Ana Antazrik

Ana Antazrik
awalan baru.


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan apa yang mereka bicarakan tadi malam. Ayah dan bunda mengantarkan Aiza ke pesantren Nurul hikmah yang berada di Bandung. Sedangkan Iqbal mengatakan Aqil pulang ke pesantrennya. Mereka pun pergi dan berpisah di jalan karna mereka tidak pergi ketempat yang sama jadi harus berpisah. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di pesantren yang akan menjadi tempat tinggal Aiza yang baru, ya walaupun untuk sementara.


"Assalamualaikum" ucap ayah Aiza


"Waalaikumsalam, eh ada tamu. Mari masuk pak buk!" Ujar kiyai Ahmad. Mereka pun berjalan di belakang kiyai Ahmad masuk kedalam rumahnya.


"Bagimu kiyai, maksud kami datang kesini ingin mengantarkan putri kami ke pondok pesantren ini. Apa boleh?" Ujar ayah Aiza


"Alhamdulillah, Boleh pak buk. Tentu sangat boleh. Kalau boleh tau namanya siapa neng?" Ucap seseorang seraya melihat kearah Aiza.


"Nama saya Aiza Marlina nyai, biasa di panggil Ais" jawab Aiza


"Nama yang cantik, panggil umi saja. Nama umi ayu Aulia, pra santri di sini memanggil dengan sebutan umi ayu" ucap seseorang itu. Ya orang itu adalah umi ayu istri dari kiyai Ahmad, dan ayu adalah ibu dari Arkan.


Setelah mendengar yang dikatakan oleh umi ayu Aiza hanya mengangguk pertanda mengerti dengan apa yang disampaikan oleh umi ayu tadi. Saat tengah asik berbincang-bincang terdengar suara seseorang masuk kedalam rumah itu.


"Assalamualaikum" ucap orang tersebut.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang yang ada di sana.


"Udah pulang Ar?" Tanya umi kepada Arkan. Ya seseorang yang masuk kedalam rumah tadi adalah arkan. Putra dari umi ayu dan kiyai Ahmad


"Ya mi. Hari ini cuman sebentar aja di kelas. " Jawab Arkan.


"HM, Arkan nanti kamu bantu nak Ais ya, buat mendaftar di kantor pesantren!" Pinta kiyai Ahmad.


"Na'am Bi."jawab Arkan seraya melirik sekilas kearah Aiza. Beberapa kali ia melihat kearah Aiza,dan pada akhirnya dia mengatakan"ukhty yang kemaren ketemu di mall ya?" Tanya Arkan.

__ADS_1


Aiza mengangkat kepalanya melihat seseorang yang tengah mengajak berbicara itu


"HM... iy ustadz" jawab Aiza dengan suara gugupnya.


"Oh, jadi ini temen kmu yang kmu bilang kemaren Ar!" Ucap kiyai Ahmad memastikan.


"HM.. iya Bi" jawab Arkan


Kiyai Ahmad hanya tersenyum dan mengangguk anggukan kepala. Dia tau maksud permintaan Arkan kemarin.


" Maaf umi, apa boleh Ais belajar disini lusa?"tanya Aiza.


"Tentu saja boleh nak. Umi malah seneng kamu cepat disini jadi pesantren tambah rame. Owh ya lebih baik kamu mendaftar di kantor pesantren dulu. Biar ustadz Arkan yang nemenin kamu" ucap umi ayu.


Ada hal yang aneh yang dirasakan oleh ayah dan bunda Aiza. Kenapa anaknya itu sangat bersemangat dan lebih terlihat semangat lagi sejak bertemu dengan Arkan. Ada hal yang aneh yang difikirkan oleh kedua orang tua Aiza, tapi dia tidak mengerti apa yang terjadi pada anaknya itu. Ada rasa ingin bertanya kepada anaknya itu tentang perubahan sifat anaknya itu. Kenapa dia ingin sekali masuk ke pesantren ini, padahal pesantren Nurul hikmah dan pesantren Nurul iman sama-sama besar dan mungkin jika dia mau di tempat Aqil dia bisa mendapatkan fasilitas yang lebih tidak seperti para ustadzah yang lain. Tak ingin menanyakan tentang perubahan sifat anaknya itu ayah hanya diam dan melirik kearah anaknya itu.


Aiza mengangguk ikut berjalan di belakang Arkan. Aiza hanya diam saat berada di belakang Arkan. Di tengah perjalanan yang sudah keluar dari rumah kiyai Ahmad. Aiza baru berani membuka suaranya.


"Ustadz ini kemaren Ais gak sengaja menemukan buku ustadz yang tertinggal saat jatuh di mall kemaren." Ucap Aiza dengan gugup seraya memberikan buku itu kepada Arkan


"Na'am. Syukron ya. Pantas saja saya mencari buku ini kemaren tidak ketemu. Jika kamu gak biasa manggil ustadz panggil saja senyaman kamu." ucap Arkan dan mengambil buku yang diberikan oleh Aiza.


"Iya mas, maaf Ais juga lancang telah membaca isi buku itu. Ais hanya ingin memastikan pemilik buku itu aja mas" ucap Aiza, walaupun gak jujur apa alasannya membaca buku itu tapi setidaknya dia telah jujur karna telah memberi tahu Arkan bahwa dia telah membaca tulisan yang ada di buku itu.


"Ya gak papa. Ya sudah yuk lanjut lagi. Bentar lagi sampe" ucap Arkan ya sebenarnya dia agak keberatan karna Aiza membaca buku diary nya, tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalannya menuju kantor pesantren. Setelah pembicara tadi Aiza dan Arkan hanya diam tanpa mengeluarkan suaranya. Aiza hanya asik dengan dikiranya sendiri.

__ADS_1


"semoga ini awalan hari-hari yang baik untuk kedepannya mas. semoga dengan Ais disini Ais lebih bisa mengenal mas Arkan. Ais sangat ingin mengenal mas Arkan lebih jauh lagi mas. tapi sejujurnya Ais ingin selalu berada di samping mas Arkan di setiap waktu." ucap Aiza dalam hatinya. Aiza terus berbicara dalam harinya tanpa sengaja dia menabrak tubuh Arkan.


"awwwwww......" ucap Aiza


"Afwan Ais. gak papa kan" ucap Arkan seraya membalik badannya menatap Aiza yang tak sengaja menabrak punggungnya.


"eh, gak papa mas. lagian kenapa berhenti mendadak sih mas Arkan?" ucap Aiza.


sedangkan Arkan hanya tersenyum dengan pertanyaan yang diberikan oleh Aiza." makanya ukhty Ais lebih melihat dengan jelas lagi. jangan melihat kebawah trus. ya saya tau menjaga pandangan itu baik tapi harus liat jalan juga. ini kan kita udah sampai ukhty" ucap Arkan


Aiza hanya tersenyum malu karna keasikan dengan fikirannya sendiri sampai menabrak punggung Arkan dan tidak menyadari mereka udah sampai di kantor pesantren. mereka pun masuk kedalam kantor pesantren tersebut.


"assalamualaikum" ucap Arkan


"waalaikumsalam, waahh Gus Arkan udah bawa akhwat aja ke kantor. siapa nih Gus calon istri ya" ucap ustadz Reza.


"eh gak tadz, ini salah satu ustadzah disini. dia abdian sini ustadz. owh ya ukhty silahkan ke ruangan itu, di situ khusus tempat para ustadzah." ucap Arkan pada Aiza .


Aiza melangkah kakinya menuju tempat yang dimaksud oleh Arkan. namun tiba-tiba saja kaki Aiza menabrak sesuatu.


"aaaaaaaaaaaaaa..........." teriak Aiza saat tubuhnya kehilangan keseimbangan, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik bajunya dengan kuat sehingga Aiza bisa terjatuh di sebuah Kursi bukan di lantai.


para ustadz yang berada di itu seakan-akan sedang menonton drama romantis ala pesantren. karena kejadian itu para ustadz yang berada di situ malah ledek ustadz Arkan atau yang biasa mereka panggil dengan sebutan Gus Arkan.


pandang keduanya seketika bertemu. mereka menatap mata satu sama lain. ada sesuatu rasa yang aneh yang mereka rasakan.


"Gus... mending cepetan deh halallin. kayaknya tuh mata udah gak sabr untuk saling pandang-pandangan." ledek ustadz Fikri yang melihat kejadian itu. Arkan dan Aiza yang menyadari bahwa mereka saling menatap segera tersadar dan beralih dari posisinya saat ini.

__ADS_1


"Afwan Ais. lain kali tolong lebih hati-hati lagi" ucap Arkan seraya pergi dari tempat itu dan mencari tempat yang lebih nyaman menurutnya itu.


__ADS_2