
Matahari sudah terbit dengan sinarnya yang terik menembusi kaca jendela kamar milik Lalita. Lalita terbangun dan langsung bersiap-siap. Setelah selesai bersiap-siap, dia bergegas turun ke bawah untuk sarapan. Dimeja makan sudah ada ayahnya, bundanya, dan juga kak Kara kakaknya.
Lalita duduk dan hanya sarapan memakan dua buah roti saja. Tak lama seorang asisten rumah tangga Lalita menghampirinya dan mengatakan bahwa diluar ada seseorang yang sedang menunggu majikannya itu.
Lalita langsung berpamitan dan bergegas keluar untuk menemui orang yang sedang menunggunya. Sesampainya di luar, Lalita mendapati bahwa Alister lah yang sedang menunggunya. Alister memakai jaket jeans berwarna abu-abu yang bertuliskan grup bandnya yaitu 'LISTER'. Dia juga memakai kaca mata hitam yang membuat dirinya semakin tampan.
Lalita mulai berjalan menghampiri Alister dengan gugup. Tidak mau Alister mengetahui bahwa saat ini dia sedang gugup, Lalita mencoba untuk lebih santai di depan Alister. Lalita menyapa Alister dengan sapaan 'Pagi ', seperti orang yang sedang berpacaran. Alister tidak menjawab sapaan dari Lalita, dia langsung membukakan pintu mobil dan menyuruh Lalita masuk.
Tanpa berfikir lama Lalita pun masuk, dia tidak pernah menyangka bahwa Alister akan membukakan pintu untuknya. Padahal ini bukan pertama kalinya Lalita diperlakukan seperti itu, sebelumnya Lalita juga pernah diperlakukan seperti itu oleh beberapa pria yang mendekatinya. Namun, Lalita merasa beda saat Alister yang memperlakukannya seperti itu, dia merasa berbunga-bunga dan menjadi wanita yang bahagia di hari ini.
Lalita dan Alister sudah sampai di sekolah. Alister langsung memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Lalita turun. Semua kaum hawa di sekolah itu tercengang melihat perlakuan Alister kepada Lalita. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka menjalin sebuah hubungan.
"Thank's" ucap Lalita sambil tersenyum.
"Gue duluan" pamit Alister tanpa membalas senyum Lalita.
Tak lama Alister pergi, Azkia dan Allisya berlari ke arah Lalita. Azkia begitu sangat heboh karna mendengar gossip yang sedang tersebar saat ini. Saat ini Azkia sedang mengatur nafasnya, supaya dia bisa menanyakan apa gossip yang tersebar saat ini benar atau tidak.
"Huh, Lika, lo udah pacaran sama Alister?" tanya Azkia tiba-tiba.
"Belum! Emang kenapa?" sahut Lalita sambil bertanya.
"Tadi itu gue sama Cici lagi jajan di kantin, terus kita dengar orang-orang ngomong kalo lo pergi sekolahnya sama Alister. Emang bener Lik?" jelas Allisya panjang lebar.
"Hmmm" jawab Lalita dengan berdehem sambil menganggukkan kepalanya.
"Gimana caranya?" tanya Azkia
"Maksudnya?" tanya Lalita kebingungan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang ditanyakan Azkia padanya.
"Maksud gue itu, kok bisa gitu? Padahalkan selama ini Alister itu gak pernah mau diajak bareng ke sekolah, apalagi sama cewek"
"Lo gak perlu tau caranya gimana Ci, yang penting gue udah ngejalanin hukuman gue. Dan gue juga pernah bilang sama lo, kalo gue punya cara sendiri untuk ngedeketin Alister"
"Iya-iya, gue ingat" decak Azkia kesal karena tidak diberi tau caranya.
"Lo liat aja Alister, kali ini lo mungkin dingin sama gue. Tapi kita liat aja nanti, gue pasti bisa bikin lo jatuh cinta sama gue" gumam Lalita dihatinya sambil tersenyum smirk.
\* \* \* \* \*
Bel istirahat berbunyi, Azkia langsung mengajak Lalita pergi ke kantin. Tapi Lalita menolaknya, dia beralasan ingin mencatat pelajaran yang tertinggal. Padahal sebenarnya dia ingin menjalankan suatu rencana untuk mendekati Alister.
Saat ini Alister dan teman-temannya sedang bertanding bola basket di lapangan dengan Gilang dan teman-temannya. Gilang adalah salah satu cowok terpopuler juga di SMA Labschool, dia terkenal dengan ketampanan yang mampu membuat kaum hawa terpesona padanya. Saat ini Gilang menyukai Lalita atau Queen sekolah itu. Di sekolah Gilang dan Alister memang tidak pernah damai, karena Gilang selalu merasa tersaingi oleh Alister.
Meskipun Gilang menjabat sebagai ketua OSIS, tapi dia selalu merasa iri dan tersaingi oleh Alister. Sampai pada akhirnya Gilang menantang Alister untuk bertanding basket, Alister menerimanya. Dan sekaranglah pertandingan mereka itu diadakan.
Pertandingan berhenti sebentar, wasit memberikan waktu istirahat selama 10 menit. Dari kejauhan Lalita sedang memperhatikan Alister yang sedang duduk sendirian sambil menghapus keringatnya yang sudah banjir. Lalita berfikiran bahwa ini kesempatan yang bagus untuk mendekati Alister.
Lalita berjalan ke kantin dan sesampainya di kantin dia membelikan 1 botol minuman. Setelah membayarnya, dia langsung menemui Alister dan memberikan minuman yang dia beli itu kepada Alister.
"Nih, minum buat lo" tawar Lalita kepada Alister yang sedang duduk.
__ADS_1
Alister yang merasa ada seseorang yang menawarkan sesuatu padanya, langsung menoleh ke sumber suara itu.
"Thank's" ucap terima kasih Alister setelah mengambil minumannya.
Alister langsung membuka tutupnya dan meminumnya sampai tersisa setengah. Lalita yang melihat Alister kehausan itu hanya tersenyum melihatnya.
Dari kejauhan Gilang sedang memperhatikan Lalita yang selalu tersenyum melihat Alister. Dia merasa sangat sesak melihat kedekatan Alister dengan perempuan yang dicintainya. Tapi apa daya, Gilang juga tidak bisa melarang Lalita berteman dengan siapa saja karena dia bukan siapa-siapa Lalita.
Waktu istirahat pun habis, semua pemain diharapkan kembali ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan. Wasit membunyikan peruit sebagai pertanda pertandingan akan dilanjutkan. Alister yang mendengar peruit wasit berbunyi langsung berdiri dan berjalan masuk ke lapangan. Sebelum Alister pergi, tidak lupa Lalita menyemangati Alister supaya Alister bisa memenangkan pertandingannya.
Alister sudah kembali ke lapangan, dan dia berdiri tepat di samping Gilang. Gilang yang sangat membenci kedekatan Alister dengan Lalita membisikkan sesuatu ke telinga Alister, yang membuat Alister sedikit kesal.
"Gue ingetin ya sama lo, lo jauh-jauh dari Lalita, karna Lalita itu pacar gue!" bisik Gilang dengan berbohong kepada Alister.
"Gak usah bohong sama gue, lo bukan siapa-siapanya Lalita" jawab Alister dan langsung pergi meninggalkan Gilang.
Gilang yang merasa terhina tidak terima dengan perkataan Alister barusan. Dia merencanakan sesuatu untuk mencelakai Alister. Gilang memanggil teman-temannya dan membisikkan sesuatu. Ternyata dari kejauhan Lalita telah mencurigai bahwa Gilang akan melakukan sesuatu pada Alister.
Pertandingan pun dilanjutkan setelah peruit berbunyi. Saat ini bola sedang berada di tangan Gilang, Alister berusaha untuk merebut bola dari Gilang supaya dia tidak bisa memasukkan bola ke ring milik tim Alister. Disisi lain Gilang memang tidak ingin memasukkan bola ke dalam ring tim Alister, melainkan ingin mencelakai Alister.
Alister tepat berdiri di depan Gilang, jarak mereka hanya 90cm saja. Tak lama Gilang melemparkan bola itu ke arah Alister bukan ke ring milik tim Alister. Lalita yang melihat bahwa Gilang sengaja mengarahkan bolanya ke arah Alister, dia langsung berlari ke arah Alister untuk menyelamatkannya.
Bugghhh....
Bola yang dilemparkan sengaja oleh Gilang kepada Alister mengenai kepala Lalita, bukan mengenai Alister. Semua orang yang melihat kejadian itu kaget, mereka tidak menyangka bahwa Lalita akan melakukan itu.
Lalita merasa pusing, semua yang dia lihat terasa rabun dan gelap. Tiba-tiba Lalita jatuh pingsan, dengan sigap Alister langsung menangkapnya dan menggendongnya untuk dibawa ke ruang UKS. Gilang yang melihat bola itu mengenai Lalita merasa bersalah dan menyalahkan Alister.
"Ter, ini kenapa Lika jadi kayak gini?" tanya Azkia panic melihat kondisi Lalita yang masih belum sadarkan diri. Alister hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Azkia padanya.
"Brengsekā¦!" ucap Alister penuh emosi dan bergegas keluar untuk menemui seseorang.
Azkia meminta Allisya untuk tetap disini menemani Lalita. Sementara dia akan mengikuti kemana Alister pergi. Azkia juga ingin tau siapa yang membuat sahabatnya menjadi seperti itu.
"Lika! Lo sadar dong! Lika!" panggil Allisya cemas berusaha untuk membuat Lalita sadar.
Dokter masih memeriksa kondisi Lalita, dokter meminta kepada Allisya untuk tetap tenang. Tak lama dokter pun selesai memeriksa kondisi Lalita.
"Dok, gimana keadaan teman saya? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya Allisya setelah dokter selesai memeriksa kondisi temannya itu.
"Tenanglah! Temanmu baik-baik saja, dia hanya sedikit syok" jawab dokter itu menenangkan Allisya.
Allisya merasa lega dengan ucapan dokter barusan. Dia bersyukur bahwa temannya baik-baik saja.
"Tapi kenapa dia masih belum sadar dok?" tanya Allisya.
"Sebentar lagi dia pasti akan sadar" jawab dokter itu dan kembali ke tempat duduknya.
* * * * *
Gilang dan teman-temannya saat ini sedang berada di kantin. Gilang masih memikirkan Lalita yang terkena lemparan bola darinya. Sementara teman-teman Gilang yang lainnya malah asik berbicara dan makan-makan.
__ADS_1
Disisi lain Alister malah sibuk mencari seseorang, Azkia dan teman-temannya merasa kebingungan siapa yang sedang Alister cari. Mereka sudah sampai dikantin sekolah, Alister melihat Gilang dan teman-temannya sedang duduk di meja paling tengah. Tanpa berfikir lama Alister langsung berjalan ke arah meja yang diduduki Gilang.
"Dasar brengsek!" kata Alister kesal dan memegang krah baju milik Gilang.
Bugghhh.....
Satu pukulan mendarat di wajah Gilang. Gilang yang tidak terima Alister memukulnya malah memukul balik Alister. Alister yang juga tidak terima dengan kelakuan Gilang mendaratkan pukulan lagi, dan akhirnya terjadilah pertengkaran hebat antara Alister dan Gilang. Teman-teman Gilang yang tidak terima temannya dipukuli mereka ikut membantu Gilang. Teman-teman Alister yang melihat temannya Gilang ikut campur mereka juga ikut membantu Alister. Pertengkaran antara geng Alister dan geng Gilang pun terjadi.
Tangan Lalita mulai bergerak-gerak, Allisya yang melihatnya mulai memanggil nama Lalita. Tak lama Lalita membuka matanya perlahan dan melihat semuanya berwarna putih. Lalita melihat ke arah Allisya, matanya belum begitu jelas melihat Allisya. Tapi Lalita tau bahwa di sampingnya saat ini adalah Allisya.
"Gue dimana Ca?" tanya Lalita dengan suara yang masih lemas.
"Lo lagi di UKS Lik, tadi lo pingsan karna lemparan bola dari Gilang" jawab Allisya menjelaskan.
Sebelumnya Ade sudah memberi tau kepada Allisya kenapa Lalita pingsan, sedangkan Azkia belum mengetahuinya. Azkia lebih memilih mengikuti kemana Alister pergi. Terlintas kembali di benak Lalita kejadian tadi yang menimpanya.
"Lik, lo gak apa-apa kan? Apa masih ada yang sakit?" tanya Allisya seketika membuat Lalita sadar dari lamunannya.
"Iya, gue gak apa-apa kok, cuma kepala gue aja yang masih pusing" jawab Lalita.
Lalita melihat ke sekelilingnya karna dia tidak melihat sahabatnya yang satu lagi, yaitu Azkia. Allisya yang menyadari bahwa Lalita mencari Azkia mengatakan bahwa Azkia sedang mengikuti kemana Alister pergi. Lalita yang mendengar itu meminta bantuan kepada Allisya untuk mengajaknya menemui Alister.
Dengan sigap Allisya mengatakan bahwa Alister baik-baik saja. Lalita bukan mengkhawatirkan Alister terluka, tetapi Lalita takut kalau Gilang dan Alister bertengkar. Karena terus dipaksa Lalita, akhirnya Allisya mengalah dan mau mengantar Lalita menemui Alister.
Disisi lain Alister dan Gilang masih bertengkar. Semua orang yang melihatnya hanya bisa diam, mereka tidak berani untuk menghentikan pertengkaran yang terjadi, bisa-bisa mereka yang menjadi sasaran nantinya. Azkia begitu sangat panic saat melihat pertengkaran itu semakin memanas, Azkia juga tidak berani menghentikannya. Dia juga takut melihat kemarahan yang ada di mata Alister dan juga Gilang.
"Alister berhenti!" teriak Letha yang tiba-tiba datang.
Tapi Alister sama sekali tidak mempedulikan teriakan dari Letha. Alister mengetahui bahwa Letha menyukai Gilang semenjak mereka duduk dibangku kelas 1 SMA, bahkan sampai sekarang. Letha yang merasa dirinya dicuekin oleh Alister mengahampiri Gilang dan mencegah Gilang untuk melanjutkan pertengkaran ini. Namun hasilnya nihil, baik Alister maupun Gilang tidak ada yang mengalah.
"Gilang, Alister, berhenti!" teriak Lalita dari kejauhan.
Alister dan Gilang yang mendengar teriakan Lalita langsung menghentikan pertengkaran itu, begitu juga dengan teman-teman mereka. Semua mata tertuju kepada Lalita, mereka semua tidak menyangka bahwa Lalita bisa menghentikan pertengkaran yang terjadi antara Alister dan Gilang. Lalita mulai berjalan menghampiri mereka semua dibantu oleh Allisya.
"Lita" kata Gilang sedikit kaget.
"Kalian apa-apaan sih? Kenapa kalian bertengkar kayak gini?" tanya Lalita kepada Alister dan Gilang beserta teman-temannya.
Pertanyaan yang diajukan Lalita sama sekali tidak ada responnya. Mereka semua hanya terdiam dan menundukkan kepala, sedangkan Alister dan Gilang tetap saja santai.
"Kalian gak malu apa, sama anak-anak yang lain? Berantem di depan mereka, kalian mau jadi jagoan?" lanjut Lalita dengan meninggikan suaranya.
Semua orang yang melihat Lalita mengomeli Alister dan Gilang serta teman-temannya hanya tercengang, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Lalita bisa melakukan itu. Selama ini hanya Letha lah yang berani mengomeli Alister dan Gilang, sedangkan Lalita sama sekali tidak berani.
"Sekarang semuanya bubar! Gak ada tontonan lagi disini" perintah Lalita dengan teriak.
Semua orang telah bubar atas perintah Lalita. Yang tersisa hanya Lalita, Azkia, Allisya, Letha, Alister dan teman-temannya serta Gilang dan teman-temannya.
"Dan lo Gilang, lo kenapa harus ngelakuin hal yang serendah itu? Kalo lo emang benci sama Alister nyerangnya dari depan, jangan dari belakang!" ucap Lalita dengan tegas dan meninggalkan mereka semua dibantu oleh Allisya dan Azkia.
Gilang yang merasa disalahkan oleh Lalita mengacak-ngacak rambutnya dan pergi dari kantin. Sekarang hanya tersisa Letha, Alister dan teman-temannya. Ade mengajak mereka semua untuk duduk dan memesan makanan serta minuman.
__ADS_1
Dukung AUTHOR terus ya!