
Sesampai di kamar aiza melihat teman-temannya sudah tertidur. Mungkin karna kecapean. Rumah mereka cukup lah jauh. Butuh waktu 30 menit untuk mereka sampai di rumah aiza. Pasti capek. Apa lagi hari pun sudah malam. Jadi aiza tidak tega membangun sahabatnya itu. Sampai di kamar aiza duduk di samping ranjangnya masih memikirkan perkataan kedua orang tuanya tadi.
" Ya Allah apa benar bang Aqil adalah jodoh ais. Ais masih bingung ya Allah..... Hmmm, udah lah lebih baik ais sholat istihoroh dulu. Mana tau ada jawabnnya nanti. Apapun jawabnnya ais serahkan kepada Allah SWT." Ucap aiza sweats pergi ke kamar mandi untuk mengabil wudhu untuk sholat istihoroh. Setelah selesai sholat istihoroh ais segera merapikan mukenahnya. Dan segera pergi ke pergi tidur. Tanpa Aiza sadari ada yang melihatnya yang sedang kebingungan. Tapi orang tersebut tidak mau bertanya. Dia berpikir mungkin ada hal oeribadi yang tidak mau Aiza ceritakan kepada orang lain. Setelah melihat Aiza merepikan mukenahnya dan pergi ke arah kasur untuk istirahat. Dia segera memejamkan matanya. Mereka tidur di kamar yang sama. Karna memang kasur aiza cukup untuk mereka berempat tidur di situ.
Keesokan hatinya di pagi hari. Di saat matahari belom memanjarkan sinyarnya. Yang masih nampak kegelapan karna sinar matahari belum menerangi pagi itu. Aiza terbangun untuk melaksanakan sholat subuh. Aiza juga mengajak ketiga sahabatnya itu untuk sholat subuh bersama. Ada yang mau dan ada yang tidak mau. Dengan alasan masih mengatuk. Jadi hanya aiza dan ara yang melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh mereka segera menuju ballin rumah kamarnya.
"Ais boleh gue tanya sesuatu?" Ucap ara setelah sampai di ballin rumanya.
"Haha sejak kapan kamu kalo nanya izin dulu ra!.." ucap Aiza
"ih, serius. Ara mau nanya hal penting benget" ucap ara
"Iya iya, mau nanya apa ara yang cantik pali purna, udah jangan cemberut gitu. Nanya ada kayak nya penting banget" ucap aiza
"Semalam gue lihat ais nangis selasai sholat. Jadi gue penasaran banget kenapa lo nangis" ujar ara. Ya ara memeng melihat ais menangis setelah sholat tadi malam. Sebenarnya ara tidak ingin menanyakan hal ini kepada aiza tapi semalamman dia tidak bisa tidur karna terus berpikir tentang ini semua.
"Hm, jadi kamu blom tidur malam tadi ra?" Ucap aiza yang kaget dengan pertanyaan ara.
"Ya gue udh tidur tapi, kebangun karna suara air dikamar mandi. Udah deh mending jawab aja pertanyaan ara. Jangan balik nanya dong" ujar ara yang mulai kesal dengan aiza
"Hm, gimana ya ra. Tadi malam ayah sama bunda niat nya mau menjodohkan ais sama bang Aqil" ucap aiza yang terpotong karna ara
"Ha..........yang benar. Trus lo jawab apa?" Ucap ara yang kaget dengan pernyataan aiza.
__ADS_1
"Ya ais blom jawab apa-apa. Namanya tadi malam ais istihoroh buat minta jawabannya. Ais belom terlalu kenal sama bang Aqil. Maka nya ais belom menjawab perjodohan itu." Ucap aiza dengan wajah yang melas
"Gimana sih ais. Kalo gue ya jadi lo. Gue mah langsung bilang mau aja sama bang Aqil. Dia ganteng dan akhlaknya juga baik. Suami idaman banget deh pokoknya" ujar ara
"Ya mau gimana lagi, ais percaya jika memang bang Aqil jodoh ais, maka ais akan mendapat jawabnnya nanti" ucap aiza yang tidak mau gegabah dalam memilih pasangan hidup.
Tak terasa kini matahari mulai memperlihatkan sinarnya Indah. Pancaran sinar yang akan mengawali semua aktifitas di luar sana. Segera mereka turun dan sarapan bersama sama. Karna mereka semuanya sudah selesai memoersih kan badan mereka. Hari pun sudah pagi, mereka semuanya pergi ke meja makan untuk sarapan. Di sana mereka melihat semua orang telah menunggu mereka. Mereka sarapan bersama. Setelah sarapan ketiga sahabat aiza segera pulang. Lagian mereka juga tidak pergi kuliah hari ini karna hari ini mereka libur. Mereka hanya kuliah empat hari seminggu jadi hari ini adalah jadwal libur bagi mereka. Setelah mengantarkan sahabatnya pulang Aiza langsung beristirah di kamarnya. Di kamar aiza sering menulis buku diary-nya . Aiza langsung mengabil buku diary-nya untuk menulis.
" Senja... Kau adalah penyemangatku... Dan rembulan yang cahayanya bersinar dengan di temani beribu bintang kecil yang mengelilinginya, kelihatan begitu Indah. Dan hamparan bunga yang ditamam kokoh ditanah, sangatlah memanjarkan mata bagi siapapun yang memandangnya. Sama seperti aku memandangimu kelak. Aku sangat ingin bertemu dengan jodohku siapapun itu. Aku berharap jika nanti kau datang dengan kedua orang tuamu kau bisa membahagiakan ku, Setiap saat. Aku ingin kau dan aku selalu bersama. Tapi aku juga takut jika suatu saat aku membuat keputusan yang salah. Maka karna itu aku serahkan semuanya kepada sang pencipta alam. Semoga segera memoertemukan kita. Aku hanya tidak mau jika aku melakukan kesalahan yang akan membuat aku menyesal dan membuat kedua orang tuaku malu nantinya. Maka karna itu aku ingin sekali bertemu dengan mu wahai jodohku. Aku takut malkukan kesalahan seperti menanyakan orang di luar sana. Aku tidak ingin membuat orang tuaku kecewa. Tapi sekarang orang tuaku ingin menjodohkan ku dengan dia, seseorang yang baru aku kenal. Tapi dia kelihatan begitu baik dan berakhlak mulia. Jika benar dia adalah jodoh yang dititipkan Allah untukku, maka aku siap untuk menerima ya. Tapi aku belum menentukan jawaban, apakah aku harus menerimanya atau tidak. Sekarang aku hanya bisa berdoa Semoga siapa pun jodohku segera di pertemuan denganku. Wahai jodohku Semoga kita bisa segera dipersatukan oleh sang pencipta. ____M.A____"
Ntah mengapa aiza selalu menuliskan insial M.A di setiap akhir menulis diary nya. Aiza mendapatkan inisial M.A itu dari mimpinya. Pada saat dia masuh duduk di bangku SMA dulu. Di saat itulah aiza bermimpi tentang inisial M.A itu. Di dalam mimpinya aiza melihat ada notif masuk yang berinisial M.A tapi Aiza juga tidak tau apa itu M.A. notif itu berisikan tentang satu kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu_ana antazrik_ itu lah notif yang tertulis dari seseorang yang berinisial M.A itu. Dan sejak itulah aiza sangat menyukai inisial M.A ntah apa alasannya dia pun tak tau.
Tak terasa sudah masuk waktu sholat zuhur. Aiza segera membersihkan diri dan mengabil wudhu untuk melaksanakan sholat zuhur. Setelah sholat zuhur aiza ingat bahwa dia harus belajar menghafal dengan Aqil. Aiza segera turun dan menuju ke kamar Aqil untuk mengajaknya belajar di ruangan keluarga di rumah itu. Dia tidak mau belajar di kamar Aqil. Dia takut akan menjadi masalah jika ada yang salah menyangka tentang mereka berdua maka lebih baik mereka belajar di ruangan keluarga saja. Setelah menyelesaikan hafalannya.
"Afwan, sebaiknya belajar lagi tentang tajwid lebih baik lagi. Ada yang salah dalam penyebutannya. Hanya itu selain itu semuanya sudah bagus." Ucap Aqil setelah mendengar Aiza menyetor hafalannya.
"Insyaallah, nanti ana akan bantu dek ais belajar lebih banyak lagi. Asal adek ais mau belajar pasti bisa" ucap aqil.
"Maaf bang boleh ais pertanya sesuatu?" Ucap ais dengan ragu.
"Iy silahkan. Selagi ana bisa jawab, insyaallah ana jawab"ucap Aqil
"Ais ingin tahu, kenapa abang mau menerima perjodohan dari orang tua ais?, Padahal kita baru bertemu kemaren bang" ucap aiza yang ragu takut salah bicara dan takut menyinggung Aqil dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Afwan dek, sebenarnya ana sudah mengagumi adek sejak awal bertemu dengan adek di taman waktu itu. Tapi jika dek ais tidak mau menerima perjodohan itu juga gak papa. Ana tidak mau memaksa dek ais untuk menerima perjodohan ini. " Ucap Aqil yang berterus terang kepada aiza kalo dia mengagumi aiza.
"Maaf bang, bukan bermaksud untuk menolak hanya saja Ais masih bingung harus menjawab apa." Ucap Aiza.
"Iya gak papa. Adek istiharah dulu supaya mendapatkan jawbanya" ucap Aqil.
"Baik bang. Adek juga mau nanya apa arti dari 'ana antazrik'?" Ujar Aiza yang mulai penasaran tentang notif dari seseorang yang berinisial m.a di dalam mimpinya itu.
"Arti dari kata 'ana antazrik' adalah saya menunggu!, Emang kenapa dek kok nanya itu" ucap Aqil yang penasaran maksud dari pertanyaan Aiza.
"HM.. jadi gini bang, adek pernah bermimpi ada seseorang yang menulis pesan ke hp adek yang bertuliskan ana antazrik. Tapi Ais gak tau apa artinya makanya Ais tanya ke Abang Aqil." Ucap Aiza terus terang.
"Afwan, sudah berapa lama Adek bermimpi itu?" Ucap Aqil yang seakan tau maksud dari mimpi itu.
"Hm... Kalo gak salah waktu Ais baru masuk SMA dulu Ais mimpi itu kak, emang kenapa kak" ucap Aiza penasaran kenapa Aqil ingin tau tentang hal itu.
"Apakah Ais tau siapa nama pengirim pesan itu?" Ucap Aqil. Bukannya menjawab malah kembali bertanya kepada Aiza
"Gak tau, Ais cuman tau tentang ana antazrik. Ais juga selalu mimpi itu sampai sekarang. Tapi Ais gak tau apa artinya. Setiap Ais selesai sholat istikharah Ais selalu mimpi itu kak. Tapi Ais pernah lihat tentang sebuah buku yang berjudul ana uhubbukafillah di sebuah kamar kak. Dan di situ Ais sering melihat ada seorang laki-laki yang maukanya gak bisa Ais lihat. Kenapa sih bang Aqil kayaknya tau tentang mimpi Ais itu" ujar Aiza
"Menurut ana itu adalah jawaban tentang jodoh dek Ais yang di berikan oleh Allah SWT. Lebih baik adek pikir-pikir lagi tentang perjodohan ini dan jangan lupa terus istiharah dek" ucap Aqil. "Afwan dek, ana duluan udah masuk waktu sholat ashar. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam." Ucap Aiza menjawab salah Aqil dan segera pergi ke kamarnya. Meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar Aiza segera melaksanakan shalat ashar. Aiza tidak pernah meninggalkan sholat nya. Aiza diajarkan oleh kedua orang tuanya supaya selalu menunaikan sholat lima (5) waktunya. Jangan sampai tertinggal karna urusan duniawi. Orang tua Aiza selalu mengajarkan anaknya tentang hukum meninggalkan sholat.
Sejak hari itu Aiza lebih dekat dengan Aqil karna selalu menghabiskan waktu bersama. Aiza mulai mengagumi sosok Aqil yang rajin, lemah lembut dan, berakhlak mulia. Aiza memikirkan untuk menerima perjodohan yang telah orang tuanya atur itu. Aiza yakin kalo Aqil adalah sosok suami idaman yang bisa membimbing dirinya lebih baik lagi. Aiza juga pernah melihat buku yang di dalam mimpinya itu di kamar Aqil. Hal itulah yang membuat Aiza lebih yakin untuk menerima perjodohan itu. Aiza mengingat apa yang dikatakan oleh Aqil dan apa yang ada di mimpinya itu. Aiza yakin seseorang yang ada di mimpinya itu adalah Aqil. Walaupun dia tidak bisa melihat wajah yang berada di dalam mimpinya itu dengan jelas.