
Lalita hendak pergi melangkah keluar setelah melihat kondisi Alister. Namun Alister mengatakan sesuatu yang membuat Lalita menghentikan langkahnya.
"Thank's" ucap Alister.
Lalita membalikkan tubuhnya supaya bisa melihat Alister. Dia seakan tidak menyangka bahwa Alister mengucapkan kata itu. Lalita hanya menjawabnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Alister teringat akan sesuatu, dia mencoba bangkit dari tidurnya dengan bantuan Lalita. Setelah sempurna duduk sambil menyandarkan kepalanya di dinding yang dialaskan bantal, Alister mengambil sesuatu dari sakunya. Kebetulan baju Alister belum diganti dengan baju rumah sakit.
Alister memberikan sebuah kertas yang dilipat dan memberikannya kepada Lalita. Lalita bertanya kenapa Alister memberikan surat itu padanya. Alister meminta kepada Lalita untuk membuka surat itu ketika sudah sampai dirumah. Setelah menerimanya, Lalita memasukkan surat itu kedalam tasnya.
Setelah itu Lalita berpamitan untuk pulang karena mangingat hari sudah larut malam. Lalita juga tidak sempat mengabari orang tuanya, dia khawatir orang tuanya akan mencemaskannya. Apa lagi Lalita adalah anak perempuan satu-satunya.
Lalita sudah keluar dari ruangan Alister. Terlihat disana sudah ada Azkia dan Allisya. Lalita keluar dengan wajah tersenyum, semua orang merasa bingung melihatnya. Lalita langsung berpamitan kepada orang tua Alister dan yang lainnya untuk pulang. Dia juga tidak sabar membuka surat yang diberikan oleh Alister padanya.
Azkia dan Allisya yang belum sempat melihat kondisi Alister ikut berpamitan pulang. Mereka mengatakan bahwa mereka besok akan kesini lagi. Azkia tadi sempat curiga dengan ekspresi yang ditunjukkan Lalita. Azkia ingin mengetahui dan mengepoi sahabatnya itu.
Lalita sudah sampai di parkiran. Dia ingin memanggil seorang ojek yang sedang berada di pangkalan tepat disamping rumah sakit. Dengan cepat Azkia menghentikan Lalita dan mengatakan bahwa Lalita harus pulang dengannya. Lalita sudah curiga dengan tingkah temannya satu ini, dia berfirasat bahwa Azkia akan menanyakan kenapa dia tersenyum setelah menemui Alister. Lalita dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Azkia. Karena Azkia ingin bertanya-tanya kepada Lalita, dia meminta Allisya yang menyetir mobilnya.
Lalita dan temannya sudah pulang, Vanya dan teman-teman Alister lainnya masuk ke dalam ruang rawat Alister untuk melihat kondisinya. Sesampainya di dalam mereka semua senang karna Alister baik-baik saja, hanya ada luka-luka dan memar-memar diwajah dan tubuh Alister.
"Kalian disini?" tanya Alister.
"Kak, kakak gak apa-apa kan? Apa masih ada yang sakit?" tanya Vanya khawatir.
"Kakak baik-baik aja" jawab Alister.
"Oh ya Ter, lo sempat ngelihat gak wajah dari salah satu mereka yang mukulin lo?" tanya Ali.
"Lita yang cerita sama kalian?" Alister balik bertanya. Mereka semua hanya menganggukkan kepala.
"Gak, gue gak sempet lihat. Gue udah keduluan kalah" lanjut Alister.
"Gue penasaran, siapa sih orang dibalik semua ini?" tanya Arzan.
"Nih ya, kalo gue tau siapa orangnya, huh, habis sama gue tu orang" kata Ade kesal.
"Gaya lo selangit, yang ada lo yang dihabisin" sahut Theo sambil tertawa. Semua orang tertawa mendengarnya.
"Gue akan cari tau sendiri siapa dalangnya. Lagi pula gue ngerasa gak asing dengar suara dari salah satu mereka" gumam Alister dihatinya.
Sepanjang perjalanan Lalita masih saja senyum-senyum sendiri. Azkia langsung melancarkan aksinya untuk bertanya-tanya kepada Lalita.
"Lik, lo dikasih apa sih sama Alister waktu di ruang rawatnya tadi? Sampe senyum-senyum gitu" tanya Azkia.
"Dikasih surat" jawab Lalita santai.
"What?" teriak Azkia.
"Ci, jangan teriak-teriak dong! Biasa aja kali! Sakit nih kuping gue" bentak Lalita yang merasa kupingnya sakit mendengar teriakan Azkia barusan. Didepan Allisya malah menertawakan Azkia yang dibentak Lalita barusan.
"Sorry! Habisnya gue kaget tadi" kata Azkia memohon.
"Hmmm" Lalita hanya berdehem.
"Tapi ngomong-ngomong surat apaan Lika?" Azkia mulai kepo.
Lalita menatap Azkia curiga, sedangkan Azkia senyum-senyum memohon agar diberi tau oleh Lalita surat apa yang diberikan Alister.
"Lo kenapa kepo banget sih?" tanya Lalita.
"Tau nih Cici, kayaknya dia iri deh Lik, gak pernah dapat surat dari cowok satupun" Allisya mengejek dan menertawakan Azkia.
Lalita juga ikut menertawakan Azkia, sedangkan Azkia merasa kesal mendengar ejekan dari Allisya.
\* \* \* \* \*
Hari menunjukkan pukul 04.35. Lalita memang sengaja bangun subuh karna ia ingin menjenguk Alister terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Lalita sudah selesai bersiap-siap dan juga sholat subuh. Dia bergegas turun ke bawah dan berjalan ke dapur. Hari ini Lalita berencana untuk memasakkan Alister nasi goreng. Ini salah satu cara Lalita untuk merebut hati Alister.
Lalita sudah selesai memasak, dia memasukkan nasi goreng itu ke sebuah rantang. Lalita meletakkan nasi goreng itu diatas meja dan bergegas ke atas untuk mengambil tasnya. Sesampainya dikamar, Lalita teringat akan surat pemberian dari Alister. Semalam dia tidak sempat membaca karena sudah ketiduran.
Lalita mengambil tas yang dia pakai kemarin dan mengambil surat yang diberikan Alister dari dalam tas. Lalita sangat berharap bahwa surat itu berisi tentang perasaan Alister terhadapnya. Namun pada saat Lalita membukanya, raut wajahnya berubah menjadi cemberut. Isi surat yang diberikan Alister itu tentang rumus Matematika dan catatan lainnya tentang Matematika.
"Ish, Alister keterlaluan banget, gue pikir surat cinta, eh ternyata rumus Matematika" kata Lalita kesal.
Lalita memasukkan surat itu ke dalam tas sekolahnya. Dia sengaja membawa surat itu kembali untuk bertanya kepada Alister maksud dari surat itu. Lalita bergegas ke bawah dan mengambil rantang yang diletakkannya diatas meja, lalu berangkat ke rumah sakit. Sebelumnya Lalita sudah berpamitan kepada orang tuanya untuk berangkat lebih awal.
Di rumah sakit Alister sudah bangun, dia melihat orang tua dan adiknya masih tidur di sofa ruang rawatnya. Di ruang rawat Alister memang terdapat sofa, dikarenakan dia ditempatkan diruangan VVIP. Alister membangunkan orang tua dan adiknya itu, lalu menyuruh mereka untuk pulang terlebih dahulu. Orang tua Alister dan Vanya setuju, mereka pulang dan menitipkan Alister kepada perawat yang ada disana.
Tak lama orang tua Alister pulang, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang tanpa mengetuk pintu ruangan Alister. Dia adalah Rania, mantan pacar Alister. Betapa kagetnya Alister melihat perempuan yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Selama ini Alister selalu mencoba menghindari perempuan yang sudah membuat hidupnya hancur berantakan, dan juga membuat dirinya berubah drastis.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Rania menyentuh tangan Alister.
Alister langsung melepaskan tangan Rania yang sedang memegang tangannya. Alister hanya diam dan tidak menatap Rania sama sekali.
"Sok jutek banget sih nih cowok, kalo bukan karna hartanya, gue juga gak bakal kesini" gumam Rania dihatinya.
Rania mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Alister. Ternyata Rania membawakan sarapan untuk Alister. Rania mulai membuka kotak makan itu lalu menyuapi Alister makan. Awalnya Alister menolaknya, tapi Rania terus memaksanya, akhirnya Alister mengalah dan mau disuapi makan oleh Rania.
Lalita sudah sampai dirumah sakit. Dia langsung berjalan ke arah ruang rawat Alister. Sesampainya diruang rawat Alister, tidak sengaja Lalita melihat seorang perempuan cantik sedang menyuapi Alister makan. Kebetulan pintu ruang rawat Alister tidak tertutup rapat, ada sedikit celah yang siapa pun bisa melihatnya dari luar.
__ADS_1
Mata Lalita berkaca-kaca dan seketika air mata jatuh membasahi pipinya. Lalita tidak menyangka bahwa Alister sudah mempunyai pacar. Hatinya terasa tersusuk dan perih melihat semua itu. Dia merasa tidak terima bahwa Alister disuapi makan oleh seorang perempuan selain dirinya. Tapi apa daya, Lalita sadar bahwa dia bukan siapa-siapa Alister, dia hanyalah teman Alister. Lagi pula dia tidak berhak melarang Alister dekat dengan siapa pun.
Lalita melihat seorang suster ingin masuk ke dalam ruang rawat Alister. Cepat-cepat dia menghapus air matanya agar suster itu tidak salah paham. Lalita menghentikan suster itu dan menitipkan rantang kepada suster itu. Lalita menyuruh suster itu untuk memberikan rantang itu kepada Alister. Setelah memberikan rantang itu, Lalita segera pergi meninggalkan ruangan Alister. Suster itu ingin bertanya siapa namanya, namun Lalita sudah keburu pergi.
Suster itu mengetuk pintu ruangan Alister. Alister mempersilahkan suster itu masuk. Suster itu segera memberikan rantang yang diberikan Lalita padanya kepada Alister. Alister bertanya dari siapa rantang ini, namun suster itu hanya menjawab dari seorang perempuan. Alister penasaran siapa perempuan itu, sedangkan Rania merasa kesal bahwa ada seorang perempuan yang sedang mendekati Alister.
Setelah suster memeriksa keadaan Alister, suster itu langsung pergi keluar karna tidak mau mengganggu Alister. Alister masih dilanda penasaran dengan sosok yang membawakan rantang itu. Dia menghentikan sarapannya dan meminta Rania untuk pergi karna dia ingin beristirahat sejenak. Rania menuruti perintah Alister, dia segera pergi dari ruang rawat Alister setelah membereskan semuanya. Sedangkan Alister masih memikirkan tentang ucapan suster tadi.
Sepanjang perjalanan air mata Lalita terus saja jatuh bercucuran. Dia merasa tidak sanggup melihat Alister bermesraan dengan perempuan lain. Entah perasaan apa yang dimiliki Lalita saat ini? Apakah dia jatuh cinta kepada Alister?
Lalita sudah sampai disekolah, dia langsung memarkirkan mobilnya. Sebelum turun Lalita menghapus air matanya agar semua orang tidak bertanya-tanya, apa lagi sahabatnya. Lalita mulai berjalan menuju ke kelasnya. Lalita berjalan melewati kelas Gilang, karena jarak antara kelas Gilang dan Lalita tidak begitu jauh.
"Stop!" cegah Gilang dengan merentangkan tangannya.
. Lalita yang melihat sikap Gilang menghalanginya jalan merasa sangat kesal. Pagi tadi Alister yang membuatnya kesal, sekarang Gilang. Lalita merasa moodnya sudah hancur untuk sekolah.
"Lo mau apa sih?" tanya Lalita kesal.
"Aissh, jangan galak-galak dong sayang!" sahut Gilang dengan memanggil Lalita sayang.
"Lo apa-apaan sih, gak usah panggil gue sayang! Gue bukan siapa-siapa lo" kata Lalita memperingatkan.
Setelah memperingati Gilang, Lalita langsung pergi dari hadapan Gilang menuju kelasnya. Gilang yang merasa malu akan ucapan Lalita padanya, memukul-mukul dinding tidak jelas.
"Sabar bro!" ucap salah satu teman Gilang.
Lalita sudah sampai didepan kelasnya. Saat dia akan memasuki kelasnya, tiba-tiba saja dari belakang ada yang menahan tangannya. Lalita membalikkan badannya dan ternyata yang menahannya adalah Guntur.
"Guntur!" sapa Lalita.
Guntur langsung melepaskan genggaman tangannya. Dia takut jika nanti orang-orang melihat dan terjadi kesalah pahaman.
"Lo ngapain kesini?" tanya Lalita.
Guntur dan Lalita memang beda kelas. Dimana Guntur anak IPA, sedangkan Lalita anak IPS. Lalita berteman sudah lama dengan Guntur, bahkan sebelum Lalita mengenal Azkia dan Allisya.
"Gu gu-gue mau nanya sa sama lo" titah Guntur.
"Lo mau nanya apa?"
"Gimana ko kondisi Alister se sekarang?" tanya Guntur yang juga khawatir dengan kondisi Alister.
Lalita memutar mata malas saat Guntur menanyakan tentang Alister. Dia teringat kejadian di rumah sakit tadi. Dimana Alister sedang disuapi makan oleh seorang perempuan. Dimana perempuan itu adalah Rania, tapi Lalita belum mengenalnya.
"La, gi gimana?" Guntur bertanya sekali lagi.
Lalita tersadar dari lamunannya karena Guntur kembali bertanya. Lalita hanya menjawab 'Tau' karna masih kesal dengan Alister. Lalita pergi meninggalkan Guntur dan masuk ke kelas. Guntur hanya bingung kenapa temannya itu bersikap dan berbicara seperti itu. Padahal Lalita terkenal dengan kelembutannya saat berbicara.
"Lika, gimana keadaan Alister?" tanya Azkia.
Saat ini Azkia dan Allisya sedang berbicara dengan teman-teman Alister. Semua orang juga penasaran dengan kondisi Alister.
"Kenapa nanya nya sama gue? Kenapa gak sama orangnya sekalian?" jawab Lalita kesal. Lagi-lagi temannya itu membahas soal Alister.
"Loh, kok lo malah marah sih Lik? Kita kan nanya nya baik-baik" sahut Ade.
"Gue gak peduli, mau kalian nanya nya baik-baik atau gak. Karena saat ini gue lagi gak mood untuk bicara, jadi tolong jangan ngebahas apapun dulu sama gue!" bentak Lalita kesal.
Dia meminta salah satu teman sekelasnya untuk pindah duduk ditempatnya. Lalita ingin menjauh dari teman-teman Alister dan dari tempat duduk Alister. Azkia dan Allisya merasa heran kenapa tingkah dan sikap Lalita seperti itu. Teman-teman Alister juga bingung melihat sikap Lalita.
"Ca, Lika kenapa sih? Kok sikapnya kayak gitu?" tanya Azkia kepada Allisya.
"Gue juga gak tau, mungkin dia lagi ada masalah kali" sahut Allisya.
"Gue akan coba tanya sama Lika nanti" gumam Azkia dihatinya.
\* \* \* \* \*
Bel sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat telah datang. Semua murid bersorak dan langsung bergegas ke kantin. Lalita sudah duluan ke kantin, sedangkan Azkia dan Allisya masih di kelas.
"Guys, maaf ya, kali ini kita gak bisa makan bareng dulu. Soalnya gue sama Allisya mau nyusul Lita ke kantin" kata Azkia.
Semenjak hubungan pertemanan yang terjalin antara teman Alister dan teman Lalita, mereka sering makan siang dikantin bersama. Dan kali ini Azkia dan Allisya tidak bisa, dikarenakan mereka ingin menanyakan sesuatu kepada Lalita. Ade dan yang lainnya mengerti, mereka sama sekali tidak masalah kalau Azkia dan Allisya tidak ikut makan bersama mereka. Azkia dan Allisya bergegas ke kantin untuk menyusul Lalita yang sudah duluan pergi.
Lalita sudah sampai dikantin, dia langsung memesan makanan dan mencari tempat duduk. Lalita mendapatkan tempat duduk yang kosong, dia langsung duduk disana sambil menanti pesanannya datang. Tak lama pesanan Lalita pun datang, dia langsung saja menyantapnya.
"Hai!" sapa seorang gadis yang tiba-tiba muncul di tempat dimana Lalita duduk.
Lalita menoleh ke arah sumber suara itu. Dia sangat kaget bahwa yang menyapanya adalah seorang perempuan cantik, berkulit putih, rambutnya digerai, dan badannya sedikit tinggi melebihi tinggi badannya sendiri.
"Hai!" balas Lalita.
"Gue boleh duduk disini?" tanya gadis itu.
"Boleh" jawab Lalita dengan sopan.
Gadis itu langsung duduk dan Lalita pun melanjutkan menyantap makanannya.
__ADS_1
"Gimana? Enak baksonya?" tanya gadis itu pada Lalita.
"Enak, malah enak banget" jawab Lalita.
"Berarti, makanan favorit lo bakso dong?"
"Iya"
"Oh ya kita belum kenalan, gue Letha, panggil aja Let" kata dengan menjulurkan tangannya.
"Gue Lalita, panggil aja Lita atau La" sahut Lalita dengan menyambut uluran tangan Letha.
Meskipun Lalita terkenal di sekolahnya, bukan berarti semua orang begitu mengenalnya. Contohnya Letha, Letha sama sekali tidak mengenali siapa Lalita. Yang dia tau hanya namanya dan gelarnya, sedangkan wajahnya sama sekali tidak dikenal oleh Letha. Letha mulai mengenal Lalita semenjak dia melihat kedekatan antara Alister dan Lalita. Letha berniat untuk mencari tau apakah Lalita menyukai Alister atau tidak.
Letha juga merasa tidak tega melihat Alister yang selalu trauma dengan perempuan. Bahkan, dia tidak mau berdekatan dengan perempuan manapun. Tapi, entah kenapa sekarang Alister sekarang Alister berteman dengan seorang perempuan, yaitu Lalita. Letha berharap kalau Lalita bisa mengobati hati Alister.
"Hehehe…nama kita hampir mirip ya"
"Hehehe…iya"
Tak lama ada seorang pelayan yang datang mengantarkan pesanan Letha. Letha langsung mengambil dan menyantapnya.
"La, gue boleh nanya gak?" tanya Letha.
"Boleh, kenapa harus izin dulu?" tanya Lalita.
"Biar lebih enak dikit"
"Ohhh…"
"Lo, suka sama Alister?" tanya Letha.
Lalita tiba-tiba tersedak karna mendengar pertanyaan dari Letha barusan. Letha langsung menyuluhkan minuman kepada Lalita. Lalita merasa risih akan pertanyaan Letha. Lagi-lagi seseorang membahas tentang Alister padanya. Lalita hanya diam dan menundukkan kepalanya sambil melanjutkan menyantapnya makanannya.
"Kayaknya Lita sama Alister lagi ada masalah" gumam Letha dihatinya.
"Lo kok bisa tersedak? Gue salah ngomong ya?" tanya Letha merasa bersalah.
"Gak kok, lo jangan bahas dia ya!" sahut Lalita.
"Lo lagi ada masalah ya sama Alister? Kalo ada lo boleh cerita kok sama gue?"
"Gak kok, udahlah gak usah dibahas! Gak penting juga kan?"
"Gue bakal ke rumah sakit pulang sekolah nanti. Gue mau nanya sama Alister tentang masalah antara dia dan Lita" gumam Letha dihatinya.
Letha juga sudah mengetahui kalau Alister masuk rumah sakit karna dikeroyok beberapa orang. Dia diberi tau oleh Theo kemarin malam.
Dari kejauhan Azkia dan Allisya melihat Lalita dan Letha sedang berbicara. Azkia memutuskan tidak jadi menemui mereka. Mereka akan menemui Lalita dirumahnya saja nanti.
Dirumah sakit Alister merasa sangat bosan. Dia ingin sekali berjalan-jalan menghirup udara segar. Dia lalu meminta Vanya untuk mengajaknya berjalan-jalan. Kebetulan hari ini Vanya lagi libur sekolah, karena gurunya ada kegiatan. Jadi Vanya menggunakan waktu liburnya untuk merawat kakaknya yang sedang sakit.
Vanya membantu Alister untuk berdiri dan duduk di kursi roda. Setelah Alister duduk di kursi roda, dia langsug mendorong kursi roda itu keluar dan mendorong ke arah taman. Sesampainya ditaman, Alister merasa sangat lega. Rasa bosannya seketika hilang, pikirannya pun menjadi sedikit tenang.
"Kak, kak Lalita itu pacar kakak?" tanya Vanya.
"Kamu kenal?" tanya Alister.
"Gak sih, cuma kemarin sempat ketemu" jawab Vanya.
"Dia cuma teman kakak" lanjut Alister.
Vanya merasa sedikit heran dengan kakaknya itu. Setau Vanya, selama ini kakaknya itu tidak mau berteman dengan perempuan kecuali Letha, teman masa kecilnya. Tapi sekarang kakaknya itu mengatakan bahwa dia dan Lalita hanya berteman.
"Ohhh…kirain pacar kakak"
"Btw kak, dia cantik yah?"
"Lumayan"
Vanya merasa curiga kalau Alister mulai menyukai Lalita. Selama ini Alister sama sekali tidak pernah memuji kecantikan siapa pun, termasuk Vanya. Tapi kali ini dia memuji kecantikan Lalita, meskipun jawabannya hanya 'Lumayan'.
"Maksud kakak, lumayan cantik hatinya" ralat Alister.
Alister merasa malu saat mengatakan Lalita cantik. Sekarang pasti adik semata wayangnya itu akan menceritakan kepada orang tua mereka.
"Kenapa diralat? Jangan-jangan kakak suka ya sama kak Lita?" Vanya mulai curiga.
"Gak, lagian kakak gak mikir kesana dulu" jawab Alister.
"Aku mau ngasih tau aja sih kak, hati-hati! Ntar omongan kakak kebalik loh" goda Vanya.
"Kakak gak percaya sama yang gitu-gituan" kesal Alister.
"Ya udah, kita liat aja nanti" ucap Vanya.
Vanya memang selalu seperti itu, dia sangat senang menakut-nakuti kakak semata wayangnya itu. Tapi untungnya, Alister bukan seorang penakut yang mudah percaya dengan omongan orang.
**Jangan Lupa Dukung AUTHOR terus Ya!😘
Disarankan membaca novel berikut** :
***1. Kesabaranku Ada Batasnya
Gadis minang lupa diri***
__ADS_1