Anak Yang Dulu Kau Asingkan

Anak Yang Dulu Kau Asingkan
Chapter 1


__ADS_3

..."Terimakasih sudah berkenan mampir 🤗 Jangan lupa sertakan like, komen,  serta subscribe ya guys,  biar gak ketinggalan kelanjutannya.💙 Sarangheo ❤"...


"Nis Bapak lu kemana? Perasaan tiap gue ke rumah lo, atau ada rapat di sekolah gak pernah nongol deh!" tanya Aca pada Rengganis yang sedang asik dengan benda pipih di genggamannya.


Ganis seketika langsung berhenti memainkan ponselnya dan berdiri meninggalkan Aca yang masih menunggu jawaban dari mulutnya.


"Nis?"


"Ganis?"


"RENGGANIS?"


Tanya Aca bertubi-tubi setengah berteriak namun tak di hiraukan Ganis.


"Dasar tuli! Tunggu gue ikut." timpal Aca sambil membuntuti Ganis dari belakang.


"Lo kenapa sih gak mau jawab pertanyaan gue? Gue kan cuma mau tahu kemana Bapak lu Nis," Aca kembali menanyakan hal yang serupa.


Ganis berhenti berjalan dan menatap Aca dengan tatapan yang tidak bisa di tebak namun membuat Aca seketika membungkam mulutnya rapat-rapat.


"Oopst sorry-sorry."


"Nanti ku tanya Ibuku." ucap Ganis datar.


Aca tak lagi memperpanjang persoalan, dan kembali berjalan beriringan dengan Ganis menuju kantin sekolah.


Tepat brberapa minggu lagi, Rengganis akan lulus dari sekolah dan akan melanjutkan kuliah di luar kota. Hari ini kelas 12 sedang melaksanakan Ujian Nasional dan pengumuman akan di sampaikan seminggu setelah ujian.


TET TET TET TET 


Bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari dalam kelas menuju keluar. Tidak seperti yang lain, Ganis memilih untuk memperlambat langkahnya karna sebenarnya banyak sekali hal yang mengganjal di pikirannya.


TAP TAP TAP BUKH.


Punggung Rengganis tersenggol seseorang yang berlari dari arah belakang.


"Sorry-sorry." ucapnya dari belakang.


Rengganis dengan tatapan sinis nya membalikkan badan dan menatap tajam pada sosok di belakangnya.


BUGH..


Pukulan keras mendarat di pipi Rangga.


"AWW.." pekik Rangga.


"Kenapa selalu kau? Apa sekolah ini sangat sempit? Aku hampir tidak bisa bernafas kalau kau selalu saja muncul di dekatku!" celoteh Ganis merasa kesal.


Rangga memegang pipi nya dan tersenyum nyinyir. Matanya menatap Ganis yang sedang menunjukan mata yang berapi-api, namun melihat kesedihan di dalamnya.


"Apa jangan-jangan kita berjodoh?" cetus Rangga membuat Ganis tersedak salivanya sendiri.


"Ohok-ohok, apa maksudmu?" tanya Ganis sambil menekan tenggorokannya yang sakit.


Rangga tak menjawab pertanyaan Ganis dan memilih pergi menyusul teman-temannya.


"Astga, bocah tengil ini?" Ganis kembali mengoceh seperti burung ababil.



TIN TIN TIN..


Suara klakson berbunyi menyambut kemunculan Ganis yang keluar dari gerbang sekolah. 


Ganis melihat ke arah klakson berbunyi dengan malas. Mata nya mendelik dan masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang campur aduk.


"Ibu tidak mengantarmu sampai rumah ya?!" cetus Riska Ibu Ganis.


Ganis menutup matanya kesal, dan memijat pangkal hidungnya.


"Ayah kemana Bu?" 


CEKIIIIIIITTT..


Mobil mengerem mendadak.


TID TID TIIIID..

__ADS_1


Suara klakson bersahutan di belakang mobil yang di tumpangi Ganis.


Riska kembali melajukan mobilnya dan mencari tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya sementara.


"Kenapa kamu menanyakan Ayahmu?"


"Apa salahnya aku nanyain keberadaannya?"


"Sudah Ibu katakan, kamu itu anak Ibu. Tidak ada ayah ataupun siapapun."


"Lalu siapa Bagaskara yang ada di setiap dokumen ku? Apa dia hanya sebuah nama yang tak memiliki arti?"


"Ganis!" sentak Riska.


"Apa aku anak haram?" cetus Ganis mentapa Ibunya sambil berkaca-kaca.


"RENGGANIS!" 


Rengganis keluar dari dalam mobil meninggalkan Ibu nya.


"Rengganis? Mau kemana kamu? Dengar Ibu dulu nak. Ibu tidak bermaksud membentak kamu."


"Ibu kan tidak mengantarku sampai rumah, biar aku naik taxi aja." ucapnya tak meninggikan suara.


"Maafkan Ibu nak,"


Ganis melihat Ibunya dan tersenyum. Ganis tak pernah bisa marah pada Ibu nya meski hari ini ia sudah di bentak. Karna ia sadar selama ini Ibu nya selalu baik dan tak pernah berani, membentak, memarahi apalagi memukul.


Hanya satu yang bisa membuat Ibu marah, yaitu di saat aku selalu bertanya mengenai siapa Ayah dan dimana keberadaannya.


"Maafkan Ibu nak, Ibu tidak bermaksud membentak mu. Ibu hanya, Ibu hanya," Riska menangis dan memotong perkataannya tak bisa melanjutkan.


Ganis berjalan dan tak berniat menaiki taksi. Waktu sudah semakin sore, dan Ganis terlarut dalam perasaannya.


Rangga berjalan menuruni tangga dan berniat membuang sampah. Namun matanya tertuju pada seseorang yang sedang berjalan memainkan botol plastik dan menendangnya sampai hampir mengenai Rangga.


PUSH DUAAAR.. 


SET.. Rangga menangkap botol dengan tangannya. Rangga memiliki ide dan berniat membohongi Ganis untuk mencuri perhatiannya.


"Aww.." teriak Rangga sambil memegang dahi dan botol di tangannya. "Siapa yang melempar sampah sembarangan ini?" ucap Rangga menaikan nada suaranya.


"Maaf-maaf Kak, aku gak sengaja maaf-maaf." ucap Ganis memohon dengan kedua telapak tangannya meminta maaf.


Rangga tersenyum bangga namun kembali meneruskan sandiwaranya.


"Lain kali kalau buang sampah yang bener." ucap Rangga mengangkat wajahnya.


Dan sontak Ganis terkejut saat melihat luka memar di pipi Rangga. Bukannya marah-marah seperti di sekolah tadi, Ganis malah bersimpati.


"Astga, kenapa bisa sampai seperti ini? Aku minta maaf, serius aku benar-benar tidak sengaja." 


Rangga terdiam sejenak, merasa aneh dengan sifat Ganis.


"Lu gak marah-marah lagi Nis?" tanya Rangga heran.


"Kamu tinggal disini?" tanya Ganis tak menggubris pertanyaan Rangga.


"Iya emang kenapa? Lu mau ngejek gue karna tinggal di kost an? Tenang bokap gue konglomerat."


Ganis menarik Rangga untuk naik ke dalam kost an Rangga. Rangga melongo dan menurut saja saat tangannya di pegang oleh Ganis. 


Ada rasa aneh yang muncul dalam hati Rangga. Rangga di dudukan di atas sofa kecil tempatnya bersantai dan Gamis dengan cekatannya mencari barang yang ia butuhkan.


Ganis mengambil kain kecil dari dalam lemari dan es balok kecil dari dalam frizzer.


Rangga melongo saat Ganis dengan santainya berjalan mengambil sesuatu di daerah kekuasaannya. 


"Kok dia bisa tahu?" 


Ganis duduk di samping Rangga dan mengompres pipi Rangga yang memar. Rangga terkejut, 


"Aww," pekiknya. "Kenapa dia ngompres pipi gue? Yang tadi gue pura-pura kan kening." batin Rangga.


"Kok bisa sampe memar ya? Padahal kan tadi hanya pake botol plastik. Lemah!" ucap Ganis menyindir Rangga.


"Aish bocah ini!" Rangga tak terima. "Apa gue perlu balas memukul lh supaya tak di katakan lemah?"

__ADS_1


"Kenapa harus memukul? Aku juga tidak sengaja tadi."


"Lu bilang tidak sengaja? Elu mukul gue tadi di sekolah! Ingat gak lu?"


"Hah?! Jadi pipi kamu? Bukan karna botol plastik tadi?" Ganis merasa bersalah. "Apa pukulanku tadi sekencang itu ya?" ucapnya sambil melihat kepalan tangannya.


Ganis kembali mengompres pipi Rangga. "Sorry ya aku pikir gak bakalan kaya gini." ucap Ganis sambil melihat pipi Rangga.


Rangga merasakan kembali perasaan yang aneh, jantungnya berdegup kencang seperti telah berlari jauh. 


"Sudah, tidak usah so peduli. Lagian gue bukan cowok lemah." ucap Rangga mendelikkan matanya menyindir.


Ganis menutup mulutnya dan tersenyum. "Ihik, jangan marah aku hanya bercanda tadi."


"Sudah sore, emak-emak gak boleh pulang malam-malam. Nanti di sangka keluyuran." canda Rangga.


"Apa kamu bilang emak-emak?" Ganis tak terima.


"Iya emak-emak!" Rangga seolah siap kebali bergelut.


Ganis mendekatkan wajahnya pada Rangga. "Coba kou teliti dengan cermat, dimana letak ke emak-emak an ku?"


Rangga semakin tak karuan, dia mendorong Gamis dan keluar duluan menuju pintu keluar.


"Cepat pulang, nanti bisa-bisa jadi fitnah lagi. Ogah banget gue di fitnah sama lu."


Ganis dengan cepat keluar dan menuruni tangga dengan kasar. Ia berjalan namun berhenti dan menatap Rangga penuh amarah.


"Awas saja kalau kau suka padaku, akan aku bakar rumahmu!" ancam Ganis.


Rangga menelan salivanya merasa tercengang. "Gila, sadis banget nih cewek." batin Rangga.


Ganis berjalan meninggalkan Rangga yang masih mematung. 


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore namun tak ada satupun taksi yang lewat, battrey handphone lobet dan terpaksa harus menunggu lebih lama sambil berjalan.


"Jam segini orang lagi pada istirahat,"


"Gak bakalan ada taksi lewat."


Ucap seseorang dari samping yang tak lagi asing suaranya.


"Kamu ngikutin aku?" 


"Gak usah pede lu, gue hanya lewat mau nyari makanan. Dan kebetulan sekali ada orang gila lagi jalan nyari tumpangan."


"****, gila juga ternyata."


"Mau naik gak? Kalau enggak gue tinggal."


Ganis masih mempertahankan gengsinya namun diam-diam otak nya berfikir.


"Gak usah kebanyakan mikir, cacing di perut lu udah pada berontak. Cepet naik."


Ganis akhirnya naik, meskipun sebenarnya ia merasa malu karna ternyata suara perut keroncongannya sangat terdengar jelas oleh Rangga.


"Kiri atau kanan?" tanya Rangga.


"Kiri."


"Oke!"


Rangga melajukan mobilnya ke arah kiri. Dipersimpangan jalan kembali ada belokan.


"Kiri atau kanan?"


"Lurus!"


Rangga pun menuruti ucapan Ganis yang ternyata menuju warung makan lesehan.


"Kok kesini? Orang tua lu pemilik tempat ini?"


Ganis menggeleng.


"Ooh gue tahu, pasti orangtua elu kerja disini kan?"


"Bukaaaaan,"

__ADS_1


"Terus apaan dooong?"


"GUE LAPER! PUAS LU!"


__ADS_2