ALISTER BAGASKARA

ALISTER BAGASKARA
10 cm


__ADS_3

Lalita sudah pulang dari sekolahnya. Hari ini Lalita tidak terlalu bersemangat di sekolah. Dia masih saja memikirkan tentang kejadian yang dia lihat saat di rumah sakit tadi. Entah kenapa hatinya terasa tertusuk dan sakit melihat Alister bermesraan dengan seorang perempuan. Tidak lama memikirkan Alister, Lalita sudah tertidur lelap karna merasa sangat lelah.


Disisi lain, Alister masih berada di taman rumah sakit bersama Vanya. Dia masih belum puas menghirup udara segar yang ada di taman tersebut. Vanya melihat ada perkembangan dengan kondisi kakaknya itu. Terlihat Alister sudah mulai membaik.


"Woi, Ter" sapa Ade dari belakang dengan menepuk pundak Alister.


"Apa kabar Ter?" tanya Arzan.


"Gue baik" jawab Alister.


"Kalian semua ada disini, terus, dimana kak Lita?" tanya Vanya kebingungan tidak melihat Lalita.


"Itu dia, justru kita kesini juga mau nanya sama Alister tentang Lalita" jawab Azkia.


"Kalian mau nanya apa?" tanya Alister penasaran.


"Lo lagi ada masalah ya sama Lita?" tanya Azkia.


"Masalah? Masalah apa emang?" tanya Alister kebingungan.


Alister sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Azkia. Selama ini dia dan Lalita tidak ada masalah apapun. Dan terakhir mereka bertemu pun Lalita masih baik-baik saja.


"Jadi gini Ter, tadi di sekolah Lita itu sama sekali gak mau ngomong sama siapa pun. Terus pada saat kita nanyain lo ke dia, eh dianya malah ngambek. Aneh kan?" Arzan menjelaskan kepada Alister apa yang terjadi.


"Iya, bukan hanya kita aja. Saat Letha nanya tentang lo ke dia, dia merasa sangat kesal" lanjut Azkia menjelaskan.


"Aneh…gue sama sekali gak ada masalah sama dia" sahut Alister.


"Lo yakin? Mungkin lo ada ngasih sesuatu sama Lita yang bikin dia kesal gitu?" tanya Allisya memastikan.


Alister mencoba mengingat apa pernah dia kasih ke Lalita. Tiba-tiba saja Alister mengingat kalau dia kemarin memberikan sebuah surat yang berisi rumus Matematika kepada Lalita. Alister berfikir mungkin karna rumus Matematika itu Lalita menjadi kesal.


"Woi Ter! Kok malah bengong? Ada gak lo ngasih sesuatu yang bikin dia kesal?" tanya Ade mengulangi pertanyaan Allisya.


"Ada" jawab Alister sambil mengganggukkan kepalanya.


"Apa?" tanya semuanya dengan serentak.

__ADS_1


"Kalian gak perlu tau, gue besok sekolah, jadi gue yang akan menyelesaikan semuanya" jawab Alister.


Hari ini Alister memang sudah dibolehkan pulang oleh Dokter. Karena kondisi Alister sudah mulai membaik dan juga ada kemajuan. Tapi Alister disarankan untuk tidak banyak melakukan kegiatan terlebih dahulu sampai kondisinya benar-benar stabil.



\* \* \* \* \*



Hari ini Lalita memang sengaja berangkat pagi ke sekolah. Karena hari ini Lalita ada jadwal piket, itu sebabnya dia datang cepat hari ini. Lalita mulai berjalan melewati kelas-kelas yang masih sepi itu. Hingga akhirnya dia sudah sampai di kelasnya. Saat Lalita akan masuk ke kelas, tiba-tiba saja dia melihat Alister sudah hadir di sekolah. Alister terlihat santai duduk di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa.



Alister sudah merencanakan semuanya. Saat ini mereka semua sedang berada di rumah Ade. Alister meminta Azkia untuk menghubungi mamanya Lalita. Alister dan yang lainnya ingin mengetahui apakah Lalita sudah berangkat atau belum. Tak lama panggilannya pun terhubung, Alister meminta Azkia untuk mengaktifkan speakernya agar agar semuanya dapat mendengar.



*Mama Lalita mengatakan bahwa Lalita baru saja berangkat ke sekolah. Alister langsung bergegas masuk mobil dan tancap gas ke sekolah. Beberapa menit kemudian Alister sudah sampai di sekolahnya. Dia melihat mobil Lalita sudah ada di parkiran. Dengan cepat Alister berlari menuju ke kelasnya sebelum Lalita.


Alister sudah sampai di jendela kelasnya. Dia melihat kelas itu masih kosong. Itu berarti Lalita belum sampai di kelas. Alister menghembuskan nafas leganya, karena Lalita belum sampai di kelas. Langsung saja Alister memanjat jendela kelasnya itu, dan akhirnya Alister pun sudah masuk ke kelasnya.



Alister langsung duduk dan mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan supaya Lalita tidak curiga. Selang beberapa detik Lalita pun sudah sampai di kelas. Dengan cepat Alister mengambil buku dan pura-pura membacanya*.


Lalita memberanikan dirinya untuk masuk meskipun merasa sangat gugup. Lalita meletakkan tasnya lalu berjalan keluar. Tiba-tiba saja Alister menarik tangan Lalita, dan membuat Lalita jatuh ke pangkuan Alister. Mata mereka bertemu dan jarak yang tercipta hanya 10 cm saja. Lalita merasa sangat gugup dan deg-degan, begitu juga dengan Alister. Entah kenapa jantungnya berdebar dengan sangat cepat.


"Gue harap Lita gak dengar debar jantung gue" batin Alister.


"Alister kenapa natap gue gitu banget ya? Kan gue jadi deg-degan" batin Lalita.


Tak lama Lalita mencoba bangkit dari pangkuan Alister. Lalita merasa tidak enak jika lama-lama berada di pangkuan Alister. Bisa-bisa tenaga Alister habis karna menahan tubuhnya yang lumayan berat itu.


"Sorry!" ucap Lalita dan Alister serentak.


Mata mereka bertemu lagi. Jantung Alister semakin berdebar menjadi-jadi. Sedangkan Lalita hanya merasa canggung. Karena merasa canggung, Lalita berbalik badan dan ingin keluar.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Alister.


"Alister ngapain sih?" bisik Lalita pada dirinya.


Alister mulai berjalan mendekati Lalita. Sesampainya di depan Lalita, Alister melihat wajah Lalita begitu serius. Alister bisa melihat bahwa saat ini Lalita merasa kesal dan marah pada dirinya. Tapi Alister sendiri tidak tau apa yang dia lakukan, sehingga membuat Lalita marah padanya.


"Lo kenapa sih? Kesal? Atau marah?" tanya Alister.


Lalita tidak mungkin memberi tau Alister bahwa dirinya cemburu melihat Alister dekat-dekat dengan perempuan yang ada di rumah sakit waktu itu. Lalita hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Alister. Alister semakin yakin bahwa Lalita saat ini sedang marah kepadanya.


"Oke kalo lo emang gak mau jawab. Tapi kalo gue ada ngelakuin kesalahan sama lo, gue minta maaf" ucap Alister pasrah.


"Lo gak ngelakuin kesalahan apapun kok. Gue cuma lagi gak mood untuk bicara" ketus Lalita dan langsung pergi meninggalkan Alister.


Saat Lalita akan pergi, lagi-lagi Alister mengeluarkan perkataan yang membuat langkah Lalita terhenti.


"Gue tau lo marah sama gue. Karna gue ngasih lo rumus Matematikan"


"Lo salah! Justru gue berterima kasih akan hal itu. Ini masalah perasaan gue, lo gak bakal ngerti" sahut Lalita dan langsung pergi tanpa menatap Alister.


Alister kaget mendengar ucapan Lalita barusan. Dia tidak mengerti apa yang saat ini terjadi pada Lalita. Apalagi Lalita mengatakan bahwa ini soal perasaan. Tentu saja Alister terdiam dan tidak menghentikan Lalita lagi.



Jika soal perasaan, Alister memang tidak pernah mau ikut campur. Bahkan soal perasaan teman-temannya pun Alister tidak pernah ikut campur. Dia takut jika dia menyakiti orang itu.


**Dukung Karya AUTHOR terus ya!😘


Disarankan membaca novel berikut** :


***1. Kesabaranku Ada Batasnya



Gadis Minang Lupa Diri***


__ADS_1


__ADS_2