iya maaf Vanya." Ucap Sisil namun tidak digubris oleh temannya itu. "Oke sebagai permintaan maaf aku, pulang sekolah kita jalan-jalan ke mol, aku traktirin kamu belanja make up gimana ?" lanjutnya lagi, dan dibalas senyuman oleh Vanya.
"Awas aja kalau bohong." Ucap gadis itu.
Kedua gadis itu kini telah berada didepan pintu kamar mandi, suasana ditempat itu terlihat hening dan sepi tanpa ada keributan seperti biasanya. "Tumben sepi, biasanya geng Dito nongkrong disini." Ucap Sisil.
"Kan mereka lagi di UKS Sil, nganterin anak tadi." Ucap Vanya singkat dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Dikarenakan kamar mandi itu hanya cukup untuk satu orang, maka Sisil dan Vanya memakainya secara bergantian.
"Udah ? cepet banget ?" ucap Sisil ketika Vanya telah keluar dari dalam kamar mandi.
"Ya ialah cepet memangnya aku kayak kamu apa, kalau udah masuk kamar mandi nggak pengen keluar lagi." Ucap Vanya menyindir Sisil.
"Habisnya nyaman." Ucap gadis itu dan segera menutup pintu kamar mandinya.
Vanya memilih untuk duduk dilantai yang tak jauh dari pintu kamar mandi, pandangannya tertuju pada lahan yang sangat luas, yang telah dipenuhi oleh rumput liar. Hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat rambut Vanya berterbangan, hingga menutupi wajahnya. Dari sela-sela rambut itu, ia melihat seorang wanita tengah berdiri ditengah-tengah lahan itu dengan tatapan tajam ke arahnya.
Dengan cepat vanya segera merapihkan rambutnya, namun ia tak melihat wanita itu lagi, pikirannya berubah menjadi kacau, mencoba memastikan apakah yang ia lihat tadibenar atau salah, pandangannya masih tertuju ke arah ia melihat wanita tadi berdiri.
"DORRR"
Sisil mengagetkan Vanya yang sedang melamun. "Siang bolong udah ngelamun aja kamu Van, entar kesambet baru tau rasa." Ucap Sisil.
"Sisil ! kamu ngagetin aja sih." Ucap Vanya yang langsung berdiri disamping temannya itu.
"Habisnya kamu siang-siang gini ngelamun, lagi mikirin apa sih ? mikirin Dito ya ? atau mikirin ..."
"Udah-udah jangan ngebacot terus, laper nih ke kantin yuk." Vanya memotong ucapan Sisil, berjalan meninggalkan tempat tersebut seraya bergandengan tangan.
Ketika Vanya dan Sisil melangkahkan kaki ditengah koridor, mereka melihat seorang murid perempuan yang beraada dikejauhan tengah berlari ke arah mereka.
"Brukkkk" dengan secepat kilat murid perempuan itu menabrak tubuh Vanya dan Sisil hingga mereka berdua terjatuh.
"Tangkap dia, jangan kasih lari lagi." Ucap segerombolan murid yang berlarian menyusul murid perempuan itu.
"Auuukh sakit" keluh Sisil. "Siapa sih main lari-larian aja kayak anak kecil.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Van ?" lanjutnya lagi dan segera membantu temannya itu untuk bangkit.
__ADS_1
🌸Bersambung🌸