ALISTER BAGASKARA

ALISTER BAGASKARA
Perhatian & Gendongan Pertama


__ADS_3

Azkia merasa sangat lelah. Dia meminta kepada Arzan untuk beristirahat sebentar, Arzan pun menurutinya. Saat ini Arzan juga merasa lelah karna sudah jauh sekali mereka berjalan. Azkia memperhatikan Arzan, dia bisa melihat bahwa saat ini Arzan sangat haus. Azkia memberikan minuman kepada Arzan yang telah dia beli tadi sebelum mendaki bukit.


"Nih, minum buat lo" kata Azkia sambil menjulurkan tangannya yang sedang memegang botol minuman.


"Gak usah, buat lo aja. Gue tau lo juga haus, jadi buat lo aja" jawab Arzan dengan tersenyum. Azkia membalasnya dengan senyuman juga.


"Ternyata Arzan orangnya perhatian juga. Buktinya gue ngasih minum dia tolak, dia gak mau gue merasa kehausan" gumam Azkia didalam hatinya sambil tersenyum sendiri.


Arzan yang menyadari bahwa Azkia senyum-senyum sendiri merasa katakutan. Dia berfikir bahwa Azkia telah dirasuki oleh penjaga bukit ini, padahal tidak. Arzan membuyarkan lamunan Azkia dengan menepuk bahu Azkia, Azkia pun sedikit menjerit karna Arzan memukul bahunya. Arzan bertanya kepada Azkia kenapa dia senyum-senyum sendiri. Azkia hanya menjawab tidak ada apa-apa.


Disisi lain Lalita merasa sangat lelah. Dia meminta kepada Alister untuk beristirahat sebentar, namun Alister tidak mau. Alister takut hanya karna istirahat dia akan kalah. Alister terus memaksa Lalita untuk berjalan, namun Lalita tidak mau dan tetap duduk disebuah batu. Alister mulai berjalan meninggalkan Lalita, namun Lalita tidak mempedulikannya.


Tiba-tiba saja langkah Alister berhenti. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Lalita. Lalita yang sedang mengatur nafasnya tidak menyadari bahwa saat ini Alister sedang menatap ke arahnya.


"Kalo gue tinggalin dia sendirian? Yang ada malah ngerepotin" gumam Alister didalam hatinya. Alister mulai berjalan ke arah Lalita duduk. Lalita menyadari bahwa saat ini Alister sedang berjalan menghampirinya.


"Kenapa balik lagi?" tanya Lalita dengan wajah sedikit serius. Alister hanya diam tak berkutik. Lalita yang melihat ekspresi Alister tersenyum kecil.


"Oh gue tau, lo gak mau kan ninggalin gue sendirian disini?" tanya Lalita dengan percaya diri.


"Gak usah kepedean! Gue cuma takut lo nanti ngerepotin gue" jawab Alister dingin.


Lalita hanya terdiam sambil tertawa kecil. Lalita tidak tahan dengan sikap cuek dan dingin Alister padanya.


"Lo liat aja Alister, gue pasti bisa bikin lo jatuh cinta sama gue" gumam Lalita dihatinya sambil tersenyum smirk.


* * * * *


Hari menunjukkan pukul delapan lewat 30 menit. Matahari sudah mulai terbit dan menerangi kamar Vanya dengan sangat terang. Vanya terbangun dari tidurnya, dia langsung melihat ke arah jam dinding. Dia langsung bergegas kekamar mandi dan turun ke bawah jika sudah selesai mandi.


Sesampainya dimeja makan, Vanya langsung duduk dan sarapan. Vanya tidak menyadari bahwa kakak tersayangnya tidak berada dimeja makan. 5 menit kemudian, Vanya baru menyadari bahwa kakaknya tidak ikut sarapan.


"Mi, kakak dimana?" tanya Vanya kebingungan.

__ADS_1


"Kakak kamu lagi pergi jalan-jalan sama temannya" jawab maminya sambil menyantap sarapannya.


"Hehehe, tumben banget kakak mau pergi jalan-jalan? Biasanya diajak gak pernah mau" ledek Vanya.


"Mungkin dipaksa temannya kali" jelas maminya. Vanya hanya tersenyum kecil dan menyantap sarapannya lagi.


* * * * *


Matahari sudah bersinar dengan teriknya. Tapi belum ada satu pun yang sampai dipuncak. Theo merasa sangat lelah, dia mengatakan kepada Allisya bahwa dia ingin istirahat sebentar. Allisya juga ikut istirahat dan duduk disebuah batu besar. Allisya memperhatikan Theo yang sangat kehausan. Allisya mengeluarkan 1 botol minuman dari kantong plastiknya yang sudah dia beli sebelum mendaki.


"Nih buat lo! Lo haus kan?" tawar Allisya kepada Theo.


Theo terdiam dan menatap Allisya dengan dalam. Theo tidak menyangka bahwa Allisya orangnya baik dan perhatian. Allisya yang menyadari bahwa Theo tidak mengambil minuman yang ia berikan dan malah menatap ke arahnya merasa sangat canggung. Allisya memalingkan wajahnya dari Theo, Theo langsung tersadar dan mengambil minuman yang diberikan Allisya padanya.


"Ternyata ni cewek perhatian juga" gumam Theo didalam hatinya setelah meminum minuman yang diberikan Allisya padanya. Allisya sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini Theo sedang menatapnya.


Disisi lain Ade dan Ali sudah sampai duluan dipuncak bukit itu. Mereka merasa sangat senang karna bisa menghirup udara segar dari atas bukit tersebut. Mereka terus menikmati udara dan pemandangan dari bukit, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa teman-teman mereka yang lain masih belum sampai dipuncak.


"Udahlah, ngapain mikirin mereka sih? Yang penting sekarang kita menjadi pemenangnya" jawab Ade dengan terus melihat-lihat pemandangan dari bukit.


"Lo bener juga" sahut Ali setelah itu berjalan-jalan diatas bukit dan menikmati pemandangannya.


Tak lama setelah itu Azkia dan Arzan pun sampai dipuncak. Azkia langsung berlari ke arah Ade dan Ali berdiri. Saat Azkia akan berlari, tiba-tiba saja Azkia tersandung dan dengan sigap Arzan langsung menangkapnya. Sekarang Azkia berada dipelukan Arzan, sehingga mata mereka pun bertemu.


"Ehemmm, enak kayaknya tuh" ledek Ade yang melihat itu semua.


Arzan dan Azkia pun sama-sama melepaskan pelukan, sehingga terciptalah jarak dan rasa canggung diantara mereka. Azkia mengucapkan terima kasih kepada Arzan karna sudah membantunya, jika tidak dia pasti akan jatuh ke tanah dan mengalami kesakitan.


Azkia pergi menemui Ade dan Ali, ia juga ingin ikut menghirup udara segar. Sedangkan Arzan dia hanya diam ditempat, dia masih merasa canggung dengan kejadian tadi.


"Kok gue jadi deg-degan gini ya?" gumam Arzan didalam hatinya.


"Ah tidak, apaan sih lo Arzan. Gak mungkin lo baper sama kejadian tadi, ingat! Lo sukanya sama Vanya" lanjut Arzan bergumam didalam hatinya sambil mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


Disisi lain Lalita masih tetap beristirahat, sedangkan Alister sedang memainkan handphonenya. Alister mulai berdiri dan mengajak Lalita untuk jalan lagi agar mereka cepat sampai dipuncak. Namun, Lalita tetap saja tidak mau, bahkan Lalita merengek seperti anak kecil. Alister sangat kesal dengan tingkah laku Lalita. Tanpa izin dari Lalita, Alister mendekatinya dan menggendong Lalita. Lalita sangat kaget dengan aksi yang dilakukan Alister.


"Heh, heh, apa-apaan ini?" tanya Lalita yang sudah berada dipelukan Alister.


"Salah lo sendiri" jawab Alister dengan dingin tanpa menatap kepada Lalita.


Alister mulai berjalan dengan kondisi menggendong Lalita. Disepanjang perjalanan Lalita masih terus memaksa untuk diturunkan, namun Alister tetap tidak mau untuk menurunkannya. Mereka hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai dipuncak. Sesampainya dipuncak semua pengunjung termasuk Ade, Ali, Arzan, dan Azkia menatap ke arah Lalita dan Alister.


Alister sama sekali tidak mempedulikannya, sedangkan Lalita merasa canggung karna semua pengunjung menatap ke arahnya. Tak lama Lalita minta diturunkan, Alister pun menurunkannya. Setelah menurunkan Lalita, Alister berusaha untuk mengatur nafasnya agar dia tidak sesak nafas.


Ade dan yang lainnya berjalan menghampiri Lalita dan Alister dengan senyum menggoda. Lalita hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lalita berfikir bahwa saat ini teman-temannya pasti menyangka bahwa Alister dan dirinya ada sesuatu.


"Ehemm, ada apa nih sama kalian berdua?" tanya Azkia menggoda.


Lalita hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Alister tetap saja santai dan tidak menjawab pertanyaan Azkia barusan.


"Kayaknya Lika sudah menjalankan aksinya" gumam Azkia didalam hatinya sambil tersenyum smirk.


Tak lama setelah itu Theo dan Allisya pun datang. Theo dan Allisya berjalan menghampiri dimana teman-temannya sedang berdiri. Semua orang saat ini masih saja tersenyum kecil karna melihat kejadian antara Alister dan Lalita. Theo dan Allisya yang menyadari itu merasa kebingungan, mereka bertanya-tanya kenapa mereka semua hanya diam dan tidak berbicara sama sekali.


"Kalian semua kenapa" tanya Theo kebingungan.


"Hah, gak, kita gak kenapa-napa" jawab Azkia sambil menahan tawanya.


"Ya udah, kita kesana yuk!" ajak Lalita gugup mencoba mengalihkan perhatian dan pembicaraan.


Lalita menunjuk ke arah tepi bukit, semua orang mengerti dan langsung berjalan ke arah tepi bukit. Mereka semua tampak menikmati pemandangan dari bukit itu, tidak kelewatan Ade meminta untuk berfoto bersama. Semua orang setuju dengan usulan Ade kecuali Alister. Alister memang anti sekali dengan yang namanya foto.


Menurut Alister, untuk mengenang sesuatu yang indah itu tidak perlu difoto, cukup dikenang dan disimpan saja didalam hati, itu sudah lebih dari cukup. Dulu saat Alister masih berpacaran dengan Rania, Rania selalu mengajak Alister berfoto, tapi Alister selalu menolaknya.


Ade tetap memaksa Alister, dan akhirnya Alister mengalah dan setuju untuk berfoto. Ade meminta salah satu pengunjung untuk mengambil foto dirinya dan teman-temannya. Pengunjung itu mau, dan mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda-beda. Setelah selesai berfoto, Ade mengucapkan terima kasih kepada pengunjung itu dan pengunjung itu langsung pergi untuk menemui teman-temannya kembali.


Dukung AUTHOR terus ya!!!

__ADS_1


__ADS_2