
Lalita sudah bangun dari tidurnya. Hari ini Lalita memutuskan untuk tidak ke sekolah dikarenakan kepalanya masih pusing. Sebelumnya Lalita sudah mengatakan kepada Azkia dan Allisya bahwa hari ini dia tidak sekolah. Dia juga sekalian meminta Azkia menyampaikan izin liburnya kepada guru yang mengajar.
Disekolah, bel masuk sudah berbunyi. Semua murid sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Hari ini Alister terpaksa duduk sendiri dulu karena Lalita tidak sekolah. Entah kenapa hari ini Alister merasa kesepian saat Lalita tidak ada. Biasanya Lalita selalu mengajak Alister berbicara atau mengobrol. Ternyata Ade menyadari bahwa temannya itu merasa kesepian tidak ada teman ngobrolnya.
"Kia, si Lalita gak masuk hari ini?" tanya Ade kepada Azkia.
Alister yang mendengar sahabatnya bertanya tentang Lalita langsung ingin mendengar jawaban dari Azkia.
"Gak, katanya sih kepalanya masih pusing karna kejadian kemarin" jawab Azkia dan melanjutkan obrolannya dengan Allisya yang terputus.
Alister berfikiran pulang sekolah nanti dia akan ke rumah Lalita untuk menjenguknya. Sekalian Alister juga ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karna sudah menolongnya.
Bel istirahat berbunyi, semua murid bersorak dan langsung pergi ke kantin. Ada juga yang bermain basket, berpacaran, dan hanya mengobrol di kelas. Kali ini Azkia dan Allisya pergi ke kantin untuk jajan, meskipun tanpa ada Lalita bersama mereka. Sedangkan Alister lebih memilih untuk duduk di kelas menyelesaikan catatan yang akan dia kasih ke Lalita nantinya agar dia tidak ketinggalan dalam pelajaran, apalagi sekarang juga jadwal pelajaran Matematika.
Alister tau betul bahwa Lalita tidak begitu menyukai pelajaran Matematika, sedangkan dirinya sangat menyukainya. Setelah selesai mencatat semuanya Alister ingin ke kantin menyusul teman-temannya. Di perjalanan menuju kantin, tidak sengaja Alister bersamaan dengan Gilang dan teman-temannya. Alister terlihat santai dan terus berjalan ke kantin, sedangkan Gilang menatap tajam Alister.
Gilang terus saja menatap tajam Alister sampai Alister benar-benar hilang dari pandangan matanya. Gilang membisikkan sesuatu kepada teman-temannya. Entah apa itu, yang jelas rencananya ini berhubungan dengan Alister.
Alister sudah sampai dikantin, dia langung memesan makanan favoritnya dan duduk dimeja dimana semua temannya duduk disana. Disana juga ada Azkia dan Allisya. Semenjak perlombaan mendaki bukit yang dibuat Azkia, teman Alister dan teman Lalita menjadi bersahabat. Biasanya mereka hanya berteman biasa, sekarang sudah menjadi teman sekaligus sahabat dekat.
"Hai" sapa Letha yang tiba-tiba datang.
"Hai Letha cantik" Ade menyapa balik Letha dengan nada rayuan.
Semua orang yang melihatnya hanya tertawa geli melihatnya. Sedangkan Letha memutar mata malas karna mendengar gombalan Ade. Alister berdiri dan mengambil kursi di meja sebelah dan memberikannya kepada Letha supaya dia duduk.
"Duduk Let!" perintah Alister sambil menepuk-nepuk kursi yang dia ambil.
Letha pun duduk dan ikut berbicara dengan Alister dan teman-teman lainnya. Tiba-tiba saja Letha mengajukan sebuah pertanyaan kepada Alister yang membuat semua orang terkejut.
"Ter, lo pacaran sama Lita?" tanya Letha dengan serius.
"Gak, gue cuma berteman" jawab Alister santai.
Menurut Alister pertanyaan seperti itu sudah biasa diajukan kepadanya. Siapa pun yang bertanya seperti itu padanya dia sudah punya seribu jawaban.
Hari ini Lalita merasa sangat bosan dan suntuk di rumah terus. Dia berencana pergi ke mall untuk berbelanja dan mencuci matanya. Lalita sudah bersiap-siap untuk pergi ke mall. Kali ini Lalita pergi diantarkan oleh pak Asep, supir pribadi keluarganya. Sebelumnya Lalita sudah meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya untuk pergi keluar.
Di perjalanan, Lalita merasa sangat senang menikmati pemandangan yang ada di ibukota. Melihat gedung-gedung yang tinggi, pedagang kaki lima yang sedang berjualan, dan juga melihat anak-anak SMA pacaran di pinggir jalan.
"Non juga pengen ya kayak mereka?" tanya pak Asep menggoda yang menyadari Lalita senyum-senyum melihat beberapa anak remaja berpacaran di pinggir jalan.
"Maksud pak Asep?" tanya Lalita karena tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan pak Asep padanya.
"Itu non, remaja yang dipinggir jalan barusan" jawab pak Asep.
Lalita sekarang sudah mengerti apa yang dimaksud pak Asep. Dia memutar mata malasnya sambil tersenyum. Ternyata pemikiran pak Asep benar-benar melebihi dirinya.
"Ya gak lah pak, bapak ada-ada aja" kata Lalita sambil tersenyum.
"Tapi kalo yang ngedeketin ada gak non?" pak Asep terus menggoda Lalita.
"Ya ampun si bapak kayak gak tau aja, ya pasti ada dong pak, malah banyak" jawab Lalita percaya diri.
"Terus, gak ada orang yang non suka gitu?" tanya pak Asep.
"Ya ada atuh pak, malah saya yang PDKT in"
"Serius non? Kalo setau bapak cowok yang harus PDKT, bukan cewek"
"Hahaha…pak Asep kayaknya tau banyak tentang percintaan ya?"
"Ya iya atuh non, waktu SMA bapak tuh suka sama semua cewek"
"Oh ya, terus ada yang mau gak?"
"Hehehe…ya gak ada non" jawab pak Asep malu.
Lalita yang mendengar candaan pak Asep tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di mall. Lalita turun dari mobilnya, sedangkan pak Asep mencari tempat parkir. Sebelumnya Lalita sudah meminta pak Asep untuk tunggu di parkiran saja, karna kasihan kalo pak Asep harus ikut Lalita masuk ke dalam mall berbelanja. Anak seremaja Lalita pasti mempunyai banyak kebutuhan, jadi kalo berbelanja bisa sampai malam.
\* \* \* \* \*
Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran telah usai. Azkia dan Allisya berencana untuk menjenguk Lalita pada malam hari, karena kalo sekarang mereka sedang banyak tugas dan mereka berfikir bahwa sekarang Lalita pasti sedang istirahat.
Disisi lain Alister berencana untuk menjenguk Lalita sepulang sekolah. Dia bahkan sampai menolak untuk latihan band hari ini demi menjenguk Lalita. Alister pulang menggunakan mobil sedannya sendirian. Di perjalanan Alister merasa lapar, dia menepikan mobilnya dan mampir di sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Waktu di kantin Alister tidak begitu banyak makan, dikarenakan dia memikirkan keadaan Lalita.
Meskipun seorang yang terkenal, tapi Alister tidak pernah malu untuk makan di pinggir jalan. Bahkan menurutnya, lebih enak makanan pinggir jalan dibanding makanan yang ada di restoran. Alister sudah selesai mengisi perutnya yang keroncongan. Dia langsung membayarnya dan bergegas melanjutkan perjalanan ke rumah Lalita.
Lalita sudah selesai berbelanja. Dia berjalan ke kasir untuk membayar semua barang belanjaannya. Sebelumnya Lalita sudah menelepon pak Asep agar membantunya membawa semua barang belanjaannya. Setelah selesai membayar Lalita langsung pulang. Hari sudah menunjukkan pukul 19.00. Pak Asep mulai mempercepat laju mobilnya agar sampai dirumah tidak terlalu malam.
__ADS_1
Disisi lain Alister masih di dalam perjalanan menuju rumah Lalita. Kebetulan jalan itu sekarang sudah sepi karena hari sudah mulai malam. Alister menancap rem mobilnya secara mendadak karena ada beberapa orang dengan motor ninjanya yang sengaja menghalangi mobil Alister. Karena merasa sedikit risih dengan kelakuan orang-orang itu, Alister bergegas turun dari mobilnya dan menanyakan kenapa orang-orang itu mengahalanginya.
"Apa-apaan nih? Mau cari masalah kalian?" bentak Alister.
Orang-orang itu masih menutupi wajah mereka dengan helm agar tidak ketauan oleh Alister. Salah satu dari orang-orang itu turun dari motornya dan menghampiri Alister.
Bugghhh....
Orang itu mendaratkan sebuah pukulan yang membuat Alister marah. Tidak terima dipukuli tanpa alasan, Alister mulai berdiri dan memukul balik orang itu.
Bugghhh....
Karena tidak terima, orang itu menaikkan satu tangannya sebagai kode untuk menyerang dan menghabisi Alister. Awalnya Alister mampu melawan mereka semua, tapi karena kekurangan tenaga Alister kewalahan dan terbaring di atas aspal.
"Alister..Alister..lo gak akan bisa ngalahin gue" kata bos mereka dan melanjutkan pemukulannya terhadap Alister.
Alister yang mendengar suara itu merasa tidak asing di telinganya. Tiba-tiba terlintas di benaknya saat Gilang selalu mengancamnya dan meledeknya.
Di pertengahan jalan menuju rumah, kebetulan Lalita juga melewati jalan yang sepi itu. Tidak sengaja dia melihat beberapa orang sedang memukuli seseorang. Lalita ingin keluar tapi pak Asep melarangnya. Pak Asep meminta Lalita untuk tetap didalam mobil, biarkan pak Asep yang membantunya.
Pak Asep keluar dari mobil menghampiri orang-orang sambil teriak meminta tolong. Salah satu dari orang-orang itu memukul pak Asep dari belakang. Alhasil pak Asep juga ikutan terbaring di aspal. Lalita yang melihat itu tidak terima, tanpa pikir panjang Lalita langsung bergegas turun menghampiri orang-orang itu.
"Berhenti!" teriak Lalita.
Semua orang-orang yang sedang memukuli Alister itu mendadak berhenti. Bos mereka yang sedang memukuli Alister juga ikut berhenti.
"Mati gue, Lita ada disini" gumam Gilang dihatinya.
"Semuanya cabut!" perintah Gilang kepada teman-temannya.
Gilang dan teman-temannya pun pergi dari tempat itu agar tidak ketahuan oleh Lalita. Lalita langsung menghampiri pak Asep yang terbaring di aspal dan mencoba membangunkan pak Asep. Akhirnya pak Asep pun sadar, Lalita merasa sangat lega. Kemudian Lalita menghampiri Alister yang dipukuli oleh Gilang dan teman-temannya.
Karena posisi Alister yang membungkuk, Lalita tidak bisa melihat wajahnya. Dia langsung jongkok dan membalikkan tubuh Alister. Betapa terkejutnya Lalita melihat Alister yang terbaring lemah tidak sadarkan diri.
"Alister…Alister…bangun..!!" teriak Lalita mencoba membangunkan Alister.
"Pak, pak Asep tolong saya, tolong bawa Alister ke dalam mobilnya" Lalita semakin panik karna Alister masih tidak sadarkan diri.
Pak Asep langsung membokong Alister ke dalam mobilnya. Lalita meminta kepada pak Asep untuk mengikuti mobil Alister dari belakang, karena Lalita akan membawa mobil Alister dan membawanya ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang pak Asep menyetujuinya dan mengikuti mobil Alister dari belakang.
Di rumah Alister, orang tuanya dan Vanya merasa cemas kenapa Alister masih belum pulang di jam segini. Vanya berusaha untuk menghubungi Alister tapi tetap tidak bisa. Vanya semakin panik, dia berfikir tidak seperti biasa kakaknya seperti ini. Vanya mencoba menelepon teman-teman Alister, tapi mereka semua mengatakan bahwa mereka tidak tau dimana Alister. Mereka juga mengatakan bahwa tadi siang mereka juga tidak latihan band karena Alister ada urusan mendadak.
"Duh..kak..lo dimana sih?" tanya Vanya berbicara sendiri.
Lalita dan pak Asep sudah sampai di rumah sakit. Pak Asep langsung turun dari mobilnya dan membantu Lalita untuk membawa Alister masuk. Suster langsung membawa Alister ke ruang UGD untuk diperiksa. Suster meminta Lalita dan pak Asep untuk menunggu di luar. Lalita duduk di kursi sedangkan pak Asep berpamitan untuk memarkirkan mobil, karena tadi pak Asep belum sempat memarkirkan mobilnya.
Lalita mengingat kejadian pada saat dia melihat orang-orang itu memukuli Alister. Dan dia juga teringat betapa banyaknya darah yang keluar dari hidung Alister. Tanpa Lalita sadari air mata yang dibendungnya jatuh seketika membasahi pipinya. Hatinya terasa tertusuk dan perih saat melihat Alister terluka. Dia tidak tau kenapa, entah perasaan apa yang dimiliki Lalita saat ini. Yang jelas, dia juga merasa terluka saat melihat Alister terluka.
"Entah kenapa hati gue terasa sangat perih melihat Alister seperti itu. Rasanya gue gak sanggup untuk melihat ini semua. Ada apa dengan perasaan gue?" batin Lalita.
Lalita mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Dia ingin mengabarkan kepada seseorang tentang keadaan Alister saat ini. Lalita mencari nomor Ade dan meneleponnya.
Dirumah Arzan, semua orang sedang berkumpul bermain PS. Mereka semua tampak asik dan bercanda.
Drrrttttt.....
Ponsel Ade berbunyi saat dia sedang bermain game di ponselnya. Dia kaget nama yang terpampang di layar ponselnya adalah nama Queen. Ade memang sengaja memberi nama nomor Lalita dengan nama Queen. Teman-temannya merasa risih dengan bunyi ponsel Ade yang masih belum diangkatnya.
"Woi, malah bengong, angkat dong! Sakit nih telinga gue lama-lama dengarnya" teriak Theo kepada Ade yang masih bengong.
"Emang siapa yang telpon lo sih?" tanya Arzan.
"Queen Lalita" jawab Ade.
Semua orang terkejut mendengarnya, tidak biasanya seorang Queen sekolah menelepon kepada Ade. Ali menyuruh Ade mengangkatnya dan mengaktifkan speakernya. Ade menekan tombol hijau dan mengaktifkan speakernya ponselnya agar semua orang dapat mendengarnya.
"Halo Queen!" sapa Ade ditelepon.
"De, g-gue mau bilang sesuatu sama lo" kata Lalita gugup tanpa basa basi.
"Lo kenapa? Kok gugup gitu? Dan lo mau bilang apa sama gue?" tanya Ade.
"Gue mau bilang kalo, Alister lagi di rumah sakit" jelas Lalita sambil menghela nafas beratnya.
Semua orang yang mendengar pernyataan Lalita barusan merasa cemas dan juga panik. Ade menanyakan kenapa Alister di rumah sakit. Lalita tidak menceritakannya, dia hanya meminta Ade dan yang lainnya ke rumah sakit, dia akan menceritakannya jika mereka sudah berada di rumah sakit. Tidak lupa juga Lalita menyuruh Ade untuk mengabari orang tua Alister, karena Lalita tidak mempunyai nomor orang tua Alister.
Ade langsung mematikan telepon. Dia langsung menghubungi Vanya dan mengatakan bahwa Alister sedang berada di rumah sakit. Sedangkan yang lainnya sedang bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Setelah selesai bersiap-siap, mereka langsung pergi ke rumah sakit. Sebelumnya Lalita sudah memberi tau alamat rumah sakitnya.
__ADS_1
Di rumah Alister, Vanya langsung memberi tau orang tuanya bahwa Alister sedang berada dirumah sakit. Mami Alister menjadi panik dan meminta kepada suaminya untuk melihat keadaan Alister sekarang juga. Tanpa pikir panjang Papi Alister langsung mengeluarkan mobilnya dan tancap gas kerumah sakit. Sebelumnya Ade juga sudah memberi tau alamat rumah sakitnya kepada Vanya.
Lalita masih cemas memikirkan keadaan Alister. Lalita menghampiri pak Asep yang sedang duduk, karna sedikit mengantuk pak Asep memejamkan matanya. Lalita membangunkan pak Asep dan menyuruh pak Asep untuk pulang duluan. Dia merasa tidak tega melihat pak Asep yang sudah mengantuk. Awalnya pak Asep menolak, tapi Lalita berusaha memaksa dan akhirnya pak Asep mau untuk pulang duluan.
Tak lama pak Asep pergi, dokter keluar dari ruangan Alister. Lalita yang menyadari bahwa dokter telah selesai memeriksa keadaan Alister, dia langsung menghampiri dokter dan menanyakan kondisi Alister.
"Dok, gimana keadaan teman saya? Dia baik-baik aja kan? Gak terjadi sesuatu kan dok?" tanya Lalita panik.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, tapi ada beberapa luka ditubuhnya yang dalam, jadi dia harus menginap dulu di rumah sakit. Supaya kami bisa mengontrol kondisinya" jelas dokter panjang lebar dan langsung pergi.
Lalita merasa lega bahwa Alister baik-baik saja. Tak lama Ade dan yang lainnya sudah sampai dirumah sakit. Mereka langsung menanyakan dimana ruang rawat Alister kepada resepsionis rumah sakit. Resepsionis itu langsung memberi tau dan mereka pun bergegas kesana.
Sesampainya diruang rawat Alister, Ade dan yang lainnya melihat Lalita sedang duduk dan menangis. Mereka menghampiri Lalita dan bertanya kondisi Alister. Lalita mengatakan seperti apa yang dikatakan dokter padanya. Keluarga Alister sudah sampai dirumah sakit. Mereka langsung menuju ruang rawat Alister setelah diberi tau oleh resepsionis rumah sakit.
"Al, gimana keadaan Alister? Dia baik-baik aja kan? Gak terjadi sesuatu kan Al?" tanya maminya Alister dengan panik kepada Ali.
"Mi tenang dulu! Mami gak boleh panik kayak gini!" kata Vanya memperingatkan.
Lalita berdiri dari tempat duduknya dan mengatakan kepada orang tuanya Alister bahwa Alister baik-baik saja. Dia hanya perlu menginap dirumah sakit untuk merawat luka-lukanya. Orang tua Alister pun merasa lega saat Lalita memberi tau kondisi Alister baik-baik saja.
"Oh ya La, gimana kejadiannya? Kenapa Alister sampai babak belur gitu?" tanya Arzan yang sempat melihat kondisi Alister melalui jendela ruangan Alister.
Lalita menceritakan semuanya tentang kejadian yang dialami Alister. Setelah mendengar semuanya, Theo mengatakan bahwa ini disengaja. Ade yang merasa tidak terima bahwa temannya dipukuli secara bersama-sama, berniat untuk mencari pelakunya dan membalasnya.
Papi Alister merasa geram dengan perbuatan orang-orang yang memukuli anaknya tanpa sebab. Dia juga ingin mencari tau siapa dalang dibalik kejadian itu. Suster keluar dari ruang rawat Alister, suster mengatakan bahwa Alister sudah sadar dari pingsannya.
Semua orang yang mendengarnya merasa senang, dan mereka di izinkan oleh suster untuk masuk, tapi hanya 3 orang saja. Yang pertama masuk adalah mami dan papinya Alister, lalu Vanya menyuruh Lalita duluan yang masuk. Awalnya Lalita menolaknya karena Vanya adalah adik Alister, karna Vanya terus memaksa akhirnya Lalita masuk menyusul mami dan papinya Alister.
Dirumah Lalita, Azkia dan Allisya sudah datang untuk menjenguk Lalita. Tapi mereka tidak menemukan Lalita sama sekali. Azkia melihat pak Asep sedang memasukkan mobil ke dalam bagasi, dia langsung menghampiri pak Asep dan bertanya dimana Lalita.
"Pak Asep, Lika gak ada dirumah?" tanya Azkia.
"Gak, non Likanya lagi dirumah sakit" jawab pak Asep santai.
"Apa?" teriak Azkia dan Allisya secara bersamaan.
"Kok jadi kompak gitu? Sakit telinga saya non" kata pak Asep.
"Maaf pak. Tapi kenapa Lika dirumah sakit pak? Dia baik-baik aja kan?" tanya Azkia khawatir.
"Non Likanya baik-baik aja" jawab pak Asep.
Azkia dan Allisya menghembuskan nafas leganya.
"Cuma temannya yang luka parah" lanjut pak Asep.
"Maksud bapak, temannya yang mana?" tanya Allisya memastikan.
"Temannya itu cowok non, kalo gak salah namanya…hmmm…ha yah, Alister namanya non" jawab pak Asep.
"Alister?" tanya Azkia dan Allisya bersamaan.
"Iya. Tadi itu waktu jalan pulang dari berbelanja, bapak sama non Lita melihat sekelompok orang yang sedang memukuli seorang pria. Ya udah bapak sama non Lita nolongin orang itu, eh ternyata orang itu temannya non Lita. Terus non Lita suruh untuk membawanya ke rumah sakit" jelas pak Asep panjang lebar.
Azkia dan Allisya langsung berpamitan kepada pak Asep untuk menyusul Lalita ke rumah sakit. Mereka langsung tancap gas ke rumah sakit.
"Astaghfirullah, anak-anak jaman sekarang ya, beda banget sama jaman dulu. Bukannya nanyain keadaan saya, eh malah pergi" ucap pak Asep dengan menggelengkan kepalanya.
Dirumah sakit semua orang masih menunggu diluar untuk menunggu giliran mereka melihat kondisi Alister.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya maminya Alister saat sudah berada didalam ruang rawat Alister.
"Aku baik kok mi" jawabnya dingin.
"Heran deh gue sama ni orang, udah sakit masih aja ngejawabnya dingin" batin Lalita.
Alister melihat kedatangan Lalita hanya menatapnya. Orang tuanya yang menyadari bahwa putranya sedang menatap ke arah Lalita, langsung berpamitan untuk keluar sebentar. Mereka tau bahwa putranya itu ingin berbicara dengan gadis yang menolongnya. Lalita merasa canggung saat orang tua Alister sudah pergi.
Dia juga ingin keluar untuk menemui yang lainnya. Saat Lalita akan melangkah, tiba-tiba saja Alister menahan tangan Lalita dengan menggenggam tangan Lalita. Lalita sangat kaget dan membalikkan badannya. Dia langsung melepaskan genggaman dari Alister.
"Lo butuh sesuatu?" tanya Lalita berusaha santai.
Alister hanya menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa dia tidak membutuhkan sesuatu.
Jangan lupa like dan comment ya!
Jangan lupa vote dan tambahkan ke favorit juga!
Oh iya, Author mau memberi tau sesuatu. Kalo selama 3 minggu ke depan Author gak bisa Update dulu ceritanya, dikarenakan Author akan melaksanakan Ujian Semester Ganjil, jadi Author minta maaf. Tapi setelah ujian selesai Author akan update
__ADS_1