
Keesokan harinya di dalam kamar Mila
" Loh ko namaku ngga ada di ppdb? Yang di Sma ketiga juga ngga ada? " sontak Mila kaget melihat layar hapenya berisi ppdb tersebut.
Tiba-tiba, Mama Mila menghampiri Mila,
" Kenapa mil? "
" Ma, masa nama Aku ngga ada di ppdb? " kata Mila dengan nada yang sangat kecewa.
Padahal saat smp Mila sangat ingin masuk Sma di jurusan ipa. Tapi saat sudah lulus, Ia mendapatkan nem segitu, lalu ingin masuk Sma yang ia inginkan tidak lolos.
" Ya udah mil, kamu mama masukin di Sma yang lainnya aja ya, yang penting masuk Sma Negeri, " tanya mama.
Aku jawab dengan suara lantang dan mwlihat ke arah muka mama, " Ngga mau! Pokoknya aku ngga mau di Sma itu! "
" Kamu ini gimana sih? Yang penting kan sama-sama Sma Negeri. Masa ngga mau yang di situ sih? "
Mila hanya terdiam saja mendengarkan mamanya berbicara dan tidak lama kemudian ia meninggalkan mamanya di kamar Mila sendirian dan pergi ke dapur
" Huh, ko bisa sih waktu ujian aku belajarnya ngga fokus? Kan jadinya sekarang dapet nem segini."
__ADS_1
Tanpa disadari air matanya menetes membasahi pipi. Mila mengambil segelas air untuk menenangkan pikirannya, tetapi tetap saja tidak bisa berhenti menangis.
" Kenapa sihh dapet nem segitu? Seenggaknya dapet 35! Kan Aku jadi bisa masuk di Sma ipa! "
Mila selalu berusaha untuk tenang, tenang, dan tenang sampai akhirnya berhasil. Ia ke kamar mandi untuk cuci muka dan kembali ke kamarnya.
Saat di dalam kamar tiba-tiba Mama Mila mengatakan "Kamu smk aja deh mil"
Mila sangat kaget saat mendengernya. Dulu Ia sangat anti sekali dengan smk dan tidak pernah bicara mengenai akan masuk di Smk dimana. Entah mengapa ia tidak suka akan pilihan mamanya.
Tapi, dulu saat Mila kelas 7, Ia pernah membayangkan saat sekolah memakai pantofel seperti apa rasanya? karena ia sekolah dari Sd sampai Smp selalu memakai sepatu kets.
Saat kelas 9 pun membayangkan lagi, kalau saat Sma memakai seragam putih abu-abu, rok rempel abu-abu. Aneh atau tidak saat memakai seragam tersebut.
Yaaaa begitulah pemikiran anak Smp yang belum mengerti. Apalagi masih kelas 7, yang masih ada pemikiran anak kecil yang masih nyangkut.
Hanya kesenangan, impian. Tidak memikirkan bagaimana susahnya untuk mengejar impian tersebut, yang penting senang dahulu.
***
Mila yang seharusnya belajar giat dari mulai awal semester 1 kelas 7 sampai kelas 9 semester akhir hingga menuju ujian kelulusan.
__ADS_1
Tetapi di kelas 9 malah ada tingkat belajar yang menurun. Mila sangat bahagia saat di kelas 7 karna mempunyai sahabat dan teman yang menyenangkan dan susah senang bersama.
Lambat laun, saat di kelas 8, ia mulai merasakan hal yang berbeda dari dirinya. Yang semula Ia tidak bisa diam, banyak ngobrol dalam kelas, dan ceria. Kini mulai memudar. Ia mau tidak mau harus bertahan selama 1 tahun karna masih ada kelas 1 tahun lagi di kelas 9.
Saat pengunguman pembagian kelas 9, semua murid di kumpulkan di lapangan. Hanya kelas 7 dan 8 yang pembagian kelasnya di tempel di papan mading.
Sedangkan karna ada kebocoran informasi terkait pembagian di kelas 9, guru dan wakil kurikulum serta kesiswaan melaksanaan rapat dadakan untuk mengatur.
Hasil rapat selesai dan waktunya mengumumkan hasilnya.
Kelas 9-1sudah dibacakan absen 1-36
9-2 sudah dibacakan absen 1-36
dan seterusnya sampai di 9-5 saat di bacakan absen urutan 34, tiba- tiba nama Safana Mila Amelia diucapkan oleh guru yang membacakan hasil tersebut.
Mila sangat kaget dan terburu-buru ke kelasnya untuk mencari tempat duduk. Entah kenapa saat melihat di bangku depan tengah ia melihat 2 tas yang tidak asing.
Tidak lama kemudian, pemilik kedua tas itu menghampiri Mila, " Ehhhh Milaaaa, kita sekelas nihhh? " kata 2 anak perempuan yang ternyata temannya saat di kelas 7 dan 8.
" Wah, iya nihhhh, ngga nyangka banget hehe, " jawab mila dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
" Lu duduk sama gw aja ya mil di depan, " kata Habibah. " Biar Hyuni duduk sama Sabrina. "
" Tcih... terserah kalian berdua aja. Gw mau ke koridor lagi, " Hyuni meninggalkan Habibah dan Mila di dalam kelas.