
"Sayang... Maafin aku yah, hari ini aku pulang malam. Aku pake nomor Toni, HP aku lowbet baru aku charger. "
Ucap Leon menggunakan HP Toni.
Rasanya takut jika Leon pulang malam, karena Dara hanya sendiri di rumah. Dia menyalakan televisi yang terpasang di kamar. Masih saja rasa takut itu datang. Akhirnya dia kembali online ke Media sosial.
Ternyata masih ada pesan dari Ali. Dara kembali tanya jawab dengan Ali. Ali masih belum puas jika hanya mendengar suaranya saja. Dia lanjut vidio call. Awalnya Dara sangat takut, dia takut suaminya tiba-tiba muncul di belakang dan mengetahui bahwa istrinya masih menyimpan rasa dengan masa lalunya.
Dara mengunci pintu depan, agar Dara bisa tau kepulangan suaminya.
"Rasanya se takut ini, mengangkat vidio call dari kamu. "
Ucap Dara.
"Ya namanya juga sudah menikah, pasti punya batasan. "
Jawab Ali mengerti.
"Kenapa kamu masih mau menghubungi aku...? Bukankah kamu tau kalau aku sudah menikah...? "
Tanya Dara penasaran.
"Aku masih cinta sama kamu. Meskipun kamu sudah menjadi milik orang lain. "
Jawab Ali dengan jujur.
Dara bingung harus berbicara apa kepada Ali, mereka saling diam sambil memikirkan tema berbicara.
*****
Toni menunjukkan sebuah klinik. Banyak orang yang promil ditempat itu, dan banyak juga yang tes DNA di klinik itu, tempatnya sudah terpercaya sehingga tidak diragukan lagi.
"Gue kepikiran kata-kata lu beberapa tahun yang lalu bro. Makanya gue minta lu buat anterin gue kesini."
Ucap Leon.
"Elu sih gak percaya sama gue dibilangin dari dulu. "
Jawab Toni.
"Yaudah besok gue coba kesana sama istri gue. "
Leon hanya ingin mengetahui dimana letak klinik itu. Setelah tau tempat itu, Leon langsung putar balik dan berkata akan ke tempat itu besok dengan istrinya.
Satu jam kemudian.
Suara tlakson mobil terdengar dari luar. Belum sempat Dara menghapus semua penelusuran yang ada di HPnya, Dara langsung pergi ke depan untuk membuka pintu.
"Suamiku.. Ayo masuk. "
Ucap Dara dengan sambutan hangat.
Leon membalas sambutan Dara dengan senyuman yang manis.
"Sayang... Aku bawa makanan nih, kita makan bareng yah. "
__ADS_1
Ucap Leon sambil mengeluarkan tiga bungkus pizza yang berbeda rasa.
Dara lupa mematikan data seluler. Dia masih online sosial media.
Saat Dara sedang menyiapkan pizzanya di meja, tiba-tiba saja HPnya bergetar. Dia menaruhnya di saku celana.
"Siapa yang telfon malan-malam begini sayang...? "
Tanya Leon dengan lembut.
"Emm... Ini si Tia, paling dia mau curhat tentang cowonya. Aku matiin dulu yah. "
Jawab Dara tidak jujur.
"Kok di matiin...? "
Tanya Leon lagi.
"Iya besok aja curhatnya. Malam ini aku mau menikmati waktu sama kamu mas. "
Jawab Dara dengan senyum yang menggoda.
"Yasudahlah terserah kamu kalo maunya begitu. "
Kata Leon dengan membalas senyum kepada Dara.
Leon sama sekali tidak curiga dengan Dara yang biasanya tidak pernah menerima telepon dari siapapun.
"Sayang. Besok kita ke klinik yah. "
Ucap Leon sambil membelah pizza.
Tanya Dara panik.
"Kita cek kandungan. "
Jawabnya singkat.
Dara menganggukan kepalanya, pertanda bahwa dia mau untuk pergi ke klinik besok.
"Untung saja dia tidak curiga dengan isi HP ku. Huuufftt... Aman deh. "
Ucap batin Dara.
Sepertinya Leon mengantuk. Dara merasa aman karena dia tidak curiga dengan isi HP Dara.
******
Di sana kakek masih kepikiran dengan Dara. Kakek khawatir dengan Dara. Dia takut terjadi sesuatu terhadap Dara.
Kakek hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Dara, karena dia tidak bisa datang ke rumahnya.
Tiba-tiba saja kakek teringat Ali, dan menanyakan lewat Tia tentang Ali. Kakek bertanya kepada Tia, tentang status Ali sekarang.
"Tia. Kamu tau gak, gimana kabar Ali sekarang. "
__ADS_1
Tanya kakek.
"Dia berlayar kek. Dia benar-benar mengubah hidupnya. Dia sudah punya segalanya. "
Jawab Tia dengan jelas.
"Oh ya. Lalu, apakah dia sudah menikah...? "
Tanya kakek lagi.
"Dia belum menikah kek, mungkin dia mau ngejar karir dulu deh. Dia juga punya cita-cita buat rumah. "
Jawab Tia.
Jawaban Tia membuat kakek sangat yakin bahwa ini ada hubungannya antara Ali dengan Dara. Dia takut Ali menghubungi Dara kembali dan terjadi perselingkuhan antara mereka.
Hati kakek tidak bisa tenang, karena mimpi itu masih menghantui kakek.
*******
Pagi kemudian. Leon dan Dara bersiap untuk pergi ke klinik untuk mengecek kandungan Dara dan juga Leon.
Di situ mereka akan tau siapa yang tidak bisa mempunyai keturunan. Dan apa penyebabnya.
Selama ini haid Dara lancar sekali, seperti tidak ada kemungkinan bahwa Dara mandul. Dia ingin membuktikan kepada ibu mertuanya bahwa Dara tidak mandul.
Saat tiba di klinik, mereka berdua di periksa, dan diminta untuk tes urine pada keduanya. Hasilnya ditunggu selama satu jam lamanya.
Sambil menunggu hasil, Dara dan Leon pergi ke depan untuk menikmati jajanan seadanya. Mereka hanya mendapati sebuah warung kecil di depan yang menyediakan roti dan air mineral.
Setelah satu jam menunggu, hasil dari tes akhirnya keluar. Dara tak sabar ingin tau tentang hasilnya. Mereka menepi ke sebuah tempat, kemudian sedikit merobek amplop yang diberikan oleh dokter.
"Yang... Kita sebaiknya buka di rumah aja. Daripada disini, nanti kaget liat hasilnya. "
Ucap Dara.
Mendengar kata-kata Dara Leon langsung berhenti merobek bagian amplop untuk membukanya.
"Yasudah, bener juga apa kata kamu. Kita pulang saja yuk. "
Ucap Leon meminta untuk segera pulang.
Mereka berdua kembali memasuki mobil dan segera meninggalkan klinik itu.
*****
Orang tua Dara diam-diam memikirkan Dara disana. Sebentar lagi dia akan pulang, dan berniat akan kembali mengunjungi Dara dan juga mertua Dara. Mereka tidak tahu apa yang terjadi selama lima tahun ini.
Bu Yuli semakin menjadi ibu mertua yang tegaan, berbeda dengan pak Asep yang semakin hari semakin baik kepada Dara.
Namanya juga hidup tidak ada yang sempurna. Hubungan Dara dengan suami baik-baik saja, tetapi hubungannya dengan mertua perempuan menjadi renggang gara-gara sampai saat ini Dara belum bisa memberikan momongan untuk mereka.
"Aku akan datang ke rumah Dara dan memberikan ini kepada Dara. "
Ucap batin ibu Claudia sambil memegang bubuk zuriat yang terbuka dari buah zuriat. Bubuk ini akan tahan lama bila disimpan di tempat kering.
__ADS_1
Bu Claudia menyimpan bubuk zuriat itu di lemarinya. Kemungkinan dia akan pulang sebulan lagi. Dia sengaja membeli bubuk zuriat lebih awal, karena stok bubuk zuriat itu selalu kehabisan di tokonya, serbuk zuriat itu sangat di percaya untuk program hamil.
Bu Claudia sempat khawatir dengan keadaan Dara yang tak kunjung hamil, dia takut rumah tangga Dara berantakan gara-gara hal itu.