
Bel istirahat berbunyi. Semua murid bersorak gembira, akhirnya waktu yang mereka tunggu-tunggu telah tiba. Terlebih lagi Lalita, dia sangat senang jam istirahat telah masuk. Di sepanjang jam pelajaran, baik Lalita ataupun Alister sama sekali tidak berbicara. Mereka hanya fokus dengan materi yang diterangkan oleh buk Nayla. Dan disaat jam pelajaran Matematika, Lalita merasa enggan bertanya kepada Alister. Tapi Alister sendiri tau bahwa Lalita ingin bertanya, tapi dia merasa enggan untuk bertanya.
Lalita duduk sendirian di kantin sekolah. Sedangkan murid-murid lain duduk bersama pasangan dan teman mereka. Dari kejauhan Alister ingin mengunjungi Lalita. Alister ingin bertanya kenapa Lalita bersikap seperti ini. Saat Alister akan berjalan, tiba-tiba saja dia melihat Gilang dan teman-temannya datang menghampiri Lalita.
"Hai Lita!" sapa Gilang dan langsung duduk di kursi sebelah Lalita.
Lalita hanya diam, dia sama sekali tidak membalas sapaan Gilang. Teman-teman Gilang menertawakannya. Baru kali ini ada cewek yang tidak membalas sapaan dari seorang Gilang Reinkar. Biasanya setiap Gilang menyapa seorang cewek, pasti cewek itu akan membalasnya. Gilang semakin mendekatkan dirinya ke Lalita. Lalita merasa sangat risih dan mencoba menjauh dari Gilang.
"Lo ngapain sih? Duduk-duduk aja! Gak usah pakek geser-geser segala!" bentak Lalita kepada Gilang.
"Galak amat sih? Jangan galak-galak dong! Ntar cantiknya ilang" ucap Gilang dengan menyentuh dagu Lalita.
"Lo jangan berani kurang ajar ya sama gue!" Lalita meninggikan nada bicaranya.
"Heh, santai Lita! Gue kan gak ngapa-ngapain lu" Gilang berusaha membela diri.
Ternyata tindakan Gilang tidak lepas dari pandangan Alister. Entah kenapa Alister merasa tidak terima jika Lalita disentuh oleh laki-laki lain. Gilang terus saja mengganggu Lalita, itu membuat tangan Alister semakin gatal untuk memukuli Gilang. Saat Gilang akan menyentuh dagu Lalita, dengan cepat Alister menghentikannya dan memukuli Gilang habis-habisan.
Bugghhh..."Brengsek lo Gilang!" teriak Alister dengan terus memukuli Gilang.
Bughh..bughh..bughh.. Tidak terima Alister memukulnya, Gilang pun juga melayangkan beberapa pukulan di wajah Alister. Tapi Alister membalas balik pukulan itu.
"Alister udah! Udah!" teriak Lalita mencegah Alister supaya tidak memukuli Gilang lagi.
Alister pun menghentikan pukulannya terhadap Gilang karena perintah dari Lalita. Alister menatap Lalita sekilas dan menarik tangan Lalita untuk pergi dari sini. Lalita hanya bisa pasrah kemana Alister membawanya.
Alister sampai di depan kelas. Dia menyuruh Lalita menunggunya dan Alister masuk untuk mengambil tas dan jaketnya. Tidak lupa Alister juga mengambil tas Lalita. Semua teman-temannya merasa heran kenapa Alister menjadi babak belur seperti itu. Ade bertanya namun Alister hanya diam dan langsung pergi.
"Ambil tas lo!" perintah Alister sambil mengulurkan tas milik Lalita.
"Kita mau kemana?" tanya Lalita sambil mengambil tasnya yang berada ditangan Alister.
"Pulang" jawab Alister santai sambil mengenakan jaketnya.
"Tapi kan belum boleh pulang" sahut Lalita.
Alister langsung menarik tangan Lalita dan membawanya ke parkiran dimana mobilnya diparkirkan. Alister membukakan pintu mobil dan menyuruh Lalita masuk. Mau tidak mau Lalita harus masuk. Kali ini dia tidak bisa menolak karna saat ini Alister sedang marah. Setelah Lalita masuk, Alister pun menyusul masuk ke dalam mobil dan tancap gas entah kemana.
* * * * *
Saat ini Ade dan yang lainnya sedang mencari informasi tentang apa yang terjadi kepada Alister. tidak membutuhkan waktu lama, Ade berhasil menemukan masalah apa yang terjadi. Begitu juga dengan Azkia dan Allisya. Setelah mendapatkan dan mendengarkan cerita dari orang-orang, Azkia menyimpulkan bahwa Alister cemburu dengan Lalita.
"Gimana De? Lo udah tau kan masalahnya?" tanya Azkia.
"Iya. Alister sama Gilang berantem karna Lalita" jawab Ade.
"Kok lo malah nyalahin Lita sih?" keluh Allisya.
Allisya merasa tidak terima jika temannya disalahkan. Padahal disini jelas-jelas Lalita tidak salah. Jika tau seperti ini, Lalita juga tidak akan ke kantin.
"Bukan gue nyalahin teman kalian. Maksud gue itu, mereka bertengkar karna Gilang berbuat kurang ajar sama Lita" jelas Ade.
"Awas aja lo nyalahin teman gue, gue tonjok lo" ancam Azkia dengan mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Ade.
"Wissshhh…santai dong! Lagian mana mungkin sih, gue nyalahin Queen gue" sahut Ade.
"Ishh…gaya lo, biasa aja kali!" bentak Allisya kesal.
"Kenapa? Lo cemburu?" tanya Ade percaya diri.
"Idihhh…kepedean bener lo. Ogah banget gue cemburu sama lo, sadar diri lo! Lagian gue juga pilih-pilih kali" jawab Allisya dengan menyindir Ade.
"Hahahahhh…sabar ya De" ucap Arzan sambil menertawakan Ade.
"Hmmm…jodoh gak akan kemana" sahut Ade pasrah.
"Jodoh-jodoh? Makan tu jodoh!" kesal Allisya sambil melemparkan kripik kentang ke dada Ade dan langsung pergi.
__ADS_1
"Caca tungguin!" teriak Azkia sambil tertawa dan berlari menyusul Allisya.
"Cepetan dong!" jawab Allisya.
"Sabar ya De" Arzan mencoba menenangkan Ade.
"Hmmm…tapi lumayan lah, untuk gue makan" sahut Ade sambil memakan kripik kentang yang diberikan Allisya kepadanya.
Alister dan Lalita melewati setiap jalan ibukota itu dengan keheningan. Tidak ada yang mau bicara atau pun memulai percakapan. Lalita hanya pasrah kemana Alister akan mengajaknya. Ternyata sedari tadi Alister memperhatikan Lalita melalui kaca yang berada di atas kepala mereka. Tetapi Lalita sama sekali tidak menyadarinya. Dia tetap fokus melihat pemandangan jalan yang ada di ibukota itu.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Lalita dengan menatap Alister.
Alister hanya menatap sekilas ke arah Lalita, dan menatap kembali ke arah jalan.
"Sebentar lagi sampe" jawab Alister.
Beberapa menit kemudian Alister dan Lalita sudah sampai di tempat tujuan. Alister keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lalita. Lalita segera keluar dari mobil dan tersenyum melihat pemandangan yang ada disana. Ternyata Alister mengajak Lalita ke sebuah taman. Alister melihat disekeliling mereka ada sebuah kursi ditaman. Alister menggenggam tangan Lalita dan membawanya duduk disana.
Lalita tampak menikmati udara segar taman tersebut. Begitu juga dengan Alister, kemarahannya sudah mulai mereda. Entah kenapa Alister merasa nyaman saat berada di dekat Lalita? Apakah Alister sudah mulai jatuh cinta kepada Lalita? Dan apakah rencana Lalita akan berhasil?
"Lo suka tempat kayak gini?" tanya Lalita sekilas menatap Alister.
"Iya, terasa lebih adem" jawab Alister.
"Kalo lo? Suka?" tanya Alister.
"Iya, malah suka banget" jawab Lalita sambil tersenyum.
"Jadi gue gak salah dong, bawa lo kesini?" tanya Alister.
Lalita hanya menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa tidak salah Alister membawanya kesini. Lalita kembali menikmati pemandangan dan udara segar taman itu. Sedangkan Alister mengusap bibirnya yang sedikit berdarah karna pukulan Gilang. Lalita menoleh ke arah Alister, dan berdiri berjalan ke arah mobil.
"Lo mau kemana?" tanya Alister.
"Lo diam aja disani!" suruh Lalita.
Lalita membuka pintu mobil dan mencari sesuatu. Tidak membutuhkan waktu lama, Lalita berhasil mendapatkannya. Lalita langsung membawanya ke tempat mereka duduk tadi.
"Biasanya buat apa?" Lalita bertanya balik.
"Ngobatin luka" jawab Alister.
Ternyata Lalita mengambil kotak P3K yang ada di dalam mobil Alister. Ia langsung membuka kotak itu dan mengobati luka Alister. Saat Lalita akan mengobati luka Alister, tiba-tiba saja Alister menghentikannya.
"Lo mau ngapain?" tanya Alister.
"Mau ngobatin luka lo" jawab Lalita.
"Udahlah gak usah, ini cuma luka biasa. Ntar juga sembuh" tolak Alister.
"Luka biasa lo bilang? Berdarah dan memar gini masih luka biasa? Lo lagi gak waras ya?" tanya Lalita.
"Gue masih waras"
"Ya udah makanya gue obatin"
. Lalita lalu membersihkan darah yang terdapat di bibir Alister. Lalita membersihkannya dengan pelan-pelan. Dia takut nanti kalau tidak pelan-pelan Alister kesakitan. Disaat Lalita sedang membersihkan lukanya, Alister malah menatap dalam Lalita. Lalita mengetahui akan hal itu, dia mencoba untuk tidak gugup.
"Kok gue jadi gugup gini ya? Padahal kan rencana awal gue mau bikin dia jatuh cinta sama gue" batin Lalita.
"Awwww…" teriak Alister.
Lalita tidak sengaja membersihkan luka Alister dengan sedikit keras. Sebenarnya Alister tau bahwa saat ini Lalita sedang memikirkan dirinya. Alister tidak mau membuat Lalita merasa canggung dan gugup. Dia sengaja teriak kesakitan, supaya Lalita sadar dari lamunannya.
"Sorry sorry" kata Lalita dengan terburu-terburu.
"Udah gak pa-pa, santai" jawab Alister sambil memegang bibirnya yang kesakitan.
__ADS_1
"Tapi itu luka lo masih harus diobatin"
"Gak usah, ntar juga sembuh. Biarin aja"
"Kenapa Lita khawatir banget ya sama gue? Apa dia? Ah, gak mungkin dia suka sama gue" batin Alister.
Bisa dilihat, perlahan-lahan Alister sudah mulai berubah. Dia sedikit bisa tersenyum, dan juga tidak menjadi cowok dingin lagi. Itu semua karena Lalita. Lalita lah yang mampu membuat seorang Alister berubah dan melupakan masa lalu. Tapi saat ini mereka hanya berteman, mereka belum menyatakan perasaan masing-masing.
Takdir Lalita memang aneh. Padahal tujuan awalnya dia ingin membuat Alister jatuh cinta padanya. Tapi ini malah kebalik, dia duluan yang jatuh cinta. Mungkin jalan takdir mereka memang seperti itu.
* * * * *
Alister sudah bangun dari tidurnya. Dia langsung mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Alister memang sengaja bangun pagi hari ini. Karena dia ingin menjemput Lalita terlebih dahulu. Kali ini Lalita tidak meminta pergi sekolah bareng dengan Alister. Alister lah yang ingin pergi sekolah bareng. Alister sudah siap dan langsung turun ke bawah untuk sarapan.
Di meja makan sudah ada Papinya, Maminya, dan juga Vanya. Vanya yang melihat kakaknya sudah turun dengan seragam sekolah, seolah-olah tidak percaya. Sepertinya kakaknya itu sudah membuang sifat buruk yang melengket pada dirinya jauh-jauh.
"Pagi mi, pi!" sapa Alister sedikit tersenyum.
"Pagi sayang" jawab papi dan maminya dengan serentak.
"Tumben kakak udah siap jam segini?" tanya Vanya penasaran.
"Mau ngepoin kakak?" Alister bertanya balik.
"Gak, Vanya cuma nanya aja kak. Biasanya kan kakak bangunnya agak kesiangan" sindir Vanya.
"Aku udah tobat" sahut Alister santai.
Mami dan papinya hanya geleng-geleng kepala melihat putra mereka sudah sedikit berubah. Alister sudah menyelesaikan sarapannya, dia langsung pamit untuk ke sekolah. Setelah berpamitan, Alister langsung tancap gas ke arah rumah Lalita. Beberapa menit kemudian, Alister sudah sampai di depan rumah Lalita. Terlihat seorang asisten rumah tangga Lalita sedang menyiram tanaman.
"Permisi buk, Lalitanya ada?" tanya Alister.
"A…" tiba-tiba jawaban ibu itu berhenti setelah melihat wajah Alister.
"Nak Alister?" tanya ibu itu dengan wajah sumringah.
"Iya buk, saya Alister" jawab Alister.
"Aaaaa……sebentar sebentar, kita harus foto dulu" ajak ibu itu sambil mengeluarkan ponsel dari saku baju dasternya.
Alister hanya menurut saja, tidak masalah jika ibu itu ingin berfoto dengannya. Karena keasikan berfoto, ibu itu tidak sadar bahwa tadi Alister menanyakan Lalita kepadanya. Alister kembali bertanya kepada ibu itu. Ibu itu bilang dia akan memanggilkan Lalita. Sebelumnya asisten rumah tangga Lalita itu sudah mengucapkan terima kasih kepada Alister, karna sudah mau berfoto dengannya.
Lalita sedang bersiap-siap di kamarnya. Dia sedang tacap di depan cermin. Hari ini Lalita juga bangun pagi, karna dia mau olahraga sebentar. Setelah olahraga, baru dia mandi dan bersiap-siap.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar Lalita berbunyi. Lalita langsung membukanya dan mendapatkan Bi Asih sedang berdiri di depan kamarnya.
"Bibi? Kenapa bi?" tanya Lalita penasaran.
"Ya ampun non, non cantik banget. Non mau pacaran ya sama nak Alister?" bi Asih mencoba menggoda Lalita.
Seketika wajah Lalita menjadi merah. Lalita merasa malu bi Asih berbicara seperti itu. Lalita tidak mengerti kenapa bi Asih bisa mengatakan hal seperti itu.
"Apaan sih bi? Kok bibi ngomongnya gitu?" tanya Lalita.
"Itu diluar ada nak Alister, katanya mau jemput non Lita" kata bi Asih sembari tertawa geli.
"Hah! Alister diluar bi?" tanga Lalita kaget.
"Iya" jawab bi Asih sembari menganggukkan kepalanya.
Lalita segera mengambil tasnya dan bergegas turun ke bawah. Lalita tidak menyangka bahwa Alister akan menjemputnya.
Lalita sudah sampai di depan pintu. Ternyata memang benar Alister menjemputnya. Alister sedang berdiri menyandar ke mobilnya, ia memakai jaket jeans warna abu-abu. Perlahan Lalita mulai menghampiri Alister.
"Hai!" sapa Lalita, Alister menoleh "Hai" balasnya. "Lo kenapa kesini?" tanya Lalita, "Mau jemput lo" jawab Alister. "Gue bisa sendiri kok, lagian gue juga gak minta bareng sama lo kan?" jelas Lalita. "Gue tau, tapi gue yang mau jemput lo" sahut Alister.
__ADS_1
"Ayo masuk!" perintah Alister. Karena Alister sudah ada disini, mau tidak mau Lalita harus berangkat dengannya. Sebelumnya Lalita sudah berpamitan kepada orang tuanya. Lalita masuk ke mobil, dan setelah itu Alister pun ikut menyusul. Tak lama mobil Alister pun tancap gas menuju sekolah.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA!!!!!!