Anak Dari Pria Lain

Anak Dari Pria Lain
Bab 15


__ADS_3

Dia sudah lelah berdebat dengan orang-orang yang keras kepala seperti Pak RT.


"Ya sudah jika itu yang Leon mau. Lakukan saja. "


Ucap kakek Irwan.


Istri pak Asep nampak sedikit tidak suka dengan keputusan ini. Karena mereka belum menyiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan anak semata wayangnya.


"Pah, gak bisa begini dong, kita kan belum menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan anak kita pah. "


Ucap istri pak Asep.


Pak RT menjelaskan tentang pernikahan yang akan di laksanakan besok pagi.


Pernikahan itu akan dilakukan di masjid, yang penting akad dulu agar mereka resmi menjadi suami istri yang sah. Masalah resepsi atau yang lain itu urusan keluarga mereka. Tugas RT hanya menikahkan mereka berdua di masjid.


"Kamu gak malu mas... ? Kamu kan yang punya perusahaan, barangkali kamu gengsi. "


Tanya Dara.


"Ini kan kesalahan aku yang udah ngajak kamu, dan gara-gara aku kamu jadi pulang semalam ini. "


Jawab Leon dengan ekspresi siap dan ikhlas.


Mau tak mau mereka memang harus menikah besok.


Karena rumah orangtua Leon jauh, terpaksa mereka harus menginap di rumah kakek.


Kakek pulang dengan orangtua Leon. Sedangkan Dara dan Leon masih berada di pos. Menurut Dara ini tidak adil. Peraturan yang sangat memaksa, apalagi soal nikah yang akan dijalani seumur hidup. Benar-benar kejadian yang tidak pernah di sangka.


Dara menatap wajah Leon yang sudah tidur sambil duduk di teras, wajahnya ditutupi jaket, supaya ekspresi tidur dia tidak terlihat oleh beberapa orang di sekelilingnya, sementara Dara tidak bisa tidur.


"Gila, nih nyamuk banyak banget sih, tangan Leon di gigitin terus, kasian dia. "


Ucap batin Dara sambil membunuh nyamuk yang menempel di tangan Leon.


*****


Pagi kemudian.


Akad akan di laksanakan pada jam 09.00 pagi. Bertempat di masjid Al-ikhlas, dekat dengan pos. Pak RT juga sudah menyiapkan penghulu untuk menikahkan mereka berdua.


Orangtua Leon masih berada di rumah kakek, mereka juga menikmati pagi di rumah kakek dengan hangatnya secangkir kopi dan teh buatan Tia, cucu kakek.


Tia merasa heran dengan keberadaan orangtua Leon disini.

__ADS_1


"Tumben banget sih mereka nginep disini. Oh iya gue jadi kepikiran sama Dara, kok Dara gak ada yah, Leon juga gak ada. Apa mereka berdua kabur, terus orang tua leon nyariin mereka yah. "


Ucap batin Tia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Kakek yang tadinya berada di belakang kini menghampiri Tia. Dia memanggil Tia dan menyuruhnya membelikan nasi padang untuk ayah dan ibu Leon.


"Tia, tolong belikan nasi padang untuk mereka, ini uangnya. "


Ucap kakek Irwan sambil memberikan uang lembaran berwarna merah.


Kakek sengaja membelikan mereka makanan di luar, karena jika mereka memakan masakan Tia, takutnya mereka tidak suka dengan masakan Tia, yang rasanya jauh berbeda dengan masakan Dara.


"Heran deh sama kakek, aku kan masak, ngapain kakek beliin mereka nasi padang. Apa masakan aku kurang enak ya menurut kakek. "


Ucap batin Tia sambil berjalan keluar.


Kelakuan kakek terhadap Tia lama-lama membuatnya merasa benci. Karena kakek selalu pilih kasih, dan Tia juga merasa bahwa dia tidak pernah di beri kasih sayang oleh kakek.


Tia membeli nasi padang di pinggir jalan, yang letaknya lumayan jauh jika jalan kaki. Dia juga melewati pos, dan melihat Leon serta Dara sedang berada di dalam pos itu.


"Loh mereka ngapain disitu. Oh ya..! Aku tau. Pasti mereka berbuat yang tidak-tidak sampai mereka berdua di bawa ke pos. "


"Ini adalah berita bagus buat aku, aku akan menyampaikan hal ini kepada Ali, mendengar hal ini Ali pasti sangat marah dan gak cinta lagi deh sama Dara. "


Ucap batin Tia sambil melihat Dara dan Leon dari kejauhan.


"Ini kek, pesenan kakek. Ini kembaliannya juga. "


Ucap Tia sambil memberikan bungkusan nasi padang, juga uang kembalian.


"Buat kamu aja kembaliannya. "


Jawab kakek.


Kakek menyiapkan makanan untuk mereka yang sedang berada di ruang tamu, dia mengambil dua buah piring dan dua sendok, di lengkapi dengan penampan untuk mengantar makanan itu.


"Silakan di makan pak Asep dan bu Yuli. Maafkan saya, hanya seadanya. "


Ucap kakek Irwan.


"Iya gak papa kek makasih banyak loh ini sudah di sediakan sarapan buat kita. "


Jawab pak Asep dan istrinya.


Kakek kepikiran dengan orangtua Dara yang belum mengetahui tentang hal ini. Dia takut kalo dianggap tidak becus dalam menjaga cucunya. Tapi bagaimanapun juga dia juga harus mengerti bahwa anaknya akan menikah.

__ADS_1


Ketika kakek sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba orangtua Leon menanyakan tentang orangtua Dara di luar kota.


"Kek..? Apa ayah dan ibu Dara sudah tau kalau mereka akan menikah...? "


Tanya bu Yuli, istri pak Asep.


"Ini terlalu mendadak, mereka juga belum bisa dihubungi, jadi ya belum tau. "


Jawab kakek Irwan.


Gereget sekali jika hal ini terus dibicarakan, hanya masalah pulang malam saja, bisa berakhir pemaksaan menikah. Benar-benar peraturan yang buruk.


******


"Kalian sudah siap...? Sebentar lagi penghulu akan datang dan menikahkan kalian berdua. "


Ucap Pak RT.


Dara nampak sangat kesal dengan keadaan ini.


Pak RT pamit pergi kepada Dara dan Leon, untuk memanggil kakek Dara dan orangtua Leon.


Pak RT berjalan kaki menuju rumah kakek Dara. Badannya yang gendut membuatnya berjalan pelan, rambutnya agak keriting, suka sekali memakai peci, setiap hari juga memakai kacamata.


Di setiap langkah, para warga yang bertemu dengannya selalu menyapa dengan senyum.


Semua orang penasaran dengan langkah pak RT yang tiba-tiba mendatangi rumah kakek Irwan.


"Ada apa yah dengan kakek Irwan, tumben sekali dia datang ke rumah kakek. Atau mungkin dia mau pijat kali yah. "


Ucap salah satu tetangga yang penasaran.


Tia mendengar percakapan tetangga itu. Dengan lancang, dia memberitahu tetangga tentang apa yang terjadi dengan Leon dan Dara.


"Kalian mau tau ibu-ibu...? Leon dan Dara yang baru kemarin-kemarin tunangan, akan di nikahkan hari ini juga. "


Ucap Tia terang-terangan.


Ibu-ibu yang mendengarkan kata-kata Tia juga kaget, karena mereka belum lama bertunangan. Fikiran negatif akhirnya keluar dari otak para tetangga. Mereka mengira bahwa Dara dan Leon sudah melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.


"Kalau sudah kejadian begini sih lebih baik sesudah mereka menikah, Dara harus ikut suaminya. Soalnya takut terjadi apa-apa di desa kita seperti dulu. "


Ucap salah satu tetangga.


"Bener juga tuh, lebih baik dia pindah rumah daripada bawa sial nantinya. "

__ADS_1


Jawab tetangga yang lain.


__ADS_2