Ana Antazrik

Ana Antazrik
part lanjutan


__ADS_3

Setelah mendapat paksaan dari Aiza, Aqil segera menuruti perkataan Aiza. Mereka segera pergi ke meja makan. Disana telah tersedia makan yang dimasak oleh bik Inah. Ya sebelum pertemuan dengan Aqil Aiza sempat bertemu dengan bik Inah terlebih dahulu. Dia meminta bik Inah untuk memasak makanan untuknya dan juga Aqil. Mereka segera duduk dan makan makanan yang sudah disediakan oleh bik Inah untuk mereka. Disaat makan Aiza juga bertanya kepada Aqil tentang suasana dan peraturan yang ada di pesantren dan Aqil menjelaskan semua tentang yang ditanyakan oleh Aiza. Ada rasa khawatir yang Aiza rasakan saat mendengar penuturan dari Aqil. Aiza takut dia tidak sanggup hidup di pesantren, tapi dia juga memikirkan laki-laki yang tak sengaja dia temui di mall tadi. Ya laki-laki itu lah yang membuat Aiza ingin masuk dan mengabdi di pesantren. Walaupun ilmu yang dia punya tidak sebanding dengan para ustadz dan ustadzah yang ada di sana, tapi dia tetap bertekad untuk masuk ke pesantren karna itu semua dia lakukan demi Arkan.


"Ahem, ciee yang udah kayak suami istri lagi makan bareng aja kalian tuh" ucap Iqbal yang mengagetkan Aiza dan Aqil. Karna Iqbal tanpa mengucapkan salam tiba-tiba langsung membuat kaget dan menggoda adiknya itu.


"ISS, apaan sih bang Iqbal. Ngagetin Ais aja" ucap Aiza dengan nada kesal kepada Iqbal.


"Hhmm, makan bal?" Tanya Aqil dengan suara yang ragu dan terdengar agak canggung itu.


"Eh gak qil makan aja. Saya udah makan tadi sebelum pulang." Ucap Iqbal yang melihat ke arah Aqil"owh ya dek, tadi t abang udag ngucap salam tadi kalian aja yang terlalu terbawa suasana jadi gak dengar" tambah Iqbal yang semakin membuat Aiza kesal.


"Is, bang Iqbal apaan sih" ucap Aiza dengan nada suara yang menunjukkan kalo dia sedang kesal kepada Iqbal.


"HM, ya udah maaf ya abang udah gangguin kalian makan. Ya udah lanjut aja abg mau istirahat dulu" ucap Iqbal." Oh ya qil, jangan macam-macam ya sama adek gue" tambah Iqbal sembari tersenyum licik ke arah Aiza. Ya dia sebenarnya hanya ingin menjahili adik satu-satunya itu.


"Abangggggg" teriak Aiza kepada Iqbal, karna Iqbal sudah melangkah menuju ke arah kamarnya untuk beristirahat. Tapi Iqbal hanya tersenyum menanggapi teriakan adiknya itu. Sedangkan Aqil hanya diam dan melanjutkan makan nya dengan rasa canggung karna ulah Iqbal tadi.


Setelah kepergian Iqbal dari meja makan, Aiza dan Aqil melanjutkan makannya dengan rasa canggung satu sama lain. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka. Setelah selesai makan Aiza dan Aqil pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat dan menunggu waktu Ashar. Sempainya di kamar Aiza segera merebahkan dirinya di atas kasur dan memandang langit-langit kamarnya.


"Mas Arkan, ntah kenapa Ais merasakan sesuatu hal yang aneh saat bertemu dengan mas Arkan untuk pertama kalinya. Ais ingin sekali selalu ada di samping mas Arkan. Semoga semua yang kurasakan ini mas Arkan juga merasakan nya. Ais gak tau apa arti dari semua ini yang jelas satu keinginan Ais yaitu untuk bisa selaku berada di samping mas Arkan kemanapun mas Arkan pergi. Dan setelah itu Ais ingin bahagia bersama mas Arkan. Semoga Allah mendengar apa yang Ais inginlan. Dan Allah SWT mengabulkan semuanya.. Aamiin" ucap Aiza bermunolok dengan dirinya sendiri seraya mengucapkan doa dan ke inginannya itu.


Ais mengucapkan hal itu seraya memegang buku yang dia temukan di mall tadi. Aiza juga membuka dan membaca isi buku itu. Dan semua yang ada di buku itu adalah curahan isi hati Arkan. Ternyata Arkan juga sering menuliskan diary. Dari buku itu Ais semakin banyak belajar tentang kepribadian Arkan. Setelah membaca diary Arkan tak terasa waktu menunjukkan waktunya melaksanakan shalat ashar. Aiza segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat ashar.


Setelah melaksanakan sholat ashar dan memanjatkan doa kepada sang penciptanya, Aiza segera merapikan mukenah dan sajadahnya. saat setelah repikan semuanya Aiza mengambil buku diary nya.


"Salahkah aku yang secara diam mengagumimu. Padahal aku baru pertama kali bertemu dengan mu. Aku belum tau semua tentang dirimu, bahwan sedikit gak saja Tentang dirimu aku tidak mengetahuinya. Tapi ntahlah perasaan ini terus menuju kepadamu. Fikiran ini juga selaku tertuju padamu. Aku sangat ingin melihat mu lagi. Kau bagaikan mentari yang akan menemaniku disetiap hariku dan kau juga sebagai rembulanku yang akan menemaniku di saat malam datangnya kegelapan. Akan ku usahakan semampuku untuk bisa mengenalmu lebih dekat lagi. Maka dari itu telah aku putuskan untuk pergi ke tempat dimana kau berada yaitu di pesantren. Walaupun aku tidak yakin dengan keputusan ku sendiri tapi aku akan berusaha untuk itu. Tunggu aku mas Arkan. Ntah lah sejak aku melihat tulisan inisal itu di bukumu aku menjadi ragu untuk menerima perjodohan yang telah ayah dan bunda berikan kepada ku. Insyallah sekarang aku tahu arti dari semua ini. Arti dari kata ana antazrik dan M.A itu. Kata itulah yang membuat ku yakin kalo kau adalah jodohku. Semoga saja aku benar mas. (Ana antazrik mas Arkan) ~M.A~


Setelah menuliskan isi hati di buku diary itu Aiza meletakan buku diary nya di tempat biasa, dan dia juga mengambil buku Arkan yang tadi. Ada rasa ingin tahu tema semua isi buku itu. Maka dari itu Aiza melanjutkan membaca isi buku itu.


Sedangkan di tempat lain ada seseorang yang tengah terlihat sedang mencari sesuatu di atas mejanya. Dia menjadi di setiap rak dan laci mejanya. Dia mencari buku diary. Ya orang itu adalah Arkan tengah sibuk mencari bukunya. Buku Arkan selalu ada tulisan yang sama seperti di buku diary nya.


"Ya Allah, dimana buku diary ku. Perasaan buku itu selaku aku bawa kemana aku pergi" ucap Arkan sembari tangannya masih mencari buku itu. Dia membolak balik semua buku yang ada di mejanya dan semua buku yang ada di tasnya tapi nihil Buu itu tak di temukan.


Setelah lama mencari akhirnya Arkan menyerah dan merebahkan dirinya di atas kasurnya sembari menatap langit-langit kamar. Dia sembari perfikir dimana dia meletakan buku itu.


"Astaga... Apa buku itu tertinggal waktu terjatuh di mall tadi?" Ucap Arkan yang teringat dimana semua buku-bukunya terjatuh waktu di mall tadi. Di saat Arkan sedang memikirkan tentang buku diary nya itu. Tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Kan... Arkan" ucap seseorang itu


"Iya, masuk aja ni pintunya gak Arkan kunci kok" jawab Arkan sembari duduk di samping ranjangnya itu. Orang itu salah uminya Arkan. Orang yang telah melahirkan dan membesarkan Arkan.


" Kenapa kok keliatannya Arkan lagi ada masalah?" Ujar umi


"Gak ada masalah kok mi. Cuman Arkan lagi kehilangan buku Arkan. Arkan gak tau dimana" jawab Arkan

__ADS_1


"Emang buku apa yang hilang?" Tanya umi


"HM, gini buku itu... Gak ada mi cuman buku biasa aja" ucap Arkan mengelak karna dia tidak mungkin memberi tahu uminya tentang buku diary nya itu.


"Owh yaudah nanti kalo umi ngeliat buku, nanti umi kasih tau. Ya udah sekarang kamu siap-siap ke masjid. Karna bentar lagi Magrib. Kali ini kamu yang jadi imam di masjid. Abi gak bisa!" Ucap umi yang memberi tahu maksud kedatangan ke kamar arkan.


"Kenapa mi?" Tanya Arkan.


"Abi mendapatkan tawaran dari sahabatnya untuk mengisi tausia di acara rumahnya" ujar umi.


"Owh gitu ya mi, ya udah Arkan siap-siap dulu" ucap Arkan


"Ya udah umi keluar dulu ya" ucap umi seraya berdiri dan melangkah keluar kamar Arkan.


Setelah kepergian uminya Arkan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Arkan segera bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya untuk sholat Maghrib. Arkan segera melaksanakan sholat Maghrib. Setelah melaksanakan shalat Maghrib Arkan juga memberi sedikit tausiah kepada para santrinya itu. Ya sitiap selesai sholat Maghrib selalu ada tausia yang di sampaikan oleh para ustadz. Sampai tiba waktunya untuk sholat isya baru lah para ustadz memberhentikan tausiah yang dia sampaikan.


Tak terasa para ustadz menyampaikan tausiah nya cukup lama. Kini tibalah waktunya untuk melaksanakan shalat isya. Akhirnya semunya yang ada di masjid itu melaksanakan sholat isya. Setelah melaksanakan sholat isya mereka segera bubar. Pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat Arkan segera pulang ke rumahnya.


"Assalamualaikum" ucap Arkan setelah sampai di depan rumah nya dan membuka pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam. Udah pulang!. Ya udah makan makan yuk" ujar umi kepada Arkan.


"Ya mi, Abi udah pulang mi?" Tanya Arkan yang berjalan menuju meja makan.


"Belom, Abi bilang dia pulangnya agak telat. Makanya kita makan duluan aja" ucap uminya.


"Ada di kamar di lagi gak enak badan katanya. Makanya gak keluar kamar untuk makan nanti biar umi yang antar aja ke kamar sekalian umi mau kasih obat nanti" ujar uminya yang hanya di anggukan oleh Arkan.


Sekarang keduanya makan tanpa ada suara. Hanya suara sendok yang beradu dengan pirang yang terdengar di mana makan. Setelah selesai makan Arkan mengambil piring dan mengisi makan untuk di antarkan ke adiknya yaitu Faris.


" Umi biar Arkan yang antarkan ke kamar Faris. Umi kan capek juga" ucap Arkan yang hanya dianggukan oleh uminya. Arkan segera pergi ke kamar Faris. Arkan dan Faris hanya berjarak umur sekitar 2 tahun. Mereka sama-sama tampan dan dan Sholeh.


"Assalamualaikum" ucap Arkan yang membuka pintu kamar Faris.


"Waalaikumsalam" jawab Faris dengan suara yang lemes seperti orang sakit.


"Makan dulu ya supaya ente cepet sembuh dia" ucap Arkan yang duduk di samping adiknya itu.


"Ya mas, nanti Faris makan. Sekarang Faris lagi gak berselera makan mas" ucap Faris.


"Ya ente gimana sih, namanya juga orang sakit udah pasti gak selera makan. Ya setidaknya ente makan dikit aja supaya bisa minum obat. Emang ente mau nyusahin umi" ucap Arkan


"Ya udah sini. Makannya biar Faris makan" ucap Faris sembari duduk karna dari Arkan masuk tadi dia hanya berbaring.

__ADS_1


"Nih" ucap Arkan seraya menyerahkan piring yang berisi makanan itu kepada Faris dan di ambil oleh Faris dengan tangannya yang agak lemas itu.


Setelah selama menemani Faris makan dan meminum obatnya, Arkan segera pergi dan membersihkan piring kotor tadi dan meletakannya di tempat seharusnya. Setelah selesai Arkan segera melangkah ke kamarnya. Sesampai di kamar Arkan masih mencari dimana bukunya itu. Setelah lama mencari masih tidak ditemukan. Arkan segera mengambil sebuah buku di atas mejanya dan membaca buku itu.


Sedangkan di tempat lain terlihat ada sebuah keluarga yang tengah berkumpul di rumah keluarga.


"Jadi gimana Ais? Soal yang kemaren "tanya ayah kepada Aiza


Aiza yang telah tau arah berbicaraanya menjawab dengan ragu" hmm, maaf ya aisss rasa Ais gak bisa menerima perjodohan ini yah" ucap Aiza dengan ragu.


"Tapi kenapa? Bukankah nak Aqil orang yang baik" ujar bunda


"Ya kak Aqil memang orang yang baik, tapi Ais tidak memiliki perasaan apa-apa kepada mas Aqil. Sekali lagi Ais minta maaf Bun. Ais terpaksa menolak perjodohan ini" ucap Aiza


"Ya gak papa Bun, Aqil terima kok. Mungkin Aqil sama Ais gak berjodoh" ucap Aqil. Sebenarnya dia kecewa tapi dia juga tidak bisa memanfaatkan kehendanya


"Maaf ya qil. Kami juga tidak bisa memaksakan kehendak kami kepada Aiza" ucap umi dengan suara yang agak kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Aiza tadi.


"Na'am Bun gak papa, Aqil ngerti kok. HM, Aqil juga mau bilang. Sebenarnya Aqil udah kasih tau ke Ais bahwa besok ke mungkinkan Aqil pulang ke pesantren. Tadi api menelfon, minta Aqil pulang karna banyak pekerjaan yang harus Aqil lakukan di sana" ucap Aqil


"Kok tiba-tiba gitu qil" tanya Iqbal


"Abi menelfon pagi tadi karna semua orang tidak ada di rumah makanya Aqil baru bisa ngasih tau sekarang" ucap Aqil "tadi Ais juga bilang kalo dia mau mengabdi di salah satu pesantren yang berada di Bandung" tambah Aqil.


"Benar itu Ais?" Tanya ayah yang hanya di anggukan oleh Aiza.


"Kenapa gak di tempat Aqil aja Ais. Kan bisa sekalian besok" ucap bunda


"Gak Bun, Ais kenal dengan salah satu ustadz di sana. Tadi kita gak sengaja bertemu di mall. Ais juga udah bilang kalo Ais bakal kesana. Gak enak lah kalo Ais batalkan" ujar Aiza.


"Ya sudah yang penting Ais benar-benar berbuat baik disana jangan mempermalukan kedua orang tua" ucap ayah


"Lah trus kuliah kamu gimana?" Tanya Iqbal.


"Udah Ais urus tadi. Ais minta supaya Ais bisa kuliah online saja" ucap Aiza


"Ya udah, yanc oenting jancan sampai perkuliahan Ais terganggu. Ayah bakal dukunv semua yang Ais mau selagi itu yang baik-baik" ujar ayah


"'iya yah. Makasih ya udah izinin Ais" ucap Aiza sembari tersenyum.


"Ya udah besok ayah sama bunda yang bakal antar Ais ke sana. Dan Iqbal bakal antar Aqil beso ya nak" ucap bunda


"HM gak usah Bun. Aqil bisa sendiri kok" ucap Aqil

__ADS_1


"Gak papa qil, saya juga gak ada kerjaan besok" ucap Iqbal


"Nah bener. Ya sekalian mana tau bang Iqbal bisa ketemu jodoh di pesantren besok" ucap Aiza yang membuat suasana ruangan menjadi tidak canggung seperti tadi.


__ADS_2