
" maksudmu apa tuan?"
"apakah pertanyaanku kurang jelas?" tampa mau menjelaskan maksud dari pertanyaan nya. kiya amat sangat mengerti pertanyaan alvian, tapi ia tidak mau tahu dan tidak ada urusan lagi dengan alvian,
"tuan tidak punya urusan lagi dengan ku, mau angkat handphone ku atau tidaknya tuan harus mengerti, bukankah setiap pekan tdk ada yg bisa mengusik orang lain tampa ada urusan peribadi,? "
"dan kita tidak ada urusan lagi, dengan alasan apa? mau marah dengan saya tuan? "
alvian mengepalkan tangan nya kuat, ia marah dan kecewa dengan jawaban kiya,
"kalau saya nelpon berarti ada urusan masalah kerjaan" alasan aja, dasar laki laki iblis egois, udah tahu hari libur masih aja nanya masalah kerjaan bilang nelpon hanya mau tanya aku tinggal di mana,
"kalau memang enggak ada yg di butuhkan lagi saya permisi tuan."
__ADS_1
" mau kemana kamu? " saya mau keluar tuan, aku belum menyuruhmu untuk keluar dari ruanganku,"
"sekarang jawab pertanyaan ku tadi, yg mana tuan,
" kenapa diam? "
"maaf tuan alvian, saya tidak mengerti maksud anda, " jawab kiya sambil menunduk hormat.
alvian melangkahkan kakinya mendekat membuat kiya sontak mundur, jantungnya berdebar ada perasaan takut menyelinap di dalam hatinya,
"bukan kah sudah jelas saya bukan siapa siapa lagi itu artinya saya tidak berhak untuk tinggal di sana," jawab kiya tenang.
kiya sudah memantapkan dirinya untuk mengubur masa lalu yang pernah ada antara dirinya dan alvian walaupun di dalam rahimnya tumbuh buah hati mereka, rahang alvian mengeras ia maju dan mengapit dagu azkiya dengan jemari yg kokohnya. di tariknya dagu lancip wanita itu sehingga kiya mendongak kan wajahnya menghadap lelaki yg manik mata coklat itu berhadapan dengan manik mata hitam jernih itu, tidak ada sepatah katapun yg terucap dari mulut masing masing hanya tatapan tajam alvian yg menakutkan dan nafas yang memburu,
__ADS_1
"apa aku pernah bilang karena kamu bukan siapa siapa ku? aku akan menikah tapi bukan berarti aku melepaskan apa yg sudah aku miliki kiya!" ucapnya tegas.
kiya menepis tangan alvian membuat alvian terkejut selama bersama dengan nya dalam setahun belakangan ini, kiya tidak pernah melawan atau membantah apapun ucapan alvian, tpi untuk saat ini sunggu menakjubkan.
"aku tidak akan pernah menjadi simpanan mu tuah alvian yg terhormat, " ucapnya dengan suara yg bergetar menahan sesak di dada, sungguh sakit memang tpi inilah kenyataan nya, sambil menahan air matanya supaya tidak tumpah, ia sangat membenci laki laki ini, ingin rasanya aku mencabik cabik wajahnya yg rasa dirinya tidak bersalah dengan kata katanya itu batin kiya.
" setelah apa yang terjadi dengan mudahnya saya milik tuan,? jangan mimpi tuan! itu tidak akan pernah terjadi
jangan mentang-mentang sayang miskin dan anda kaya raya seenaknya untuk memerintah akan jadi milik mu,? " tuan tak menghargai perasaan saya.
saya hanyalah manusia biasa, hati saya tak seluas samudera, "
air mata yg ia tahan sejak tadi akhirnya menggenang.
__ADS_1
kiya jatuh merosot memikirkan nasibnya yg sangat teragis.
kedua orang tuanya meninggal sejak masih kelas 3 SMP yg sangat tragis juga, akhirnya ia berjuang untuk memenuhi hidupnya dan biaya sekolah nya walaupun ia mendapatkan biasiswa full karena kepintaran yg di atas rata rata, ia hidup bersama neneknya yg sudah tua renta, pagi sekolah siang kerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya dan neneknya.